Rabu, 20 Mei 2026

Kabar Belitung

Gambus Buatan Usni Mariosha Disukai Turis Luar Negeri

Irama gambus dari petikan Usni Mariosha terdengar di rumahnya yang disebut dengan Baro Begado, Jalan Dahlan, Tanjungpandan, Jumat (24/6).

Tayang:
Editor: Rusaidah
Bangka Pos/Adelina Nurmalitasari
Seniman pembuat gambus Belitung Usni Mariosha di Baro Begado, Jumat (24/6). 

TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Irama gambus dari petikan Usni Mariosha terdengar di rumahnya yang disebut dengan Baro Begado, Jalan Dahlan, Tanjungpandan, Jumat (24/6).

Di antara jejeran gambus-gambus buatan tangannya, seniman yang enggan disebut pemain gambus, tapi menyebut dirinya sebagai pembuat gambus ini menceritakan perjalanannya menekuni pembuatan gambus.

Jika dicermati, gambus buatan pria yang juga pencipta sejumlah lagu pop berbahasa Belitung ini berbeda satu sama lain. Pasalnya, ia membuat gambus dari kayu-kayu limbah atau bekas pakai yang kemudian dipahatnya secara manual. Bahkan jumlah senar pada gambus pun disesuaikan dengan kayu yang ditemukan.

"Kalau ada ketemu orang buang (kayu) di got, saya lihat cocok, saya bawa. Kebanyakan saya survei orang buat rumah atau bikin perahu, banyak kayu dipotong, dibuang, itu yang saya manfaatkan kalau dipikiran saya itu cocok, saya bawa. Ketika saya menemukan kayu, sudah tergambar, saya bayangkan bentuknya. Saya tidak akan merusak tekstur yang saya temukan, tapi saya perjelas bentuknya," cerita Usni.

Pria yang mulai membuat gambus pertama pada 2007 silam ini berkomitmen bahwa dirinya tak akan menebang pohon hanya untuk membuat gambus.

Kayu-kayu limbah yang didapatnya pun masih diolah secara manual menggunakan pahat. Bagi Usni, ini dilakukannya karena merasa bahwa gambus yang dibuat bukan industri, tapi sebagai bentuk kecintaannya terhadap alat musik tradisional tersebut.

Tak heran, meski sudah menekuni pembuatan gambus sekitar 14 tahun, jumlah gambus yang dihasilkan hingga kini sebanyak 199 buah.

Meski jumlahnya terbatas, penggemar gambus buatannya tak saja datang dari pecinta gambus dalam negeri. Tercatat turis maupun pejabat luar negeri membeli gambus buatannya, seperti dari Jerman, China, Belanda, dan Inggris. Bahkan melalui kerja sama dengan biro perjalanan Levi Tour, gambus buatan Usni terpajang di galeri Kedutaan Besar RI untuk Singapura.

Gambus-gambus Usni Mariosha mempunyai ciri khas ornamen kayu ulin atau bulin. Potongan-potongan kecil kayu ulin didapatnya dari kayu-kayu bekas kusen yang diolah lalu ditempelkan kayu gambus.

Ia juga berharap kedepan banyak generasi muda yang tertarik dan ikut mencintai alat musik tradisional gambus. Tak hanya mahir memainkannya, tapi juga mampu membuatnya.

"Jangan merasa produk kita tidak bagus, itu yang bahaya ketika merasa belum layak. Setelah itu perlihatkan ke orang yang mengerti seni. Sama seperti saya dulu, amburadul, sampai alhamdulillah saya sempat diundang ISI Yogyakarta tampil bersama Seniman gambus dan budayawan menjadi pembicara," katanya.

"Alhamdulillah kami dicatat di sana, presentasi di depan mahasiswa dan doktor membahas mengenai gambus. Sangat bagus kita lestarikan karena setiap daerah ada juga menyebut alat musik gambus tapi tidak sama. Kalau ada kreasi dalam benak, berkreasi lah, jangan merasa kurang layak. Yang terpenting bukan karya kata, tapi karya nyata," tutur dia. (del)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved