Kamis, 16 April 2026

Berita Bangka Selatan

35 Anak Bebas Stunting, Pemkab Bangka Selatan Gencar Tekan Kasus hingga Nol

Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan memastikan upaya penanganan stunting atau gangguan pertumbuhan pada anak harus digencarkan tanpa jeda.

Bangkapos.com/Cepi Marlianto
RAPAT MONEV STUNTING - Wakil Bupati Bangka Selatan, Debby Vita Dewi ketika foto bersama usai rapat monev stunting di Hotel Swarna Manunggal Kota Toboali, Selasa (21/10/2025). Monev tersebut dilakukan untuk menyelaraskan program penurunan prevalensi stunting selama satu tahun terakhir. 

TOBOALI, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan memastikan upaya penanganan stunting atau gangguan pertumbuhan pada anak harus digencarkan tanpa jeda. Saat ini jumlah anak stunting di daerah ini mulai berkurang, hasil dari kerja keras lintas sektor yang terus digencarkan selama setahun terakhir. 

Wakil Bupati Bangka Selatan, Debby Vita Dewi mengatakan, saat ini ada 640 anak yang teridentifikasi stunting di empat lokus utama. Yakni Desa Celagen dan Desa Pongok, Kecamatan Kepulauan Pongok. Lalu, Desa Rias, Kecamatan Toboali dan Desa Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar. 

Hampir sebagian besar anak telah mendapatkan intervensi gizi dan pendampingan keluarga secara intensif. Hasilnya 35 anak bahkan sudah menunjukkan perbaikan signifikan dalam status gizi. "Kini menunjukkan tren positif berkat sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta melalui program corporate social responsibility (CSR-Red)," kata Debby Vita Dewi, Selasa (21/10).

Debby Vita Dewi mengakui, meski tren penurunan anak stunting mulai terlihat, angka prevalensi secara keseluruhan di Kabupaten Bangka Selatan masih berada di angka 24,6 persen. Data tersebut berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024. Sedangkan pemerintah daerah menargetkan penurunan menjadi 18 persen pada tahun 2025, sejalan dengan target nasional 18,8 persen.

"Masih banyak pekerjaan rumah, terutama soal sanitasi, rumah layak huni, air bersih, dan edukasi keluarga. Semua ini berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak," jelas Debby.

Dirinya menegaskan, stunting merupakan persoalan serius yang berpengaruh langsung terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Karena itu, kata Debby Vita Dewi, percepatan penurunan stunting menjadi tanggung jawab bersama semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, kecamatan, desa, hingga masyarakat. 

Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Bangka Selatan, lanjutnya, memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan, mensinergikan, dan mengevaluasi pelaksanaan program di berbagai tingkatan. TPPS diharapkan mampu menyatukan langkah semua pihak agar penanganan stunting dilakukan secara utuh, integratif, dan berkelanjutan. 

Pemkab Bangka Selatan menjalankan tiga pendekatan utama dalam penanganan stunting. "Yakni intervensi gizi spesifik dan sensitif, pendekatan multisektor dan multipihak, serta pendekatan berbasis keluarga berisiko stunting," ucapnya.

Berbagai program inovatif untuk mempercepat penurunan stunting telah dilakukan. Mulai dari Yuk Krio Yuk atau Konsultasikan di RS Mengenai Informasi Kesehatan Secara Online. AIDA atau Ambulan Ibu dan Anak. Bestie Stunting alias Bersama Kita Bisa Entaskan Stunting. Moge akronim Motor Gesit Promosi Kesehatan dan Nyuling alias Penyuluhan Keliling.

Kemudian, Gardu Kemunting atau Gerakan Terpadu Kendalikan dan Turunkan Stunting. Ayo Kita Cegah Stunting (Ayu Ting Ting dan Pelayanan KB Gratis Keliling Kampung (Pelampung). Berbagai inovasi tersebut merupakan bentuk keseriusan Pemkab Basel dalam mempercepat penurunan stunting dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

"Semua merupakan upaya pemerintah daerah untuk memastikan program penurunan stunting berjalan secara terpadu dan berkesinambungan," pungkas Debby Vita Dewi(u1)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved