Rabu, 22 April 2026

Berita Pangkalpinang

Sekda Prihatin 77,58 Persen Rumah di Pangkalpinang Masih Beratap Asbes

Mie Go menyatakan keprihatinannya atas tingginya penggunaan asbes untuk atap rumah di Pangkalpinang.

Editor: suhendri
Bangka Pos/Andini Dwi Hasanah
Sekretaris Daerah Kota Pangkalpinang, Mie Go. 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Sekretaris Daerah Kota Pangkalpinang, Mie Go, menyatakan keprihatinannya atas tingginya penggunaan asbes untuk atap rumah di Pangkalpinang, mengingat serat asbes yang bersifat mikroskopis sangat berbahaya jika terhirup.

"Paparan asbes dapat menyebabkan penyakit serius seperti kanker paru, mesothelioma, hingga gangguan paru kronis. Maka kami akan segera menggencarkan sosialisasi ke masyarakat, berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan disperkim," kata Mie Go kepada awak media usai menghadiri kick off meeting Pokja PKP serta pelaksanaan program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP), Selasa (15/7/2025).

Berdasarkan data BKKBN tahun 2024 yang diolah dan dipaparkan dalam kick off meeting Kelompok Kerja Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP), tercatat 43.160 unit rumah di Pangkalpinang masih menggunakan atap asbes.

Jumlah ini setara dengan 77,58 persen dari total rumah yang ada di ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Data tersebut mengungkap bahwa asbes masih digunakan sebagai atap di berbagai tipe rumah, baik yang tergolong layak huni maupun tidak.

Selain asbes, jenis atap lain yang digunakan masyarakat adalah seng (6.685 unit), genteng (4.496 unit), beton (1.248 unit), dan lainnya dalam jumlah kecil seperti jerami, bambu, dan kayu sirap.

Penggunaan asbes untuk atap rumah tidak hanya berisiko bagi penghuni rumah, tetapi juga pekerja konstruksi yang kerap tidak dibekali alat pelindung diri (APD) dan pengetahuan tentang bahaya material ini.

Lebih jauh lagi, keluarga para pekerja bisa terpapar secara tidak langsung karena serat asbes dapat terbawa melalui pakaian kerja.

"Secara lingkungan, asbes tergolong limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun), tidak ramah lingkungan, dan tidak dapat didaur ulang. Proses pembuangannya pun memerlukan prosedur dan biaya khusus," ujar Mie Go.

“Dari sisi ekonomi, dampak jangka panjangnya juga cukup memberatkan. Biaya pengobatan penyakit akibat paparan asbes sangat tinggi, belum termasuk beban sosial yang ditanggung keluarga korban,” lanjutnya.

Pemerintah Kota Pangkalpinang, kata Mie Go, menyadari bahwa transisi dari atap asbes menuju material yang lebih ramah lingkungan tidak bisa dilakukan seketika.

Namun, dengan penguatan sosialisasi, insentif program rumah sehat, serta kolaborasi lintas sektor, masyarakat diharapkan secara perlahan mulai beralih dari penggunaan asbes.

"Risiko kesehatannya jauh lebih besar dibanding manfaat ekonominya. Maka pengurangan asbes menjadi hal mendesak demi melindungi generasi sekarang dan masa depan. Ke depan ini kami akan masif menyosialisasikan ini," tutur Mie Go. (t2)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved