Berita Bangka Selatan

Desa Nangka Nol Stunting, Puskesmas Airbara Sosialisasi Pencegahan Kekerdilan Anak

Puskesmas Airbara, Kecamatan Airgegas, Bangka Selatan menyosialisasikan pencegahan dan penanganan stunting atau kekerdilan anak di tiga desa.

istimewa
20210914-ilustrasi-anak-stunting-dengan-anak-tumbuh-normal 

AIRGEGAS, BABEL NEWS - Puskesmas Airbara, Kecamatan Airgegas, Bangka Selatan menyosialisasikan pencegahan dan penanganan stunting atau kekerdilan anak di tiga desa di wilayahnya, Rabu (21/9). Hal ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi meningkatnya stunting di wilayah Airbara, Ranggas dan Nangka tersebut.

Kepala Puskesmas Airbara, Damsiar berterima kasih kepada kader yang sangat bersemangat dalam kegiatan ini. Menurutnya, hasil semangat itu terlihat dari Desa Nangka yang sampai saat ini nol stunting. "Kita bisa lihat dari angka stunting khusus di wilayah kerja Puskesmas Airbara sudah sangat bagus. Angka ini bukan semata-mata kerja keras kawan-kawan dari Puskesmas, tapi ini merupakan hasil dari kerja sama dan kerja keras antara Puskesmas, Kades, BPD, tokoh agama, dan tokoh masyarakat yang telah dimotori oleh kader," kata Damsiar.

Ia memastikan, kader merupakan rujukan bukan hanya timbang data, tapi pelaporan yang bersifat digital. "Untuk stunting itu jangan sampai kita Puskesmas Airbara sudah bagus, jangan sampai kita ngedrop jadi masalah stunting. Kader ini sudah hafal kami hanya sekedar mengingatkan kembali, stunting itu ganguan tumbuh kembang bayi berusia 5 tahun ke bawah karena kekurangan gizi kronis," jelasnya.

Ia mengakui, sengaja mengundang Kades, BPD, PKK, agar permasalahan ini tak hanya membebani satu pihak. "Kader bagi kami merupakan patriot-patriot kesehatan, karena mereka rela bekerja tidak digaji hanya dikasih insentif dari Kades, sehingga mereka bekerja kadang pagi, siang, malam kadang diminta bantu data oleh kawan-kawan Puskesmas," ungkapnya.

Ketua Apdesi Basel sekaligus Kades Airbara, Muklis Insan menyambut baik kegiatan sosialisasi ini. "Kegiatan yang sangat bagus diadakan Puskesmas Airbara, apalagi terkait stunting menjadi program prioritas Bangka Selatan," jelas Muklis.

Menurutnya, kader adalah patriot paling depan karena menyerap aspirasi dari masyarakat. "Mudah-mudahan tugas yang mulia ini menjadi pertimbangan kami di desa juga, sehingga bisa meningkatkan taraf hidup para kader," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman menekankan pentingnya intervensi dari pemerintah desa dalam menangani stunting. Satu di antaranya, melalui pemaksimalan Posyandu.

Algafry ingin pengelolaan Posyandu tersebut dilakukan secara maksimal oleh pihak desa. "Posyandu itu sebenarnya milik desa, bukan milik Dinas Kesehatan ataupun milik Puskesmas. Karena dana pengelolaanya ada di desa," jelas Algafry, Selasa (2/8).

Dirinya meminta agar Posyandu terus bergerak dan berjalan untuk mendeteksi bayi dan balita yang ada di desa tersebut. "Dengan begitu, apabila ada ibu hamil yang akan segera melahirkan, maka kondisi kandungan sudah bisa terdeteksi sebelum bayinya lahir," ucapnya.

Selain itu, peran suami juga sangat diperlukan agar senantiasa sigap memantau kondisi kandungan sang istri supaya pertumbuhan sang bayi tidak berdampak buruk.

Ketua TP-PKK Bateng, Eva Algafry menyakini Posyandu di wilayahnya telah berjalan cukup aktif. "Bisa dibilang Posyandu di Bangka Tengah ini aktif 100 persen, cuma memang fungsinya yang belum optimal dan tidak ada evaluasi," ungkap Eva.

Lanjut dia, jika dikaitkan dengan perihal stunting, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yakni melalui intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Namun dia menilai, yang lebih bijak untuk dilakukan adalah langkah pencegahan yang salah satunya dapat dilakukan melalui peran posyandu. "Kalau kita telaah kembali, fungsi Posyandu sebenarnya sudah mencakup banyak hal," jelasnya.

Eva berujar, Posyandu memiliki peran untuk mengawasi perihal kurang gizi dan gizi buruk sebagai deteksi awal pencegahan stunting. "Artinya, kurang gizi dan gizi buruk bisa dideteksi awal di Posyandu, asalkan semua sasaran posyandu tersebut hadir di Posyandu," ujarnya.

Dirinya meminta peran seluruh aparatur desa, mulai dari Kades, ibu-ibu PKK, RT, RW agar menyosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya peran posyandu dan memastikan kehadirannya. "Dengan begitu, tumbuh kembang balita bisa terpantau secara rutin, minimal sebulan sekali," tambahnya.

Menurut Eva, jika fungsi Posyandu berjalan maksimal, maka kasus stunting kemungkinan tidak akan terjadi. Adapun beberapa tugas yang masih harus dilakukan ke depannya adalah dengan menata kembali apa saja yang diperlukan oleh posyandu serta hal apa saja yang perlu dibenahi ke depannya. (v1/u2)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved