Berita Kabupaten Bangka Selatan

Petani Rias Ngeluh Sulit Jual Beras, Pemkab Basel Minta ASN Gunakan Produk Lokal

Fahrodi, petani Desa Rias, Toboali, Bangka Selatan, hanya bisa mengeluh, usai hasil panen padinya yang sudah berbentuk beras, sulit dijual di pasaran.

TOBOALI, BABEL NEWS - Fahrodi, petani Desa Rias, Toboali, Bangka Selatan, hanya bisa mengeluh, usai hasil panen padinya yang sudah berbentuk beras, sulit dijual di pasaran. Diakuinya, sudah hampir satu bulan terakhir, beras hasil panennya tersebut sulit dipasarkan.

"Kami sebagai petani sangat mengeluh, bagaimana mau menanam padi lagi kalau susah jualnya, dan mau menanam lagi uangnya belum dibayar," kata Fahrodi, saat ditemui di kediamannya, Sabtu (18/6).

Selain susah menjual hasil panen, para petani padi juga mengeluhkan harga jual padi yang turun drastis, serta harga pupuk yang semakin mahal. "Kalau kurang lebih satu bulan harga beli padi turun, biasanya per kilogram Rp5.000, tapi turun menjadi Rp4.500 per kilogramnya. Ditambah lagi sekarang harga pupuknya melambung tinggi," jelasnya.

Pihaknya menduga, sulitnya memasarkan hasil panen ini, karena masuknya beras dari Lampung. "Sudah keliling kami jualnya, tapi masih tetap susah, apalagi masuknya beras dari Luar Bangka mereka menyuplai beras dengan cara diutangkan dulu bila berasnya habis baru dibayar. Jika kami mau sistem seperti itu, bagaimana kami mau menanam padi lagi setelah panen," ucapnya.

Iman, Distributor beras Basel, membenarkan kondisi ini. "Saya sudah keliling untuk memasarkan beras hasil petani Basel, bukan hanya di sini saja tapi seluruh Babel. Memang masih ada kendala karena dalam pemasaran banyak saingan dengan beras dari luar," ucap Iman, Senin (20/6).

Ia mencontohkan, sudah mengirim beras sebanyak sekitar 1,5 ton, beberapa waktu lalu. "Kemarin saya anter ke Kota Pangkalpinang kurang lebih 1,5 ton, tapi hampir satu bulan ini kurang diminati pembeli, katanya berasnya pecah dan mereka kurang mintat," ungkapnya.

Padahal diakuinya, beras yang dijual murah dan mutunya tidak kalah saing dengan beras dari luar Pulau Bangka. "Memang kemarin saat panen karena stok banyak mesin sedikit membuat mesin rusak. Jadi kendala kami sekarang ini pada mesin yang masih kekurangan, apalagi di musim panen para petani padi," tambah Iman.

Iman menuturkan, penurunan harga bukan pada beras. Namun, harga padi kering dan basah dari para petani. "Tahun kemarin saya beli beras para petani bisa mencapai Rp9.000 per kilogram, itupun karena ada proyek, tapi kalau sekarang hanya bisa beli Rp8.500 per kilogramnya khusus beras putih. Sedangkan untuk padi pascapanen sekarang hanya mampu membeli Rp5.000, yang sebelumnya Rp5.500, karena padi kita ini terlambat panen dan sudah terlalu tua," tuturnya.

Kerahkan ASN
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan juga berupaya membantu para petani padi di wilayahnya, dengan meminta para ASN mengomsumsi beras lokal. "Maka kita sudah melakukan intervensi di kalangan ASN untuk membeli beras para petani itu dengan harga yang sesuai. Nanti lambat laun stok beras melimpah ini akan kita jaga juga, karenakan hukum bisnis," jelas Sekda Basel, Eddy Supriyadi, Selasa (21/6).

Diakuinya, Pemkab Basel terus melakukan upaya-upaya untuk membantu mendistribusikan beras di pasaran khususnya luar Basel. "Kami sudah melakukan pemasaran dengan memberikan informasi kepada kabupaten tetangga, untuk membeli beras petani Basel sehingga dapat membantu para petani khususnya di Basel," tegas Eddy.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disperindagkop Basel, Toni Pratama juga mengakui, sudah melakukan pemasaran beras para petani Basel di lingkungan ASN Pemkab Basel. "Ya kami sudah ada surat edaran dari Pak Bupati supaya semua ASN itu untuk mengonsumsi beras lokal, sudah hampir lebih dua bulan sudah berjalan," kata Toni. (v1)

NEWS ANALYSIS
Devi Valeriani, Dosen Fakultas Ekonomi UBB

Strategi Pemasaran
ADA beberapa faktor yang menjadi penyebab mengapa masyarakat Babel tidak mengonsumsi beras hasil produksi daerah sendiri. Di antaranya, terkait dengan strategi pemasaran.

Para petani beras harus dikoordinir oleh lembaga terkait atau Gapoktan agar mampu memasarkan beras yang dihasilkan dengan menggunakan teknik pemasaran yang baik. Misalnya, kemasan, merek, harga dan distribusi.

Banyak masyarakat Babel belum mengenal beras hasil produksi daerah sendiri. Karena promosi dari beras tersebut nyaris belum terdengar dan ada di gerai-gerai pasar atau retail di Babel.

Untuk itu pemerintah daerah perlu ikut membantu petani mengatasi masalah tersebut, melalui pendampingan pemasaran, pendampingan peningkatan kualitas produksi sehingga petani tidak merasa berdiri sendiri, dan ada lembaga yang mengayominya.

Petani cukup fokus pada bagaimana berproduksi yang baik, hasil panen meningkat, biaya operasional masih terjangkau dan harga jual mampu memberikan keuntungan. Karena pada umumnya, setiap panen padi, petani sering berada pada posisi kurang menguntungkan. Harga tawar rendah sehingga petani terpaksa menjual hasil dengan harga rendah pula.

Untuk itu, pemerintah perlu memberikan stimulan melalui program Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (P-LDPM). Di mana, lembaga ini bertujuan membantu petani, dan menjaga kestabilan harga pangan. (v1)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved