Berita Bangka Selatan

Pemkab Basel Pantau Kenaikan Harga Bahan Pokok, Stok Pangan Cukup 4 Bulan ke Depan

Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) Bangka Selatan memastikan ketersediaan stok bahan pangan cukup hingga empat bulan ke depan.

Istimewa/Bulog
Ilustrasi Stok beras di Gudang Perum Bulog Bangka. 

TOBOALI, BABEL NEWS - Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) Bangka Selatan memastikan ketersediaan stok bahan pangan cukup hingga empat bulan ke depan. Hal ini disampaikan Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPPP Basel, Fitri Laila, Senin (5/9).

Pihaknya memastikan, selalu melakukan pemantauan terhadap harga pangan setiap hari. "Jadi untuk memastikan kenaikan bahan pokok kami melakukan pengambilan data setiap hari, melalui panel harga dan akan diinput data dan dilaporkan ke pusat," kata Fitri.

Menurutnya, stok ketersediaan pangan di wilayahnya, masih dipastikan cukup dan aman terkendali. "Sampai sekarang stok kita masih cukup, terutama untuk empat bulan ke depan dipastikan aman. Kalau barang keluar dan masuk selalu kita data, karena ada petugas kami yang turun langsung ke lapangan untuk memantau pasokan dan stok setiap harinya," jelasnya.

Ia juga mengakui, akan bekerja sama dengan semua pihak untuk mengantisipasi adanya oknum-oknum yang memanfaatkan kenaikan harga BBM. "Belum ada laporan terkait adanya penimbunan pangan yang kita temukan selama ini, karena semua pasokan pangan biasanya datang dari Pangkalpinang. Tapi kami akan berkoordinasi dengan semua pihak pascakenaikkan BBM, antisipasi adanya lonjakan harga khususnya bahan pangan," ujar Fitri.

Bagikan bibit
Pemkab Basel juga berencana membagikan 10 rumpun bibit cabai dan bawang merah kepada setiap warga pada tahun 2023. Tujuan pemberian bibit cabai untuk mengurangi lonjakan inflasi dan menjaga persedian stok cabai, khusunya di Basel.

Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Basel, Gatot Wibowo mengakui, hal ini menjadi upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan stok cabai di daerah. "Yang menjadi pemicu naiknya inflasi di Basel, salah satunya komiditas cabai dan bawang merang karena masyarakat sangat membutuhkannya. Seperti kita ketahui masyarakat Basel sangat membutuhkan sekali cabai untuk memasak, maka membuat kebutuhan cabai di Basel sangat melonjak," kata Gatot.

Untuk menekan inflasi, pihaknya tidak hanya memberikan bantuan bibit cabai. Namun, bantuan bibit bawang merah juga sebelumnya telah dibagikan ke Desa Rias dan Malik. "Kami tahun sebelumnya telah berbagai upaya untuk perluasan pemberian bantuan bibit bawang merah, Alhamdulillah saya lihat hasil serta progresnya cukup siginifikan," jelas Gatot.

Menurutnya, di tahun berikutnya, akan ada skema tematik atau kawasan yang akan dijadikan kawasan holtikutura. "Nanti kawasan yang kami jadikan kawasan holtikutura akan ditetapkan melalui surat keputusan bupati, lalu akan dilaporkan ke kementrian agar mendapatkan bantuan bibit," tambahnya.

Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat yang memiliki lahan atau perkarangan rumah kosong agar memanfaatkanya. "Ayo kita sama-sama bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan yang ada, terutama menanam cabai atau pun bawang merah. Dengan kita bercocok tanam dapat mengurangi nilai uang yang biasa kita keluarkan, untuk kebutuhan sehari-hari," ungkapnya. (v1)

Berangsur Naik
KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu berdampak langsung terhadap naiknya harga-harga kebutuhan di Kabupaten Bangka Tengah. Berdasarkan pantauan di Pasar Rakyat Koba, Senin (5/9) siang, beberapa komoditi mulai berangsur naik. Komoditi yang mulai berangsur naik ini yaitu cabai dan bawang merah.

Angga (26) pedagang di Pasar Rakyat Koba mengakui, kenaikan harga ini secara berangsur sejak pemerintah mulai mengumumkan akan menaikkan harga BBM. "Ini kan BBM belum terlalu lama naiknya, pedagang juga menggunakan stok yang lama , bisa jadi nanti kalau ke depan harga semua bahan pokok juga ikutan naik juga karena ini masih tahap penyesuaian," ungkap Angga.

Angga mengaku, tak punya pilihan lain, sebab jika mempertahankan harga sebelumnya justru merugi, lantaran modalnya yang telah naik. Imbasnya, para pedagang mengalami penurunan omzet di kisaran 20 hingga 30 persen. "Kami kalau maksa harga rendah tidak ada untungnya, jangan sampai nomboklah istilahnya," jelasnya.

Aurelya, warga yang berbelanja, meminta pemerintah secepatnya mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok. Hal ini agar tidak semakin memberatkan ekonomi warga. "Semua harga-harga pada naik, tapi mau gimana lagi daripada barangnya tidak ada, tidak apa-apa naik asal jangan terlalu tinggi," ujar Aurelya. (v2)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved