Rabu, 3 Juni 2026

Bisnis

Rupiah Melemah 0,29 Persen ke Level Mendekati Rp17.000 per Dolar AS

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.23 WIB, rupiah anjlok 0,29 persen ke level Rp16.921 per dolar AS

Tayang:
Editor: suhendri
Kontan.co.id
Ilustrasi uang rupiah. Nilai tukar rupiah melemah di pasar spot pada pembukaan perdagangan Rabu (4/3/2026). Rupiah tertekan nyaris menyentuh Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). 

JAKARTA, BABEL NEWS - Sentimen risk-off yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran diperkirakan menjadi pemicu nilai tukar rupiah melemah 0,29 persen ke level hampir menyentuh Rp17.000 per dolar AS di pasar spot pada pembukaan perdagangan Rabu (4/3/2026).

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.23 WIB, rupiah anjlok 0,29 persen ke level Rp16.921 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berada dalam tekanan karena sentimen risk-off yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. 

Ketegangan geopolitik tersebut membuat investor global cenderung menghindari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah, dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.

“Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan sentimen risk-off dari perkembangan perang AS-Israel dan Iran,” ujar Lukman saat dihubungi Kompas.com, Rabu pagi.

Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak mentah dunia juga menjadi kekhawatiran pasar. Konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan energi global dan mendorong harga minyak naik.

Kondisi ini dapat membebani perekonomian global, termasuk Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi. Tekanan tersebut dapat memperlebar defisit energi dan meningkatkan risiko inflasi domestik.

“Kenaikan harga minyak mentah juga dikhawatirkan akan membebani ekonomi global termasuk Indonesia,” kata Lukman.

Dalam situasi tersebut, pergerakan rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih akan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah. Lukman memperkirakan rupiah akan berada pada kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950 per dollar AS.

Masih lebih baik

Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah hingga perdagangan Rabu (4/3/2026) masih sejalan dengan tren pelemahan mata uang Asia lainnya terhadap dolar AS.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, pelemahan rupiah secara month to date (mtd) sebesar 0,51 persen. 

Menurutnya, pelemahan ini masih lebih baik dibandingkan mata uang regional.

"Pelemahan rupiah masih aligned (selaras) dengan regional, relatif lebih baik dibandingkan regional," ujar Destry dalam keterangan tertulis, Rabu.

Dia menegaskan, BI akan terus berupaya menjaga stabilitas rupiah di tengah meluasnya dampak konflik di Timur Tengah.

Salah satu upaya yang dilakukan dengan melakukan berbagai intervensi pasar seperti transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Langkah intervensi pasar itu disertai dengan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

"BI akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah," kata Destry. 

Selain itu, BI menilai cadangan devisa yang tetap terjaga di level 154,6 miliar dolar AS pada akhir Januari 2026 masih cukup kuat untuk menopang langkah intervensi BI di pasar.

Masih masuknya arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama 2026 sebesar Rp25,7 triliun juga menandakan kepercayaan terhadap aset keuangan Indonesia tetap terjaga. (*)

Sumber: Kompas.com

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved