Kiai Sholeh Yang Mengajarkan Kartini Mengaji, Mengusulkan Tafsir Al-Quran Dalam Bahasa Jawa
Bernama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat, merupakan lahir dari keluarga bangsawan.
BABELNEWS.ID-- Setiap tahun diperingati Hari Kartini, tepatnya 21 April.
Bernama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat, merupakan lahir dari keluarga bangsawan.
Yang diketahui Kartini merupakan sosok penggerak pejuang emansipasi wanita dengan bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang.
Namun ada sisi lain dari Raden Ajeng Kartini, yang tidak diketahui orang banyak.
Kartini kecil pada saat usia 13 tahun diajarkan mengaji oleh seorang Kiai asal Semarang.
Adalah Kiai Sholeh Darat mengajarkan Kartini kecil mengaji Alquran sambil memberikan tafsir dalam bahasa Jawa.
Tak disangka dengan diajarkan tafsir dalam bahasa Jawa, Kartini ingin 30 juz itu ditafsirkan semua ke dalam bahasa Jawa.
Seperti tertulis dalam salah satu suratnya, Kartini pernah "mengeluhkan" tentang suatu pembelajaran, di mana ia diajari Al Quran tetapi hanya disuruh membaca tanpa tahu isi kandungannya.
Hal itu dituturkan oleh Kyai Achmad Chalwani dalam video yang dimuat NU Online di akun instagram.
Kyai Achmad Chalwani merupakan pendiri STAI An Nawawi di Purworejo.
Dalam video tersebut, Kyai Achmad mengatakan betapa cerdasnya Kartini kecil saat itu karena meminta Kiai Sholeh menafsirkan Alquran dalam bahasa Jawa.
Kiai Sholeh Darat - yang juga merupakan guru KH Hasyim Asyari ini - membuat RA Kartini terpesona.
Beliau menjelaskan isi kandungan Al Quran yang belum ia ketahui sebelumnya.
Lalu, Kartini mengusulkan untuk menafsiri kitab suci umat Islam ini ke dalam bahasa Jawa.
Pernah ada dialog antara kita Kartini dengan Kiai Sholeh, waktu diajarkan tafsir bahasa jawa.
Kartini punya usul kepada Kiai Sholeh
"Kiai saya tadi diajarkan tafsir Alquran memakai bahasa Jawa hati saya tentram, tolong Kiai tafsirkan Alquran seluruhnya ke dalam bahasa Jawa agar untuk pegangan teman-teman saya Putri Putri Jawa."
Kenapa waktu itu Kartini tidak mengatakan Putri Indonesia karena zaman Kartini nama Indonesia belum lahir.
Kiai Sholeh mengatakan bahwa untuk menafsirkan Alquran itu tidak mudah dan tidak semua orang diperbolehkan menafsirkan Alquran
Orang yang boleh menafsirkan Alquran dengan syarat harus punya ilmu bantu tafsir yang lengkap dari gramatika Arab, nahwu, shorof, ilmu badi, maani, bayan, muhasnatil kalam, nasikh mansukh, asbabul wurud, asbabun nuzul, dan lain sebagainya baru diperbolehkan menafsirkan Alquran.
Tidak mudah menafsirkan Alquran.
Lalu kata Kartini, "Kiai saya punya usul untuk Kiai soal menafsirkan Alquran memakai bahasa Jawa karena saya yakin semua ilmu sudah kyai miliki."
Kyai Saleh pun menangis mendengarkan ucapan Kartini sambil menundukkan kepala.
Ada anak kecil yang begitu cerdasnya mengusulkan membuat tafsir Alquran.
Lalu pada suatu saat Kartini pun dipanggil dan Kiai sholeh mengatakan "doakan saja ya mudah-mudahan saya bisa menahan nafsiri Alquran 30 juz. "
Lalu dimulailah penafsiran Alquran ke dalam bahasa Jawa dan baru selesai 13 juz dicetak yang pertama di Singapura dengan judul Faidir Rohman fii Tafsiri Ayatil Quran karya Kiai Sholeh usul RA Kartini.
Litbang Kementerian Agama menyatakan tafsir faidur Rohman adalah tafsir pertama di Asia tenggara.
"Maka saya minta ibu ibu kalau hari Kartini jangan hanya ke salon kecantikan saja contohlah Kartini dalam membaca Alquran," tutur Kyai Achmad Chalwani
"Sayangnya sejarah Kartini mengaji Alquran pun tidak pernah diceritakan di bangku sekolah yang diterangkan hanya Habis Gelap Terbitlah Terang," pungkas Kiai Achmad.
Dengan kisah ini maka wajarlah jika di dalam lagu gubahan WR Supratman, RA Kartini disebut sebagai"pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka."
Di usia yang masih sangat muda - mengusulkan kepada KH Sholeh Darat untuk menafsiri Al-Quran, agar "kaumnya, putri-putri Jawa" bisa memahami isi kandungannya.
Siapa Kiai Sholeh Darat?
Mungkin tidak banyak yang kenal nama Muhammad Sholeh bin Umar Al Samarani.
Padahal, ketiga tokoh di atas mendapat pengaruh sangat besar dari ulama yang lebih dikenal dengan nama Kiai Sholeh Darat.
Kiai Sholeh Darat merupakan putra Kiai Umar, seorang ulama sekaligus pejuang dan tangan kanan Pangeran Diponegoro. Ia lahir di Desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Jepara, Jawa Tengah pada 1820.
Kata 'Darat' yang tersemat di namanya menunjukkan tempat tinggalnya yaitu di daerah Darat yang terletak di utara Semarang.
Daerah ini dekat dengan laut dan menjadi tempat mendaratnya orang-orang dari luar Jawa.
Ilmu tentang agama didapat Kiai Sholeh pertama kali dari ayahnya.
Ia lalu merantau ke sejumlah tempat di Nusantara untuk menimba ilmu.
Beberapa ulama yang tercatat pernah mengajar Kiai Sholeh antara lain KH Syahid Waturoyo, KH Muhammad Saleh Asnawi Kudus, KH Haji Ishaq Damaran, KH Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni, KH Ahmad Bafaqih Ba'alawi, dan KH Abdul Ghani Bima.
Kiai Sholeh juga menimba ilmu ke Mekah di Hijaz, kini Arab Saudi.
Di sana, ia berguru kepada sejumlah ulama seperti Syeikh Muhammad Al Muqri, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah Al Makki, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Ahmad Nahrowi, Sayid Muhammad Saleh bin Sayid Abdur Rahman Az Zawawi, Syeikh Zahid, Syeikh Umar Asy Syami, Syeikh Yusuf Al Mishri.
Setelah beberapa tahun belajar, Kiai Sholeh menjadi salah satu pengajar di Mekah. Muridnya berasal dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Jawa dan Melayu.
Beberapa tahun mengajar, Kiai Sholeh memutuskan kembali ke Semarang dan mengajarkan pengetahuannya kepada umat Islam di tempat tinggal asalnya. Kiai Sholeh pun mendirikan pusat kajian Islam berupa langgar atau mushola, yang kemudian berkembang menjadi pesantren kecil.
Banyak calon ulama yang tinggal di Pesantren Kiai Sholeh Darat dan menimba ilmu di sana.
Sebagian dari mereka kemudian menjadi tokoh-tokoh terkenal seperti Syeikh Mahfudz At Turmusi, KH Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahlan, dan RA Kartini.
Kiai Sholeh juga melahirkan banyak karya dalam ilmu agama Islam. Di antaranya, Majmu'ah Asy Syari'ah Al Kafiyah li Al Awam, Batha'if At Thaharah, serta kitab Faidhir Rahman.
Kitab Faidhir Rahman merupakan tafsir Alquran yang ditulis Kiai Sholeh menggunakan aksara Arab pegon. Aksara ini menggunakan huruf-huruf Arab, namun bahasa yang dipakai adalah Jawa.
Kitab ini disusun Kiai Sholeh atas permintaan dari RA Kartini yang ingin memahami makna Alquran sehingga tidak hanya sekadar membacanya.
Sejarah RA Kartini
Kartini lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan oleh sebab itu ia memperoleh gelar R.A (Raden Ajeng) di depan namanya, gelar itu sendiri (Raden Ajeng) dipergunakan oleh Kartini sebelum ia menikah, jika sudah menikah maka gelar kebangsawanan yang dipergunakan adalah R.A (Raden Ayu) menurut tradisi Jawa.
Ayahnya bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai bupati jepara, beliau ini merupakan kakek dari R.A Kartini.
Ayahnya R.M. Sosroningrat merupakan orang yang terpandang sebab posisinya kala itu sebagai bupati Jepara kala Kartini dilahirkan.
R.A Kartini sendiri memiliki saudara berjumlah 11 orang yang terdiri dari saudara kandung dan saudara tiri.
Beliau sendiri merupakan anak kelima, namun ia merupakan anak perempuan tertua dari 11 bersaudara. Sebagai seorang bangsawan, R.A Kartini juga berhak memperoleh pendidikan.
Ayahnya kemudian menyekolahkan Kartini kecil di ELS (Europese Lagere School). Disinilah Kartini kemudian belajar Bahasa Belanda dan bersekolah disana hingga ia berusia 12 tahun sebab ketika itu menurut kebiasaan ketika itu, anak perempuan harus tinggal dirumah untuk ‘dipingit’.
Hingga pada akhirnya, ia tidak dapat melanjutanya cita-citanya baik belajar menjadi guru di Batavia atau pun kuliah di negeri Belanda meskipun ketika itu ia menerima beasiswa untuk belajar kesana sebab pada tahun 1903 pada saat R.A Kartini berusia sekitar 24 tahun, ia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri
Dari pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, R.A Kartini kemudian melahirkan anak bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904.
Namun miris, beberapa hari kemudian setelah melahirkan anaknya yang pertama, R.A Kartini kemudian wafat pada tanggal 17 September 1904 di usianya yang masih sangat muda yaitu 24 tahun.
Beliau kemudian dikebumikan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang.
Berkat perjuangannya kemudian pada tahun 1912, berdirilah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang kemudian meluas ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon serta daerah lainnya. Sekolah tersebut kemudian diberi nama “Sekolah Kartini” untuk menghormati jasa-jasanya. Yayasan Kartini ini keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis di era kolonial Belanda.
Seperti diketahui sebelum wafat R.A Kartini mempunyai seorang anak bernama R.M Soesalit Djojoadhiningrat hasil pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.
Anak Kartini yakni Soesalit Djojoadhiningrat sempat menjabat sebagai Mayor Jenderal pada masa kependudukan Jepang.
Ia kemudian mempunyai anak bernama RM. Boedi Setiyo Soesalit (cucu R.A Kartini) yang kemudian menikah dengan seorang wanita bernama Ray. Sri Biatini Boedi Setio Soesalit.
Dari hasil pernikahannya tersebut, beliau mempunyai lima orang anak bernama (Cicit R.A Kartini) yang masing-masing bernama RA. Kartini Setiawati Soesalit, kemudian RM. Kartono Boediman Soesalit, RA Roekmini Soesalit, RM. Samingoen Bawadiman Soesalit, dan RM. Rahmat Harjanto Soesalit.(*)
Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul Sisi Lain RA Kartini yang Tidak Diketahui Banyak Orang Saat Berguru dengan Kiai Sholeh Darat,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/babel/foto/bank/originals/kartini-kecil-yang-cerdas-belajar-mengaji-dengan-kiai-sholeh-darat.jpg)