Breaking News:

Kapan Belajar Tatap Muka Siswa SD SMP Pangkalpinang Dimulai? Ini Jawaban Kadindik dan Tanggapan Ortu

Belum ada kepastian kapan belajar tatap muka di Pangkalpinang benar-benar bisa dilaksanakan. Pendapat orangtua terbelah, bagaimana menurut Anda?

Editor: Dedy Qurniawan
Tribunnews/Jeprima
ILUSTRASI BELAJAR TATAP MUKA - Sejumlah murid saat menjalani uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) tahap dua di SDN Malaka Sari 13 Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (9/6/2021). Dinas Pendidikan DKI Jakarta menggelar uji coba pembelajaran tatap muka tahap 2 yang diikuti 226 sekolah salah satunya SDN Malakasari 13. Siswa yang ikut belajar tatap muka yang digelar pada pukul 07.00-09.00 WIB hanya 50% dari kapasitas. 

Padahal setelah beberapa minggu lalu sekolah melakukan PTM terbatas dirinya merasa lega, meskipun harus membayar uang bulanan sekolah hal itu menurutnya seimbang karena dirinya tak harus lagi mengeluarkan uang untuk membeli kuota.

"Bingung lah, kadang saja sampai saya marahi anak saya karena nggak pernah dengar kalau dikasih tau. Apalagi guru cuma beri tugas saja lewat WhatsApp grup lalu kirim link video YouTube untuk contohnya," keluh Desti.

"Anak saya ini sekolah di SD swasta, jadi sekolah online tapi uang SPP juga tetap jalan. Belum lagi uang untuk beli kuota," tambahnya.

Oleh sebab itu ia berharap, guru tidak hanya sekadar memberikan tugas saja.

Para guru juga harus membuatkan video pembelajaran yang mudah dipahami para siswa.

Karena menurutnya tak semua siswa dapat langsung mengerti belajar melalui YouTube apalagi saat mata pelajaran matematika.

"Kalau bisa gurunya yang buat video, direkam sendiri lalu dibagikan ke grup. Kalau video dari YouTube tidak semua anak itu ngerti, karena beda orang yang menjelaskan itu beda pemahaman bagi anak-anak. Kalau gurunya sendiri kan mereka lebih percaya," pungkasnya.

Hal serupa juga dikatakan Indah (32), warga Kelurahan Sinar Bulan, Bukit Intan. Ibu tiga orang anak yang dua orang anaknya duduk di jenjang SD dan satu orang jenjang SMP.

Ia merasa bingung karena harus membagi waktu untuk mengajarkan tugas yang diberikan guru kepada anak-anaknya, belum lagi dirinya yang berprofesi sebagai aparatur sipil negara (ASN).

"Bingun ini, anak tiga sekolah semua. Belum lagi tugas jam 11.00 WIB harus sudah dikirim Bingung bagi waktunya. Apalagi yang satu masih baru masuk SMP," terang Indah.

Dia mengatakan, selama PPKM diperpanjang dan anak sekolah kembali belajar daring Indah mengaku khawatir, karena takut tak bisa menjadi guru privat di rumah bagi anak-anaknya.

Namun beruntungnya, selama PPKM Indah juga bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sehingga dia bisa menemani anak-anaknya belajar.

"Kalau anak yang SMP saja yang saya kasih handphone. Untuk yang SD tetap di handphone saya, karena saya takut mereka malah main game bukan mengerjakan tugas," ungkapnya.

Meskipun begitu, ia mengaku pembelajaran secara online yang saat ini dilakukan tak begitu efektif jika terus dilakukan kedepannya.

Ia menyarankan setelah PPKM tak lagi diperpanjang sekolah dapat kembali melakukan PTM terbatas.

"Mudah-mudahan setelah tanggal 9 Agustus ini tidak diperpanjang dan anak-anak bisa sekolah lagi karena belajar daring tidak efektif. Padahal kemarin saat sempat PTM terbatas saya merasa nyaman karena anak-anak bisa sekolah lagi," tukas Indah. 

Berbeda dengan Desti dan Indah, Dedi (30) warga Temberan, Bukit Intan merasa beruntung saat ini anaknya yang duduk di kelas IV kembali belajar daring.

Ia merasa khawatir jika anaknya kembali belajar intens di sekolah disaat angka kasus terpapar Covid-19 di Pangkalpinang dalam sehari bertambah hingga ratusan orang.

"Saat ini ngeri juga kalo anak-anak sekolah lagi, apalagi PPKM level III di Pangkalpinang. Kasus konfirmasi harian juga tinggi, ya beruntung kembali daring walaupun sedikit memberatkan," ungkap Dedi.

Berangkat dari kondisi tersebut, Dedi mendorong pemerintah untuk berhati-hati dalam membuka sekolah kedepannya apabila kasus Covid-19 tetap masih tinggi.

Apalagi, sebut dia, anak-anak usia sekolah masih rentan akan terpapar Covid-19 dan belum mengerti untuk menerapkan protokol kesehatan.

"Kalau kasus masih tinggi lebih baik PTM terbatas seperti kemarin, walaupun hanya dua kali ke sekolah. Anak-anak juga bakal bosan kalau di rumah terus. Dunia anak itu masih dunia bermain," bebernya.

(bangkapos.com / Cepi Marlianto)

Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved