Rabu, 6 Mei 2026

Berita Bangka Tengah

Tradisi Nujuh Hari di Desa Sungkap Kecamatan Simpang Katis, Wujud Kebersamaan Antar Warga

Sejak pagi, masyarakat yang didominasi para laki-laki terlihat mengusung dulang menuju ke Balai Desa Sungkap, Kecamatan Simpang Katis.

Tayang:
Bangkapos.com
TRADISI NUJUH HARI - Pelaksanaan tradisi Nujuh Hari dari masyarakat Desa Sungkap, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah, yang berlangsung pada Jumat (10/4). 

SIMPANG KATIS, BABEL NEWS - Sejak pagi, masyarakat yang didominasi para laki-laki terlihat mengusung dulang menuju ke Balai Desa Sungkap, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah, Jumat (10/4). Sesampainya di lokasi, ratusan dulang berisi aneka makanan tersebut langsung ditata dengan rapi oleh para pemuda setempat.

Masing-masing pemilik juga terlihat langsung menempatkan diri, bersama warga lain yang telah hadir lebih dahulu. Suasana berubah menjadi lebih hikmat, ketika seorang pemuka agama mulai memimpin zikir dan tahlil diikuti oleh seluruh warga. Setelah pembacaan doa selesai dilakukan, prosesi dilanjutkan dengan momen makan bersama aneka hidangan yang telah disiapkan.

Ketua Yayasan Masjid An-Nur Desa Sungkap, Rahmad Hidayat menyampaikan, kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi Nujuh Hari. Menurut Rahmad, kegiatan ini memang rutin dilakukan pada hari ke tujuh setelah ada salah satu warga yang meninggal dunia.

"Hari ini kita melaksanakan nganggung hari ke tujuh, kalau bahasa kita nujuh, setelah salah satu warga kita meninggal dunia beberapa hari lalu yakni Almarhum Zarkazi bin Zaib. Sesuai adat kita, kalau hari ke tujuh nya itu, kita nanggung bersama di balai desa," kata Rahmad.

Menurut Rahmad, sejarah tradisi ini sendiri telah dilakukan secara turun menurun dan terus dilestarikan oleh warga Desa Sungkap hingga saat ini. "Kalau untuk sejarah singkatnya, ini sudah dilakukan turun menurun. Insya Allah kita lestarikan terus," sebutnya.

Dirinya mengakui, selain digunakan untuk mengirimkan doa bagi mereka yang telah meninggal dunia, kegiatan ini merupakan wadah untuk saling bersilaturahmi. "Jadi ini untuk merekatkan silaturahmi dan menjaga kekompakan antar warga. Selain tentunya ajang saling mendoakan di antara kita," ujarnya.

Menurut Rahmad, kesadaran membawa hidangan dari masing-masing pribadi itu tentu sebuah wujud kebersamaan antar masyarakat. "Mungkin yang sebelumnya kami jarang bertemu, kemudian momen seperti ini lah kami bisa berkumpul bersama," jelasnya. (w4)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved