Berita Kabupaten Bangka

Imbas BBM, Harga Jual TBS Sawit Stabil, Tapi Biaya Angkut Alami Kenaikan

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani mandiri di perusahaan pabrik kelapa sawit (PKS) di Kabupaten Bangka saat ini masih stabil.

Bangka Pos/Edwardi
Truk pengangkut hasil panen TBS kelapa sawit sedang mengisi muatan hasil panen kelapa sawit rakyat. 

SUNGAILIAT, BABEL NEWS - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani mandiri di perusahaan pabrik kelapa sawit (PKS) di Kabupaten Bangka saat ini masih stabil di kisaran Rp1.680 hingga Rp2.000 per kg TBS. Hal ini berdasarkan rilis harga TBS petani mandiri di PKS yang dikeluarkan Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka pada Selasa 6 September 2022.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Bangka, Jamaludin mengakui, harga TBS kelapa sawit di tingkat petani mandiri saat ini baru di kisaran Rp1.500-Rp1.600 per kg TBS kelapa sawit. Sedangkan, biaya angkut TBS dari ke kebun ke PKS sebelumnya Rp240 per kg dan dengan kenaikan BBM saat ini biaya angkut menjadi Rp270 per kg TBS.

"Pascakenaikan harga BBM bersubsidi, untuk harga TBS kelapa sawit petani mandiri di PKS cenderung stabil di kisaran hampir Rp2.000 per kg TBS, namun akibat dampak kenaikan BBM ini pendapatan petani kelapa sawit mandiri menjadi lebih menurun karena adanya kenaikan biaya angkut TBS dari kebun ke pabrik kelapa sawit," kata Jamaludin, Rabu (7/9).

Ia mengakui, memang harga TBS ini cenderung stabil sekitar satu bulan terakhir ini. "Namun biaya angkut naik sehingga pendapatan petani juga menurun untuk menutupi kenaikan biaya angkut TBS ini, meskipun saat ini pemerintah sudah memperpanjang kebijakan penghapusan pungutan ekspor (PE) hingga 30 Oktober 2022, tapi harga TBS kelapa sawit belum terdongkrak di angka Rp2.500 hingga Rp3.000 per kg TBS," ujarnya.

Menurutnya, dengan harga TBS kelapa sawit yang belum naik hingga di angka Rp2.500 hingga Rp3.000 per kg TBS, maka para petani kelapa sawit mandiri masih mengalami kerugian dan belum bisa membeli pupuk nonsubsidi untuk merawat kebun kelapa sawitnya. "Dengan harga TBS saat ini para petani kelapa sawit mandiri saat ini hanya bertahan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya dan belum bisa membeli pupuk nonsubsidi untuk memupuk kebunnya," jelasnya.

Diakuinya, saat ini di berbagai pertemuan dengan para petani selalu membicarakan dan mencari pupuk alternatif yang efektif, efisien, terukur dan terjangkau harganya. "Kalau harga pupuk nonsubsidi saat masih terlalu tinggi, seperti pupuk urea Rp600.000 per karung 50 kg, pupuk KCL Rp900.000 per karung, pupuk NPK Rp1 jutaan per karung. Dengan harga pupuk nonsubsidi yang tinggi ini tidak bisa dijangkau petani bila harga TBS masih di bawah Rp2.500 per kg," katanya.

Ia mengatakan, apabila para petani kelapa sawit mandiri pada tahun 2022 ini tidak mampu merawat kebunnya, maka diprediksi tahun depan produksi TBS kelapa sawit petani mandiri bakal mengalami penurunan, karena pohon kelapa sawit sakit atau stres, sehingga akan mengalami hambatan untuk berbuah. "Kami berharap kebijakan DMO dan DPO juga segera dihapus pemerintah supaya harga TBS kelapa sawit di tingkat petani mandiri kembali terdongkrak naik di angka Rp2.500 hingga Rp3.000 per kg TBS," harapnya.

Beban HPP
Ketua Umum Apkasindo, Gulat ME Manurung mengakui, dengan adanya kenaikan harga BBM tentu akan menambah beban harga pokok produksi (HPP) TBS kelapa sawit. "Di mana biaya angkut TBS kelapa sawit dari kebun sampai ke PKS biasanya Rp120-150/kg. Dengan kenaikan harga BBM ini biaya angkut akan menjadi Rp150-200/kg dengan jarak tempuh dari kebun ke PKS kisaran 20-30 km, kalau jarak lebih jauh lagi tentunya biaya angkut lebih besar lagi," kata Gulat.

Diakuinya, memang sangat tipis sekali marginnya dengan harga TBS saat ini, itupun sudah dengan segala siasat. Jika dilihat dengan harga TBS saat ini masih jauh di bawah Rp3.000, maka petani sawit tidak akan mendapatkan keuntungan, bahkan untuk balik modal pun masih belum cukup.

"Jika harga TBS di atas Rp.3000 per kg, baru kami petani kelapa sawit mandiri bisa membawa rezeki ke rumah. Saat sebelum harga BBM naik saja, kami sudah tekor, tentu kenaikan ini akan menambah besarnya kerugian kami," jelasnya.

Ia menambahkan, untuk menyiasati hal ini, petani sawit akan menekan biaya perawatan kebun seperti biaya pengendalian gulma yang biasanya dilakukan 4 bulan sekali, kemungkinan hanya akan dilakukan setahun 1-2 kali. "Selain itu petani sawit terpaksa semakin mengurangi dosis pupuk, bahkan tidak memupuk sama sekali. Memang semua siasat ini akan menurunkan produktivitas kebun sawit kami, tapi mau bagaimana lagi," ujarnya.

Gulat mewakili petani sawit Indonesia berharap pemerintah segera merevisi Permentan 01/2018 yang mengatur tata cara penetapan harga TBS. "Beban-beban dan pungutan BOTL yang menekan harga TBS selama ini bisa berbagi dengan PKS. Ini sangat bermanfaat dan menolong kami petani sawit," harap Gulat. (edw)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved