Berita Bangka Selatan

Air Tiba-tiba Masuk, Puluhan Rumah Warga Desa Tanjung Labu Dilanda Banjir

Puluhan rumah warga Desa Tanjung Labu, Kecamatan Lepar Pongok, Bangka Selatan, terendam banjir setelah dilanda hujan deras pada Senin (19/9).

ist/BPBD Babel
BENCANA ALAM - Personel BPBD Babel saat turun ke lapangan meninjau lokasi terjadinya bencana alam pohon tumbang di wilayah Kabupaten Bangka Selatan, Senin (19/9). 

LEPAR PONGOK, BABEL NEWS - Puluhan rumah warga Desa Tanjung Labu, Kecamatan Lepar Pongok, Bangka Selatan, terendam banjir setelah dilanda hujan deras pada Senin (19/9) sejak pukul 05.30 WIB. Kejadian ini menjadi yang pertama di wilayah tersebut.

Kepala Desa Tanjung Labu, Vindo membenarkan, peristiwa tersebut. "Ya benar, baru pertama kali ini terjadi, saya pun terkejut setelah melihat kejadian ini. Kurang lebih satu jam banjir menghantam rumah warga, karena air yang datang itu tiba-tiba dan tidak lama, saat ini sudah surut tapi masih hujan," kata Vindo.

Pihaknya juga telah melaporkan kejadian ini ke pemerintah daerah. "Tadi saya sudah nelepon orang PUPR karena ada beberapa jalan di desa ini rusak akibat diterjang banjir. Sedangkan bantuan yang lain belum kami terima, untuk warga tidak ada yang mengungsi dan sudah pulang ke rumah masing-masing," jelasnya.

Nanang, warga Desa Tanjung Labu mengatakan, ketinggian air mencapai hingga di atas lutut orang dewasa. "Ketinggian air yang menerjang rumah warga kurang lebih 30 sentimeter hingga 50 sentimeter. Ketinggiannya berbeda dan variasi, karena ada delapan RT yang terkena dampak banjir ini," kata Nanang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menerima beberapa laporan dikarenakan kondisi tersebut. Di antaranya, laporan terjadinya angin puting beliung di Sadai, banjir di Tanjung, Lepar Pongok dan pohon tumbang di Sadai, Bangka Selatan.

"Kami sedang berkoordinasi untuk mendapat data yang lengkap, dari video yang dikirim ke kita, itu menandakan curah hujan yang tinggi sehingga arus air juga sangat deras," ujar Kepala Pelaksana BPBD Babel, Mikron Antariksa.

Sehingga dengan kondisi saat ini, Mikron mengimbau agar masyarakat yang beraktivitas di laut untuk waspada. "Kalau dari prediksi BMKG memang ini musim kemarau, terjadi hujan karena di wilayah China terjadi siklon, sehingga ada perubahan cuaca. Peringatan dini sudah disampaikan BMKG, 18-19 September ini memang cuaca ekstrem, terutama di perairan laut karena tinggi gelombang di atas normal bisa 3-4 meter, jadi nelayan diharap hati-hati saat bekerja," kata Mikron.

Kondisi ini juga diakuinya, akan mempengaruhi harga ikan. "Efeknya juga kepada kita, kebutuhan ikan meningkat dan mahal jadi kita harus lebih bijaksana dalam menyikapi kondisi cuaca ini," jelasnya.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Pangkalpinang, Kurniaji mengakui, bulan-bulan ini mestinya merupakan musim kemarau. "Babel memang masih berada di periode kemarau bahkan bisa dikatakan kita sedang di puncak musim kemarau saat ini," ujar Kurniaji.

Ia mengatakan, ada beberapa gangguan cuaca yang menyebabkan wilayah tetap masih diguyur hujan. "Yang pertama adalah Dipole Mode Index (DMI) yg bernilai negatif yang merupakan gangguan cuaca di bagian Samudera Hindia, di mana adanya fenomena ini menyebabkan suplai uap air dari wilayah Samudera Hindia ke wilayah Indonesia bagian barat signifikan sehingga aktivitas pembentukan awan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk Babel signifikan," kata Kurniaji.

Kemudian, Babel saat ini termasuk daerah yang dipengaruhi fenomena belokan angin dan konvergensi, kecepatan angin yang cukup lamban bahkan cenderung calm juga akan meningkatkan potensi terbentuknya awan-awan konvektif di sekitar Babel. "Dua fenomena inilah yang menjadi biang hujan yang terus menerus terjadi di Babel dalam beberapa minggu terakhir dan bahkan beberapa minggu ke depan," pungkasnya. (v1/s2)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved