Kabar Pangkalpinang

Digital Farming Perlu Support SDM dan Sarana Memadai

Pemerintah terus mendorong digitalisasi para pelaku usaha pertanian melalui digital farming.

Editor: Rusaidah
Istimewa/Dok. Rion Apriyadi
Dosen Agroteknologi Universitas Bangka Belitung Rion Apriyadi. 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Pemerintah terus mendorong digitalisasi para pelaku usaha pertanian melalui digital farming. Pemberian teknologi digital pada pertanian untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Selain untuk meningkatkan kapasitas, pemanfaatan teknologi ini juga bertujuan untuk meningkatkan efisiensi biaya dan perluasan pasar UMKM.

Dosen Agroteknologi Universitas Bangka Belitung, Rion Apriyadi, M.Si mengatakan, digital farming merupakan teknik pertanian berupa pemanfaatan teknologi informasi (IT) dalam budidaya tanaman, seperti pemanfaatan data dan informasi cuaca dan iklim, data-data sebaran jenis tanah dan data-data lain yang tersedia secara digital pada platform tertentu.

Dia mengungkap, pengaplikasian digital farming memberikan nilai efisiensi yang tinggi dalam budidaya tanaman, namun harus didukung dengan sarana yang memadai serta sumber daya manusia (SDM).

"Kembali lagi ini penerapan digital farming ini bergantung kepada kesiapan implementasi teknologi pada kalangan petani. Dengan adanya digital farming, produktivitas tanaman tentu dapat meningkat asalkan diterapkan dengan tepat," ujar Rion, Rabu (28/12).

Dia menuturkan, penerapan digital farming sangat bermanfaat dalam mengontrol pertumbuhan tanaman dengan memanfaatkan berbagai aplikasi digital seperti memantau warna daun tanaman untuk melihat kondisi defisiensi atau kekurangan unsur hara pada tanaman sehingga pemberian pupuk dapat lebih efisien dan tepat sasaran.

Selain itu pemanfaatan aplikasi berbasis digital dalam hal pengendalian hama dan penyakit juga telah tersedia dan memudahkan petani dalam mengidentifikasi jenis hama dan penyakit sehingga lebih efektif dalam melakukan upaya-upaya pengendalian.

Ia menilai, kesulitan dalam penerapan digital farming tentu saja pada faktor SDM dan sarana serta prasarana.

"Penerapan digital farming membutuhkan pendampingan yang intensif dari stakeholder terkait seperti pemerintah, komunitas petani dan bahkan dari kalangan akademisi di perguruan tinggi," ujarnya.

Untuk menggalakkan dan mengoptimalkan implementasi digital farming ini ia menyarankan pemerintah atau instansi terkait mulai membuat demonstrasi dan plot-plot binaan serta melaksanakan pelatihan digital farming bagi petani, terutama petani-petani milenial yang lebih peka dan paham dengan teknologi.

Tak hanya itu ia mengungkapkan, konsep training of trainer (ToT) merupakan salah satu cara efektif untuk memperluas jaringan informasi dan meningkatkan kualitas SDM sehingga menjadi contoh bagi petani-petani lain.

"Petani membutuhkan contoh sukses dan membutuhkan sarpras awal sebagai pemantik (trigger) untuk mulai bermigrasi dari pertanian konvensional menuju digital farming," tuturnya. (t3)

Sumber: Bangka Pos

Ikuti kami di

AA
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved