Jumat, 5 Juni 2026

Berita Bangka Selatan

2025, Kasus DBD di Bangka Selatan Turun hingga 51 Persen

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bangka Selatan mengalami penurunan selama triwulan pertama tahun 2025.

Tayang:
Bangka Pos
Grafis DBD di Bangka Belitung 

TOBOALI, BABEL NEWS - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bangka Selatan mengalami penurunan selama triwulan pertama tahun 2025. Tidak hanya itu, angka kematian akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti ini juga mengalami hal serupa. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin mengakui, selama tiga bulan terakhir kasus dan kematian akibat DBD mengalami penurunan. Bahkan penurunan kasus DBD mencapai persentase hingga 51,61 persen. Sementara tingkat kematian dampak penyakit DBD turun hingga lima kasus dibandingkan dengan periode sama tahun 2024.

"Memang tahun 2024 kasus DBD dua kali lipat dibandingkan dengan tahun 2025 ini," kata Slamet Wahidin, Senin (5/5).

Slamet Wahidin menerangkan pada periode Januari-Maret 2025 tercatat hanya terjadi 32 kasus DBD dengan satu kasus di antaranya menyebabkan meninggal dunia. Rinciannya pada bulan Januari sebanyak 13 kasus, bulan Februari 16 kasus dan bulan Maret tiga kasus. Sedangkan periode sama Januari-Maret tahun 2024 silam terdata mencapai 62 kasus dengan enam kasus kematian akibat DBD.

Jumlah tersebut terbagi pada bulan Januari dengan 29 kasus DBD, bulan Februari 26 kasus dan bulan Maret tujuh kasus. Lokus penyebaran kasus DBD paling tinggi tak berubah, masih berada di empat dari delapan kecamatan yang ada. Dominan pada puncak klasemen kasus DBD berada di Kecamatan Toboali disusul Kecamatan Airgegas, Kecamatan Payung dan Kecamatan Simpang Rimba.

"Jika dibandingkan kasus DBD tahun 2025 dengan tahun 2024 memang terjadi penurunan. Baik dari segi jumlah kasus maupun kematian," papar Slamet Wahidin.

Menurutnya, penurunan kasus DBD lantaran tindakan penanganan telah dilakukan di semua titik terjadinya kasus DBD. Mulai dari penanganan pengobatan hingga penyemprotan fogging dan pemberian bubuk abate. 

Pemerintah daerah terus mengedukasi masyarakat agar dapat meningkatkan kesadaran sekaligus berinisiatif melakukan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN secara mandiri. Masyarakat harus responsif dan peduli terhadap potensi tempat perkembangbiakan nyamuk DBD dan melakukan tindak pencegahan. 

Cara yang bisa dilakukan memberantas sarang nyamuk secara mandiri yakni dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan 3M+. Yaitu menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air dan mengubur barang barang bekas agar tidak terjadi genangan air bersih pada musim hujan. 

Bisa juga menaburkan bubuk abate dalam bak mandi atau kolam dan plusnya menanam tanaman pengusir nyamuk. Sebisa mungkin jangan sampai ada genangan air bersih di sekitar rumah. Karena genangan air jenis tersebut merupakan tempat favorit nyamuk penyebab DBD berkembang biak.

"Dampaknya sekarang tahun 2025 kita melihat timbulnya kesadaran di masyarakat bahwa PSN itu penting. Tidak harus menunggu musim hujan, ketika musim kemarau sebenarnya PSN itu tetap dibutuhkan," jelasnya.

Slamet Wahidin tetap mengimbau kepada masyarakat agar tidak lengah dan tetap menjaga lingkungan serta memberantas sarang nyamuk. "Pola ataupun perilaku masyarakat yang tidak sehat, khususnya dengan kondisi lingkungan sekitar rumah bisa menjadi faktor meningkatnya kasus DBD," pungkas Slamet Wahidin(u1)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved