Kabar Belitung

Kemenkumham Ingatkan Pentingnya Hak Atas Kekayaan Intelektual

Jajaran Kanwil Kemenkumham Babel melaksanakan kegiatan kerjasama pemantauan dan pengawasan di Bidang Kekayaan Intelektual dengan instansi terkait.

Editor: Rusaidah
Bangka Pos/Dede Suhendar
Kegiatan kerja sama pemantauan dan pengawasan di Bidang Kekayaan Intelektual. 

TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Jajaran Kanwil Kemenkumham Babel melaksanakan kegiatan kerjasama pemantauan dan pengawasan di Bidang Kekayaan Intelektual dengan instansi terkait di Hotel Grand Hatika, Belitung, Kamis (11/8).

Acara yang dihadiri oleh Kakanwil Kemenkumham Babel Daniel L Tobing dan Wakil Bupati Belitung Isyak Meirobie itu menekankan pentingnya mendaftarkan karya atau produk sebagai hak atas kekayaan intelektual (HAKI).

Selain itu, para peserta juga akan mendapatkan materi tentang perlindungan hukum dan sanksi bagi pelanggar HAKI orang lain,

"Diharapkan peserta kegiatan, khususnya masyarakat Belitung dapat lebih sadar untuk melindungi hak atas kekayaan intelektualnya sebagai aset bangsa," ujar Daniel dalam sambutannya.

Ia menjelaskan Kekayaan Intelektual (KI) adalah kekayaan yang timbul dari kemampuan intelektual manusia berupa karya di bidang teknologi, ilmu pengetahuan, seni dan sastra.

Secara garis besar KI terdiri dari hak cipta (copyright) dan hak kekayaan industri (industrial property right) yang meliputi paten, desain industri, merek, desain tata letak sirkuit terpadu dan rahasia dagang.

Menurutnya saat ini, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan banyaknya pelanggaran terhadap HAKI.

Oleh sebab itu, diperlukan peranan hukum untuk melindungi setiap karya yang dihasilkan oleh manusia.

Di Indonesia pelanggaran terhadap HAKI sering terjadi meliputi pelanggaran hak cipta dan merek.

"Lemahnya pengetahuan masyarakat terhadap HAKI jadi salah satu alasan banyak terjadinya pelanggaran. Padahal berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 sudah menjelaskan hukuman dapat berupa pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda maksimal Rp4 miliar," katanya.

Daniel menilai pelanggaran yang dulunya sering terjadi seperti penjiplakan buku dan pembajakan CD atau VCD.

Tetapi sekarang merambat ke dunia internet seperti mengunggah dan mengunduh ciptaan berupa lagu, video, foto, gambar dan tulisan tanpa hak, membuat website dengan menggunakan gambar, foto atau disain orang lain tanpa izin, mengakui karya tulis orang lain sebagai karya tulis sendiri.

Selain itu bisa juga berupa membuat situs yang berisi database lagu-lagu dengan file MP3 yang bisa diunduh secara bebas oleh pengguna internet dan mengunduh software dari situs lain lalu menggandakan dalam bentuk CD ROM untuk dijual sendiri.

"Untuk mengawasi pelanggaran tersebut, maka peran PPNS KI sangatlah penting. Di Kanwil Bangka Belitung sendiri terdapat dua PPNS KI yang bertugas mengawasi dan menindaklanjuti pelanggara terhadap hak atas kekayaan intelektual di wilayah Bangka Belitung," katanya. (dol)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved