Berita Bangka Barat

Pascakeluhan Akan Beroperasinya PIP, Komisi III DPRD Babel Cek Wisata Telukrubiah

Pihaknya langsung turun untuk menuju kawasan ini, lantaran mendapatkan laporan masyarakat bakal ada kegiatan penambangan di wilayah perairan ini.

Bangkapos.com/Dok
Pj Gubernur Bangka Belitung, Ridwan Djamaluddin. 

MUNTOK, BABEL NEWS - Tambang jenis ponton isap produksi (PIP) pasir timah bakal beroperasi di Perairan Kampung Iklim, Telukrubiah, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, dalam waktu dekat ini. Padahal diketahui, Kampung Iklim merupakan destinasi wisata di Kecamatan Muntok.

Di sana juga sudah dibangun beberapa fasilitas pendukung berupa tempat duduk dan lainnya untuk wisatawan serta warung Usaha Mikro Kecil Dan Menengah UMKM menjajakan dagangannya. Mendapat kabar ini, Komisi III DPRD Babel pun meninjau kawasan Kampung Iklim, Telukrubiah ini.

Ketua Komisi III DPRD Babel, Adet Mastur mengatakan, pihaknya langsung turun untuk menuju kawasan ini, lantaran mendapatkan laporan masyarakat bakal ada kegiatan penambangan di wilayah perairan ini. "Dari laporkan itu bahwa aktivitas penambangan ini menganggu, pertama mangrove, kedua tempat wisata kampung iklim dan fasilitas nelayan seperti dermaga jetty," kata Adet Mastur, di lokasi, Selasa (22/11).

Dirinya belum mengetahui laporan yang diterima olehnya itu dari masyarakat mana. Sebab saat dirinya berkunjung langsung masyarakat setempat hampir 90 persen setuju dengan adanya aktivitas tambang itu. "Informasi yang kami terima katanya 90 persen masyarakat di sini setuju. Cuma kami belum tahu masyarakat mana yang menyampaikan kepada kami melalui aplikasi WhatsApp yang menolak," jelasnya.

Pihaknya akan melihat peraturan daerah (Perda) RZWP3K tentang rencana zona wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terlebih dahulu. Apakah titik koordinat pertambangan itu tercantum di dalam Perda. "Jika di Perdanya ada zona untuk pertambangan atau izin usaha pertambangan (IUP) yang tidak terhapus. Berarti IUP PT Timah itu legal. Kalau tidak terdapat IUP PT Timah atau swasta berarti ini adalah ilegal," ujarnya.

Pemprov Babel memastikan aktivitas penambangan pasir timah di perairan Kampung Iklim, Telukrubiah, tidak menggangu infrastruktur dan destinasi pariwisata di sana. Hal tersebut disampaikan oleh Pejabat Gubernur Bangka Belitung, Ridwan Djamaluddin, usai menggelar diskusi dengan masyarakat di kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di Rumah Dinas Bupati Bangka Barat, Selasa.

Diakui Ridwan, rencana tambang di perairan itu pasti diatur agar tidak menggangu infrastruktur dan destinasi pariwisata di sana. "Nanti praktiknya tidak. Pasti diatur agar penambangan bisa jalan sesuai dengan ketentuan dan infrastruktur serta destinasi pariwisata harus dijaga," kata Ridwan.

Menurutnya, pariwisata dan pertambangan harus hidup berdampingan atau seiring sejalan. Kalau serba tidak boleh nantinya bisa terkunci sendiri. "Nanti kita akan lihat persis petanya. Tapi saran saya kita jangan suka membenturkan karena zonasi bagi saya hanya garis imajiner," ucapnya. (ynr)

Masuk IUP PT Timah
PENJABAT (Pj) Gubernur Bangka Belitung, Ridwan Djamaluddin mengatakan pertambangan timah yang dilakukan di area perairan Telukrubiah Bangka Barat masuk izin usaha pertambangan (IUP) PT Timah Tbk. "Kemarin saya tanya yang terjadi di Telukrubiah itu, bukan menambangnya di Telukrubiah. Kemarin baru parkir saja dalam rangka persiapan, nanti nambangnya di IUP yang sudah diizinkan beroperasi, Iya (IUP PT Timah-red)," ujar Ridwan, Rabu (23/11).

Ia memastikan aktivitas penambangan pasir timah di Perairan Kampung Iklim, Telukrubiah, Kecamatan Muntok, tidak menggangu infrastruktur dan destinasi pariwisata di sana. Pasalnya, pertambangan timah tidak dilakukan di kawasan wisata namun di area yang mengantongi IUP.

"Kemarin yang mau dilakukan itu, kita ambil timahnya, kemudian akan ditata kembali lahannya supaya tidak ada yang ilegal. Kita ambil secara resmi tapi yang kemarin disangkakan operasi di kawasan wisata itu ternyata tidak, nanti akan beroperasi di IUP Timah," tegasnya. (s2)

Tak Yakin Tak Merusak
KETUA Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Babel, Fadillah Sabri tak yakin pertambangan timah di wilayah itu tak merusak lingkungan atau pariwisata di sana. "Selama tidak ada jaminan dan penjelasan metode dan teknik penambangan, saya tidak yakin tidak merusak," tegas Fadillah, Rabu (23/11).

Dirinya menyarankan agar diperiksa dengan jelas zona di kawasan pertambangan tersebut. "Lihat dulu itu masuk wilayah pertambangan atau bukan dalam zona tata ruang sebagaimana ada pada Perda, dicek," katanya.

Tak hanya itu, Fadillah mempertanyakan metode penambangan yang dilakukan di kawasan tersebut seperti apa. "Kedua, kata kunci dari Pak Pj itu adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, maka itu yang harus dikejar, metode apa yang digunakan, bagaimana sistem penambangannya. Apakah dengan metode kapal isap kemudian dibuang begitu saja tailingnya ke laut, kalau dibuang langsung tentu akan mengakibatkan gumpalan sedimen ke laut," jelasnya.

Namun, kata Fadillah akan berbeda dan bisa dimaklumi apabila metode penambangan yang digunakan adalah kapal keruk dan jauh dari zona pantai. "Jadi metode harus dijelaskan kepada masyarakat, teknologi harus diuji, efektivitas yang digunakan dan mesti dijelaskan kepada masyarakat," katanya.

Dia mengingatkan agar pemerintah provinsi konsisten akan aturan. "Konsisten saja, terhadap aturan dan metode. Harus dijelaskan ke masyarakat itu. Orang menambang itu kalau sudah dibiarkan akan bebas sebebasnya, pada akhirnya masyarakat yang dirugikan," katanya. (s2)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved