Berita Pangkalpinang

Babel Baru Penuhi 40 Persen Kebutuhan Pangan, Pemprov Kejar Produktivitas Petani

Hasil pertanian dari Bangka Belitung baru mampu memenuhi 40 persen kebutuhan bahan pangan masyarakatnya.

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Hasil pertanian dari Bangka Belitung seperti beras, cabai, bawang merah dan bawang putih, baru mampu memenuhi 40 persen kebutuhan bahan pangan masyarakatnya. Sisanya, sebanyak 60 persen bahan pangan didatangkan dari luar Bangka Belitung, di antaranya, kebanyakan dari Pulau Jawa dan Sumatera.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Babel, Edi Romdhoni membenarkan, jika ketersediaan bahan pokok ini tentu akan berpengaruh pula pada harga bahan pokok di pasaran. "Karena kita daerah kepulauan, masih ada beberapa komoditi yang kita gantungkan dari luar. Contoh pangan pokok seperti beras. Data terakhir itu 40 persen dari daerah kita dan 60 persen bahan pokok dari daerah luar," ujar Edi, Kamis (22/9).

Menurutnya, makna dari ketahanan pangan soal upaya daerah memproduksi sendiri dan mengadakan dari daerah lain. "Tim kita Satgas Pangan kemudian dinas kita, Polda selalu memantau ketersediaan. Kalau pasokan cukup maka ketahanan kita sudah kuat, jadi itu kita terus pantau," kata Edi.

Ia mengakui, untuk meningkatkan ketahanan pangan, Pemprov berusaha meningkatkan produktivitas hasil pertanian. "Kita terus melakukan kegiatan untuk mendukung produktivitas pertanian akan kita kucurkan ke petani kita. Semua sub sektor, perluasan area pertanaman terus kita upayakan. Ibu-ibu juga kita upayakan untuk ketahanan keluarga dengan manfaatkan perkarangan rumahnya," tegasnya.

Perlu sinergi
Ketua Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Bangka Belitung, Eries Dyah Mustikarini membeberkan alasan pasokan kebutuhan pangan Babel masih bergantung pada daerah lain. "Hal ini karena secara umum masyarakat Bangka Belitung memiliki keanekaragaman dalam bidang pengerjaan atau mayoritas masyarakatnya bukan sebagai petani. Petani Bangka Belitung sebagian juga terus berusaha mengembangkan teknik budidaya pertanian yang lebih modern untuk meningkatkan hasil pertanian," ujar Eries.

Menurutnya, kualitas hasil pertanian dari petani di Bangka Belitung sudah mengalami peningkatan yang cukup baik. Namun, masih perlu perbaikan dalam sistem pengemasan dan pengembangan sistem pemasaran.

"Sebagai contoh produk beras yang dihasilkan oleh Desa Rias Bangka Selatan, yang saat ini belum dapat dipasarkan dengan baik karena perlu perbaikan dalam sistem pengemasan produk. Perlu peran pemerintah agar produk tersebut dapat dipasarkan secara baik untuk seluruh masyarakat terutama di wilayah Kepulauan Bangka Belitung," kata Eries.

Ia menambahkan, masyarakat masih cenderung mengambil produk-produk yang berasal dari luar daerah yang dipasarkan di pusat-pusat pemasaran seperti supermarket, minimarket ataupun toko. "Kondisi tanah di Bangka Belitung yang merupakan jenis tanah ultisol, bukan merupakan suatu penghalang dalam peningkatan produksi pertanian. Upaya yang bisa dilakukan adalah dengan pemilihan varietas yang adaptif pada tanah ultisol atau pengembangan kegiatan pemuliaan tanaman," jelasnya.

Menurutnya, peningkatan produksi juga bisa dilakukan dengan memberikan input teknologi untuk meningkatkan kesuburan tanah dan menambah nutrisi bagi tanaman. "Harapan ke depannya ada peran aktif dan sinergi yang sangat baik antara pemerintah penyuluh pertanian dan juga akademisi untuk meningkatkan produksi pertanian terutama untuk produk-produk di Bangka Belitung yang saat ini masih mendapatkan suplai dari daerah lain," kata Eries. (s2)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved