Tubuh Hakim Akhirnya Ditemukan, Sila Lihat Suaminya Minta Tolong Saat Ditarik Buaya ke Tengah Laut

Tubuh Hakim Akhirnya Ditemukan, Sila Lihat Suaminya Minta Tolong Saat Ditarik Buaya ke Tengah Laut

Editor: Teddy Malaka
Ist/Polsek Simpang Rimba
Proses pencarian terhadap Hakim (52), warga Desa Permis yang diterkam buaya di peraian Desa Sebagin, Senin (13/9/2021) 

Sudah 73 Kasus Konflik Manusia dengan Buaya di Babel

Dikutip dari situs mongabay.co.id, berdasarkan data BKSDA Sumatera Selatan Wilayah Bangka Belitung, angka konflik buaya dengan manusia di Bangka Belitung dari 2016 hingga 24 Agustus 2020 saja mencapai 72 kasus.

Sebanyak 13 orang meninggal dunia.

“Saya menduga aktivitas tambang timah mejadi penyumbang terbesar kerusakan sungai, tetapi perlu dibuktikan kajian lebih lanjut. Hal inilah yang kemudian menjadi penyebab, antara manusia dan buaya tidak ada lagi jarak, karena habitat dirusak, buaya akan mencari tempat yang masih baik, yang kemudian bisa menyebabkan konflik,” kata Septian Wiguna, Kepala Resort Konserasi Wilayah Bangka, BKSDA Sumatera Selatan.

Hingga saat ini, belum ada angka pasti terkait jumlah populasi buaya muara di Pulau Bangka.

Tetapi, data BKSDA Sumsel Wilayah Bangka menyatakan ada 24 kantong habitat yang tersebar di tiga kabupaten, yakni di Kabupaten Bangka, Bangka Tengah, dan Bangka Selatan.

“Penelitian terkait populasi buaya di Pulau Bangka menjadi sangat penting, dan kami terbuka akan hal ini. Jika populasi dapat dihitung, akan diketahui apakah jumlah buaya sudah berlebihan atau justru terancam,” papar Septian.

Terkait konflik, BKSDA sedang menyusun konsep surat edaran kepada kepala desa yang wilayahnya terindikasi dekat habitat buaya. Isinya beupa imbauan, contact center, dan langkah yang harus ditempuh bila terjadi berkonflik.

“BKSDA Sumsel Wilayah Bangka bersama Alobi, Dinas Kehutanan, dan PT. Timah juga sedang mengupayakan penangkaran buaya untuk solusi jangka panjangnya,” terangnya.

Langka Sani, Ketua Yayasan Konservasi Pusat Penyelamatan Satwa [PPS] Alobi Foundation Bangka Belitung, dalam diskusi terkait konflik buaya di Pulau Bangka yang diadakan welum lama ini menyatakan, setiap kali melakukan evakuasi buaya di lokasi dipastikan terdapat aktivitas penambangan timah yang masih aktif.

“Selain alih fungsi lahan yang menjadi perkebunan skala besar di hulu sungai, musim kawin pada bulan Agustus juga menjadikan buaya lebih agresif,” katanya.

Musim Kawin

Ketua Yayasan Konservasi Pusat Penyelamatan Satwa Alobi Foundation Bangka Belitung, Langka Sani mengimbau masyarakat untuk waspada, sebab kemunculan buaya ini bukan kali pertama pada bulan September ini saja misalnya.

Sudah terhitung ada sekitar lima ekor buaya yang diserahkan ke Alobi Babel dari hasil tangkapan warga di daerah kabupaten Bangka dan Bangka Tengah.

Halaman
1234
Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved