Kabar Pangkalpinang

Pengamat Sebut Pelaku UMKM Mampu Beradaptasi di Tengajh Naiknya Harga Pangan

Tingginya harga telur ayam saat ini memberi dampak terhadap pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) ataupun masyatakat umum lainnya.

Editor: Rusaidah
Istimewa/Dok. Ryand Daddy Setyawan
Ryand Daddy Setyawan, Dosen Jurusan Manajemen Universitas Bangka Belitung. 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Tingginya harga telur ayam saat ini memberi dampak terhadap pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) ataupun masyatakat umum lainnya.

Sebagaimana keputusan Menteri Industri dan Perdagangan No.115/mpp/kep/2/1998 tanggal 27 Februari 1998, telur merupakan salah satu sembilan bahan pokok (Sembako).

Dosen jurusan Manajemen Universitas Bangka Belitung Ryand Daddy Setyawan mengungkapkan, apabila satu diantara sembako mulai mengalami kenaikan harga, kemungkinan akan mengakibatkan multiplier effect terhadap sisi konsumsi pada dunia industri, terutama UMKM yang banyak menggunakan bahan baku telur ayam akan kebakaran jenggot dengan situasi sekarang.

Bahkan harga telur ayam beberapa pekan terakhir terus mengalami kenaikan. Di beberapa pasar bahkan ditemukan harga mencapai Rp32 ribu per Kg atau Rp2.000 per butir, dimana harga telur hanya sekitar Rp23 ribu per Kg di waktu normal dahulu.

"Menurut Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 07 Tahun 2020 Tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen, harga eceran tertinggi telur ayam adalah Rp24 ribu per Kg," ungkap Ryan.

Ia menuturkan, kenaikan harga telur berdasarkan sumber beberapa pedagang disebabkan oleh harga pakan yang juga tinggi, sehingga ongkos produksi juga naik.

Menurutnya, para pelaku UMKM hendaknya beradaptasi dengan situasi saat ini. Apabila dibiarkan terus menerus, dapat mengakibatkan usahanya gulung tikar.

Adapun beberapa cara agar UMKM dapat bertahan di kondisi saat ini seperti, menaikkan harga produk, mengurangi spesifikasi produk, memperkecil margin keuntungan atau mencari bahan substitusi untuk bahan pokok tersebut.

"Semua strategi tentunya terdapat risiko masing-masing dalam praktiknya, jadi dapat dipikirkan lebih lanjut oleh para pelaku UMKM, mana yang merupakan strategi terbaik untuk usahanya masing-masing," ujar Ryan.

Ditengah kondisi saat ini ia menilai salah satu solusi yang dapat dilakukan pemerintah agar bisa memberikan tambahan subsidi pakan kepada para peternak, sehingga akan menurunkan ongkos produksi.

"Apabila dianggap tidak bisa, pemerintah dapat mengusahakan solusi yang kedua, yaitu dengan mempertimbangkan aturan harga eceran tertinggi pada Peraturan

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 07 Tahun 2020, tentang HET yang apakah masih relevan di zaman sekarang. Tentunya, pemerintah harus duduk bersama dengan para peternak untuk mendapatkan solusi terbaik dari permasalahan ini," ujarnya. (t3)

 

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved