Berita Pangkalpinang

Waspada Bahaya Jamu Kimia, Balai POM Pangkalpinang Gelar Forum Konsultasi Publik

Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) Kota Pangkalpinang menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP) di Hotel Fox Haris, Rabu (14/9).

DOK BANGKA POS
Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pangkalpinang Tedy Wirawan. 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) Kota Pangkalpinang menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP) di Hotel Fox Haris, Rabu (14/9). Kegiatan yang diikuti berbagai stakeholder ini, dalam rangka percepatan peningkatan kualitas pelayanan publik Balai POM di Pangkalpinang.

Kepala Balai POM Pangkalpinang, Tedy Wirawan mengatakan, FKP ini wajib dilakukan oleh penyelenggaraan publik. "Wajib bagi kami mengajak lintas sektor untuk memberikan masukan kepada kami dalam penyelenggaraan publik agar lebih baik lagi," ujar Tedy.

Menurutnya, diperlukan peran serta penyelenggara pelayanan publik dan masyarakat selaku pengguna atau penerima layanan sebagai upaya membangun sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang adil, transparan dan akuntabel. "Sangat diperlukan sinergitas unntuk melindungi masyarakat dari obat dan makanan yang tidak sesuai ketentuan. Hari ini kita fokusan obat tradisional seperti jamu," kata Tedy.

Diakuinya, masih ditemukan obat tradisional yang tidak memenuhi syarat, namun masih kategori rendah. "Tapi ini bukan berarti kita berdiam diri, tetap waspada, khawatirnya meningkat. Tentu saja ada supply and demand, kalau ada peredaran yang tak memenuhi syarat pasti ada permintaan maka kami berusaha meningkatkan edukasi soal ini," jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini jamu tak sesuai ketentuan itu ditambahkan bahan kimia sehingga perlu diwaspadai karena dapat memberikan dampak tidak baik bagi kesehatan. "Secara fisik memang tidak bisa dikenali, tapi cirinya jamu yang ditambahkan bahan kimia itu, misalnya dalam waktu satu jam langsung memberikan khasiat, itu patut menjadi perhatian," ujarnya.

Pihaknya terus melakukan pengawasan, dengan tim yang bergerak di sarana penjualan. "Kami juga berharap masyarakat ikut aktif, saat mengenali ada potensi jamu yang tidak sesuai ketentuan untuk melaporkan ke kami," harapnya.

Kepala Dinkes Babel, dr Andri Nurtito mengatakan, pihaknya sudah melakukan upaya untuk membangun kesehatan masyarakat. "Untuk pembangunan kesehatan masyarakat, kami ada upaya promotif atau pemberian edukasi. Kedua upaya preventif seperti pemberian vaksinasi. Ketiga, upaya kuratif atau pengobatan, ini bersinergi dengan Balai POM, karena kami tidak memiliki kemampuan untuk pengawasan obatnya," kata Andri.

Menurutnya, dengan sinergi yang dijalin dengan Balai POM di Pangkalpinang maka upaya kuratif dapat berjalan dengan efektif. "Upaya kuratif di fasilitas kesehatan tentu memerlukan obat, itulah sinerginya. Kemudian ada upaya promotif, menggunakan jamu untuk meningkatkan tubuh, dan Balai POM ini yang melakukan pengawasan terhadap pengusaha jamu," jelasnya. (s2)

Kosmetik Tak Izin Edar
BALAI Pengawas Obat dan Makanan (POM) Pangkalpinang juga menemukan ada kosmetik yang tak sesuai ketentuan yang beredar di Bangka Belitung. "Kita temukan kosmetik sedikit lebih banyak dari obat tradisional, kondisi belum mengkhawatirkan, jumlah tidak banyak, bila dinominalkan tidak lebih dari Rp10 juta," ujar Kepala Balai POM Pangkalpinang, Tedy Wirawan, Rabu (14/9).

Menurutnya, kosmetik yang ditemukan ini biasanya masuk kategori skincare untuk pemutih badan. "Kalau kosmetik yang disukai itu dan dimanfaatkan oleh pengusaha yang nakal adalah pemutih, ditambahkan bahan kimia berbahaya, cirinya putihnya cepat, itu berisiko, memang putihnya cepat tapi itu akan kembali gelap, cenderung lebih gelap dari awalnya," kata Tedy.

Menyikapi kondisi ini, dia berharap agar masyarakat waspada dan cermat dalam mengunakan kosmetik. "Kita harap masyarakat untuk tidak membeli kosmetik yang tak memiliki izin edar sebab produk itu belum terjamin keamanan, mutu dan manfaat. Kalau sudah ada izin edar artinya sudah terjamin mutu dan diawasi oleh BPOM," jelasnya.

Tak hanya penjualan secara offline, Balai POM juga melakukan pengawasan untuk penjualan secara online dengan Patroli Cyber. "Apalagi pada masa pandemi, penawaran beralih melalui online. Kami juga beralih melakukan pengawasan online, ada tim yang melakukan patroli cyber, kami pun mengawasi penjualan produk kosmetik, makanan dan obat yang melalui e-commerce, baik sosial media lainnya," kata Tedy. (s2)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved