Kabar Belitung
Anak Putus Sekolah Tergiur Tambang
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Belitung mencatat selama 2021 terdapat puluhan siswa jenjang pendidikan SD dan SMP putus sekolah
TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Belitung mencatat selama 2021 terdapat puluhan siswa jenjang pendidikan SD dan SMP putus sekolah. Tepatnya ada 37 siswa SD yaang terdiri dari 27 laki-laki dan 10 perempuan, serta 28 siswa SMP terdiri dari 19 laki-laki dan 9 perempuan tak menyelesaikan pendidikannya.
Sedangkan terdapat 115 siswa SMA/SMK di Belitung yang putus sekolah. Jumlah tersebut terdiri dari 58 laki-laki dan 57 perempuan.
"Kami tidak bisa mengatakan ini termasuk kategori rendah, sedang atau tinggi. Namun ketika ini masih terjadi, tentu harus menjadi perhatian bersama," kata Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung Tomy Wardiansyah, Rabu (23/3).
Meski belum ada penelitian secara langsung, menurutnya ada dua faktor penyebab terjadinya angka putus sekolah. Di antaranya berkaitan terjadinya pandemi hingga faktor ekonomi ketika anak usia sekolah sudah menghasilkan uang dan tergiur bekerja di sektor tambang.
Di samping itu, dalam menekan angka putus sekolah, lanjut Tomy, pihaknya kerap menyampaikan kepada pihak sekolah terutama guru dan kepala sekolah untuk melakukan pendekatan kepada siswa.
Ia juga mengimbau orang tua dan masyarakat agar tetap memotivasi anak untuk melanjutkan sekolah agar jangan sampai putus sampai di jalan.
Sementara itu Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Bangka Belitung mencatat selama 2021 terdapat 115 siswa SMA/SMK di Belitung yang putus sekolah.
"Cuma untuk detail penyebab kami kurang paham. Detail kenapa putus sekolah atau berkasus. Dari kami yang jelas kami berupaya menghindari agar tidak terjadi hal seperti itu dengan mengoptimalkan PTM terjadi terus," kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Bangka Belitung Adi Zahriadi.
Disinggung penyebab angka putus sekolah akibat terjadinya pandemi, Adi menjelaskan meski kasus Covid-19 masih terus terjadi, sampai sekarang pembelajaran tatap muka (PTM) terus diselenggarakan mulai Januari sampai sekarang juga terus berlangsung normal.
Saat ini sistem pembelajaran di sekolah yang siswanya terpapar Covid-19 diberlakukan kasus per kasus berdasarkan hasil tracking.
"Angka putus sekolah tadi kami punya datanya tapi penyebabnya secara jelas di sekolah masing-masing, kami tidak menyerap informasi," lanjut dia.
Sebagai bagian intervensi dalam mencegah putus sekolah, pemerintah daerah melalui dinas tersebut masih mengadakan program Simpor atau sistem informasi manajemen pendidikan dan olahraga.
Melalui program tersebut, siswa SD dan SMP mendapat bantuan biaya pendidikan untuk membeli kebutuhan sekolah.
Pada 2021, Dindikbud Kabupaten Belitung menyalurkan Rp500 juta untuk program Simpor terdiri dari 315 siswa SMP dan 685 siswa SD yang masing-masingnya mendapat Rp500 ribu.
Program tersebut masih dianggarkan untuk 2022 yang di antaranya dianggarkan untuk 420 siswa SD.
Hal tersebut harus menjadi perhatian di samping fokus menyelenggarakan proses pembelajaran.
"Mudah-mudahan ke depan bisa zero dengan intervensi program, ke depan akan dicarikan program yang lebih solutif sehingga bisa menekan seminimal mungkin. Apalagi (angka putus sekolah) ini menjadi indikator kinerja utama yang menjadi perjanjian kerja kepala dinas dan Bupati terkait capaian yang harus dicapai dalam urusan pendidikan," jelasnya. (del)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/babel/foto/bank/originals/Sekretaris-Dinas-Pendidikan-dan-Kebudayaan-Kabupaten-Belitung-Tomy-Wardiansyah.jpg)