Berita Bangka Selatan
Pemkab Bangka Selatan Utamakan Pangan Lokal dalam Program Makan Bergizi Gratis
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan memastikan, produk pertanian lokal akan menjadi sumber utama bahan pangan program makan bergizi gratis.
TOBOALI, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan memastikan, produk pertanian lokal akan menjadi sumber utama bahan pangan program makan bergizi gratis (MBG). Kebijakan ini diproyeksikan memperluas pasar sekaligus menstabilkan pendapatan petani. Pemanfaatan hasil tani daerah penting untuk keberlanjutan pasokan dan gizi seimbang anak.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika mengatakan, pemanfaatan komoditas lokal sebagai fondasi pelaksanaan MBG. Khususnya ketika permintaan pangan sehat bagi anak sekolah meningkat setiap bulan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar untuk memperkuat rantai pasok lokal.
"Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan berkomitmen untuk mengutamakan produk pertanian dan pangan asli daerah dalam pelaksanaan program makan beragam, bergizi, seimbang, dan aman," kata Risvandika, Rabu (3/12).
Risvandika menyebut, mayoritas petani di daerah itu menggantungkan pendapatan pada penjualan harian. Kebijakan ini diharapkan mampu memastikan hasil panen memiliki pasar jelas dan harga lebih stabil.
Pasalnya, program MBG tidak hanya menjadi upaya pemenuhan gizi bagi anak-anak, tetapi juga menjadi pintu penguatan ekonomi keluarga petani. Karena itu seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) benar-benar konsisten memanfaatkan hasil tani lokal dalam setiap menu MBG.
Pemerintah ingin memastikan, tidak ada lagi SPPG yang mengambil komoditas dari luar daerah selama pasokan lokal tersedia. Pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap potensi dan ketersediaan komoditas lokal. Setiap SPPG akan mendapat pendampingan untuk mengatur pola pembelian langsung dari petani, agar pemanfaatan produk daerah lebih terencana dan tepat sasaran.
"Setiap SPPG agar secara konsisten memanfaatkan dan memberdayakan produk pangan yang dihasilkan oleh petani-petani lokal," ucap Risvandika.
Ia mengakui, kebijakan wajib pangan lokal itu semakin diperkuat dengan hasil inspeksi keamanan pangan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel komoditas yang digunakan di SPPG menunjukkan hasil negatif terhadap kandungan berbahaya, sehingga aman dikonsumsi anak-anak.
Temuan itu menjadi jaminan bahwa komoditas pertanian dari Bangka Selatan memiliki kualitas baik dan mampu memenuhi standar program gizi pemerintah. Pemerintah daerah menilai hasil inspeksi tersebut penting untuk menghapus keraguan masyarakat terhadap kualitas pangan lokal.
"Pemberlakuan wajib pangan lokal ini diharapkan tidak hanya menjamin keberagaman dan gizi seimbang bagi anak-anak sekolah, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pergerakan ekonomi petani lokal," sebutnya.
Risvandika optimistis petani lokal akan menjadi pihak yang paling diuntungkan. Dengan permintaan yang jelas dan pembayaran yang lebih teratur, mereka dapat memperluas lahan tanam, meningkatkan produksi, serta memperoleh pendapatan lebih stabil.
Pemerintah menargetkan kebijakan ini dapat menjadi motor penggerak ekonomi desa, sekaligus menekan pasokan dari luar daerah. "Produk lokal yang lebih segar juga mendukung kualitas makanan yang disajikan kepada anak-anak," kata Risvandika.
Sebelumnya, para petani semangka di Kabupaten Bangka Selatan meminta pemerintah daerah dapat melibatkan mereka dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG). Bagi mereka, program nasional itu bukan hanya memberikan manfaat bagi anak-anak sekolah. Tetapi juga dapat menjadi pintu penyerapan hasil pertanian lokal yang selama ini kerap menghadapi fluktuasi harga, terutama saat panen raya.
Harapan itu disampaikan Angga (38), petani semangka di Desa Gadung yang mengelola dua hektare lahan dengan sekitar 3.000 batang tanaman. Tahun ini meski cuaca penghujan menekan kualitas, ia masih mampu mencatatkan hasil panen mencapai 28 hingga 30 ton dalam sekali panen. Sementara untuk harga buah semangka dianggap kurang memuaskan bagi petani lokal.
"Alhamdulillah hasilnya lumayan. Kurang lebih mencapai 28-30 ton sekali panen," kata Angga, Senin (1/12).
Ia berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat membuka ruang kemitraan lebih konkret agar petani tidak lagi berada dalam posisi rawan setiap kali harga jatuh. "Kami siap ikut serta kalau dilibatkan. Petani lokal siap menyuplai," pungkas Angga. (u1)
| Dorong Layanan Terpadu hingga Desa, Pemkab Bangka Selatan Maksimalkan 122 Posyandu |
|
|---|
| Hari Keempat Pencarian Warga Hilang di Sungai Nyireh, Tim SAR Andalkan Alat Khusus CAPE |
|
|---|
| Pemkab Bangka Selatan Perkuat Peran Posbankum |
|
|---|
| Hadapi Penilaian Adipura 2026, Bangka Selatan Perkuat Sinergi Lintas OPD dalam Pengelolaan Sampah |
|
|---|
| Pemkab Bangka Selatan Usulkan Sumur Bor ke Kementan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Risvandika-Kadis-Pertanian-Basel.jpg)