Jumat, 24 April 2026

Berita Bangka Selatan

Perkuat Ketahanan Pangan di Bangka Selatan, Petani Rias Percepat Tanam Padi

Kelompok tani di sentra produksi di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, mempercepat proses olah tanah dan tanam padi.

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)
MENANAM PADI - Sejumlah petani di Desa Rias saat melakukan penanaman padi di areal persawahan, Selasa (10/6/2025). Hingga saat ini baru 40 persen areal persawahan tergarap pada musim tanam kedua. 

TOBOALI, BABEL NEWS - Kelompok tani di sentra produksi di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, mempercepat proses olah tanah dan tanam padi. Percepatan ini merupakan upaya konkret menjaga kesinambungan produksi pangan. Sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dan mengejar target produksi yang lebih tinggi.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Bangka Selatan, Tahang HS mengatakan, sejak awal bulan Mei 2025 petani Desa Rias mulai melakukan penanaman padi indeks pertanaman (IP) 200 atau musim kedua. Dari 1.800 hektare target tanam pada musim kedua, hingga saat ini sudah terealisasi sebesar 40 persen atau 720 hektare telah rampung ditanam. 

Sementara seluas 1.080 hektare lahan lainnya masih dalam proses penggarapan. "Kita mulai pengolahan lahan dari bulan April 2025 dan penanaman mulai awal Mei 2025," kata Tahang HS, Selasa (10/6).

Menurutnya, 720 hektare lahan yang telah tergarap tersebut tersebar di tiga dusun yang menjadi sentra pertanian yaitu Dusun Rias, Dusun Air Pairem dan Dusun SP C. Penanaman padi IP 200 melalui dua pola yang dilakukan oleh petani, pertama pola tanam melalui penyemaian dan kedua pola tabur benih langsung alias Tabela. Metode penanaman padi ini dilakukan dengan menyebarkan benih langsung ke lahan sawah, tanpa proses persemaian dan pindah tanam terlebih dahulu. 

Pihaknya menargetkan, Desa Rias secara keseluruhan ditargetkan rampung selesai penanaman pada akhir Juni 2025. Percepatan tanam IP 200 dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan cadangan pangan nasional. Sebagaimana sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto guna mewujudkan program swasembada pangan. "Kalau pengolahan lahan dilakukan paling cepat akhir Juni 2025 ini sudah selesai," ujar Tahang.

Adapun pada musim tanam kedua tahun ini lanjut dia, terdapat 1.800 hektare lahan sawah akan ditanami padi secara serentak. Luasan itu tersebar di empat dusun di Desa Rias, di antaranya yakni Dusun Air Pairem, Dusun  Rias , Trans Sp A dan Trans Sp B. 

Kondisi ini tidak terlepas petani yang menyambut positif kebijakan pemerintah menetapkan harga pembelian gabah kering panen sebesar Rp 6.500 per kilogram. Kewajiban itu berlaku bagi Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) dan penggilingan-penggilingan padi

Harga acuan itu setidaknya bisa berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan para petani padi. Karena jika harga gabah jatuh, petani akan merugi dan berdampak negatif pada produksi di musim tanam berikutnya. 

Sebelum adanya kebijakan itu petani kerap menjual gabahnya kepada tengkulak, tidak jarang tengkulak juga memainkan harga dengan alasan kualitas gabah petani kurang baik. "Ini menyebabkan petani terpaksa menjual dengan harga jauh di bawah harga pembelian pemerintah. Sehingga keuntungan para petani dalam sekali panen sangat terbatas," sebutnya.

Untuk menambah motivasi para petani, Tahang berharap bantuan optimalisasi lahan (Oplah) dari pemerintah segera turun. Baik itu benih maupun dana operasional pengelolaan lahan. Dengan begitu petani bisa terbantu dari dari segi pendanaan untuk dapat mewujudkan program swasembada pangan.

"Kami berharap bantuan segera turun. Jadi petani yang melakukan IP 200 dapat terbantu," pungkas Tahang(u1)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved