Berita Pangkalpinang

2023, Covid-19 Berstatus Endemi, Mikron Akui Satgas Covid-19 Bakal Dibubarkan

Status pandemi Covid-19 di Indonesia bakal berubah menjadi endemi Covid-19 pada tahun 2023.

Dokumentasi Bangka Pos
Ketua Sekretariat Puskodalops Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Babel, Mikron Antariksa 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Status pandemi Covid-19 di Indonesia bakal berubah menjadi endemi Covid-19 pada tahun 2023. Status endemi Covid-19 ini juga akan berlaku di Bangka Belitung.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Bangka Belitung, Mikron Antariksa. Mikron bahkan menyebutkan pada tahun 2023, Satuan Tugas Covid-19 akan dibubarkan.

"Tahun 2023 sudah mulai mau menghilang, Satgas juga sudah mau ditutup dan masuk masa endemi pada tahun 2023, kalau sekarang Satgas masih ada. Tapi itu ketentuan dari pusat, kita masih menunggu," ujar Mikron, Rabu (30/11).

Bangka Belitung akan melakukan persiapan mengenai perubahan status menjadi endemi Covid-19. "Kita mengharapkan masyarakat sudah bisa berperilaku hidup sehat, tentu saja untuk mengurangi lonjakan tentu vaksin kita gencarkan sekarang sampai awal tahun 2023, jadi nanti kita sudah siap memasuki masa endemi," katanya.

Dengan status endemi Covid-19, Mikron berharap ekonomi Bangka Belitung akan tumbuh dan semakin membaik. "Sekarang peningkatan ekonomi kita juga sudah mulai baik, diharapkan dengan endemi tidak ada pembatasan lagi, sehingga tentu saja akan normal sehingga pulih lebih cepat bangkit lebih kuat," jelasnya.

Dia juga sempat membeberkan kondisi kasus Covid-19 saat ini masih ada yang terpapar Covid-19. "Kasus Covid-19 memang ada peningkatan tapi peningkatan tidak mengakibatkan keburukan kesehatan," katanya.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Bangka Belitung sekaligus Dokter Spesialis Ahli Bedah, dr Adi Sucipto menyambut baik wacana perubahan menjadi endemi Covid-19 yang juga akan berlaku di Bangka Belitung. Namun, dia berpesan agar status endemi ini benar-benar sesuai dengan evaluasi yang ada di lapangan dari sisi rendahnya angka kesakitan dan angka kematian karena Covid-19.

"Dari kita paling dievaluasi dan diyakinkan bahwa kasus angka kematian rendah dan kesakitan (sakit tapi tidak berat), jadi bisa dianggap endemi," ujar Adi.

Dia menekankan keputusan perubahan endemi Covid-19 nanti diharapkan dari tim pusat atau Kemenkes RI. "Kalau di Babel kasus masih ada tetapi tidak terlalu, hanya angka kesakitan tapi tidak berbahaya. Kita harap benar-benar endemi, jangan di atas kertas. Jadi tersirat dan tersuratnya benar," tegasnya.

Walaupun sudah endemi Covid-19, vaksinasi booster harus tetap dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh masyarakat. Dia membeberkan penentuan berubah status menjadi endemi itu harus memperhatikan kasus orang terpapar Covid-19.

"Nanti dilihat angka kesakitan dan angka kematiannya sudah kasus berkurang atau rendah, nanti dianggap endemi," katanya.

Dia menyebutkan gambaran kalau sudah dinyatakan endemi, Covid-19 hanya akan dianggap seperti flu maka diarahkan ke vaksin. "Kalau endemi sudah ringan maka tidak ada perawatan khusus maka hal ini menjadi alasan Satgas Covid-19 bakal dibubarkan.

Kalau positif Covid-19 nanti bukan berarti harus diisolasi, jadi kalau endemi jadi kayak biasa. Tapi belum tahu ya, kan keputusan jadi endemi belum ada," pungkasnya. (s2)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved