Rabu, 29 April 2026

Berita Pangkalpinang

Pangkalpinang Produksi 150-160 Ton Sampah per Hari

Dinas Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang mencatat timbulan sampah di Pangkalpinang mencapai 150-160 ton per hari.

Tayang:
Editor: suhendri
Bangka Pos/Andini Dwi Hasanah
GUNUNGAN SAMPAH - Gunungan sampah di TPA Parit Enam, Pangkalpinang. Volume sampah di TPA Parit Enam yang sudah melebihi kapasitas mengakibatkan bau tak sedap kerap menyebar, terutama saat musim hujan. 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS — Dinas Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang mencatat timbulan sampah di Pangkalpinang mencapai 150-160 ton per hari.

Jumlah tersebut terdiri atas 50 persen sampai organik dan 50 persen sampah non-organik.

“Secara estimasi besarannya seperti itu,” kata Subkoordinator Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang Yusliriadi kepada Bangka Pos, Kamis (17/7/2025).

Adapun dari 150-160 ton produksi sampah per hari tersebut, sebanyak sekitar 125-140 ton dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Parit Enam yang kondisinya sudah membeludak.

Sisanya dimanfaatkan oleh masyarakat seperti pemulung, pengepul, bank sampah, dan bahan untuk produk-produk olahan kreativitas seperti ban bekas dan lain-lain.

“Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mengolah sampah, yakni pengolahan berbasis masyarakat dan pengolahan berbasis teknologi,” ujar Yusli, sapaan akrab Yusliriadi.

Yusli menambahkan, kedua hal tersebut mempunyai tantangan dan keterbatasan tersendiri.

Jika dilakukan pengolahan sampah berbasis masyarakat, tantangannya adalah membangun kesadaran masyarakat itu sendiri. Sementara itu, jika berbasis teknologi memerlukan biaya tinggi.

“Kalau berbasis teknologi kan kita perlu mesin-mesin. Misalnya mesin untuk memilah antara sampah organik dan non-organik. Terus ada mesin insinerator untuk pembakaran sampah dengan suhu tinggi. Tapi itu investasi biayanya tinggi, mahal-mahal semua mesin itu,” ujar Yusli.

“Sedangkan kondisi keuangan daerah belum memungkinkan untuk mengeluarkan anggaran pembelian mesin-mesin bernilai tinggi tersebut,” lanjutnya.

Oleh karena itu, menurut Yusli, pilihan yang paling memungkinkan saat ini adalah pengolahan sampah berbasis masyarakat. Meski begitu, hal tersebut juga mengalami tantangan tersendiri. 

“Tantangannya membangun kesadaran masyarakat, karena masyarakat kita mungkin budayanya beda dengan masyarakat di Pulau Jawa. Mungkin secara kondisi sosialnya juga berbeda,” ujar Yusli.

Dengan estimasi jumlah timbulan sampah 150-160 per hari tersebut, Yusli meyakini bahwa sampah-sampah itu bisa diatasi dan dikelola.

Salah satunya, dengan membangun tempat pengolahan sampah berbasis reduce, reuse, dan recycle (TPS 3R). 

“Cuma memang tidak bisa simsalabim langsung. Tahun ini misalnya kita bangun (TPS 3R–red) di satu kecamatan, tahun depan di kecamatan lain,” kata Yusli.

Menurut dia, ketika di suatu kecamatan sudah ada yang berhasil mengelola TPS 3R, maka akan mendorong membuka mata banyak orang, baik masyarakat maupun pembuat kebijakan untuk mengadopsi hal tersebut ke tingkat yang lebih tinggi.

“Tapi memang perlu waktu, perlu komitmen. Kalau sekaligus pasti nanti terkejut dengan anggarannya,” ujar Yusli. (u2)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved