Terima Kasih Bangka Belitung, Izinkan Kami Terus Berbenah

Kesuksesan mereka di alfabet yang ditekuni saat ini tak lepas dari embel-embel Bangka Pos yang tak pernah bisa dipisahkan.

Penulis: Taufik Juwariyanto | Editor: Agus Nuryadhyn
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

ALBANA atau yang akrab disapa Bang Abeng dan Edy Jajang adalah dua dari sekian banyak nama yang tidak pernah bisa dipisahkan dari Bangka Pos.

Masih ada lusinan nama lain selain dua nama tersebut, seperti Agus Ismunarno, Bang Doy atau yang lain yang bisa dipastikan akan sulit memisahkan nama mereka dari Bangka Pos. Mau tidak mau, suka tidak suka, di belakang nama Abeng, Edi Jajang atau yang legend dengan panggilan Eja, atau bahkan Agus Ismunarno ada embel-embel Bangka Pos di belakang namanya.

Betul sekali, nama-nama tersebut saat ini sudah tidak berada di Bangka Pos. Namun secara kultural dan emosional, nama-nama tersebut selalu ada di Bangka Pos. Singkatnya, besarnya Bangka Pos tak pernah lepas dari tangan dingin mereka.

Pun sebaliknya, mocernya Eja, Abeng, atau sebut juga Fahrurozi atau Bang Oji tak lepas dari Bangka Pos yang menjadi almamater sekaligus kawah condrodimuko yang menempa mereka. Kesuksesan mereka di alfabet yang ditekuni saat ini tak lepas dari embel-embel Bangka Pos yang tak pernah bisa dipisahkan.

Oji, Eja, Abeng atau Agus Ismunarno adalah peletak dasar nilai yang hingga kini terus mengalir bersama Bangka Pos. Eksistensi Bangka Pos sebagai media pertama, terbesar dan paling berpengaruh di Bangka Belitung tak pernah bisa dilepaskan dari nama-nama tersebut.

Dan hari ini, 25 Mei 2021, Bangka Pos genap berusia 22 tahun dan Pos Belitung genap dua dasawarsa alias 20 tahun menjadi inspirasi bagi masyarakat Bangka Belitung. Untuk itu juga, di momen tersebut, Bangka Pos kembali mengundang Bang Abeng dan Bang Eja untuk 'pulang' menengok rumah lamanya, Bangka Pos.

Di hari spesial ini pula, mereka sengaja dihadirkan untuk kembali mengingatkan jika dalam perjalanan Bangka Pos ada yang kurang pas. Kita tahu, 20 tahun perjalanan sebuah media bukanlah jalan yang singkat.

Tantangan saat ini dengan tantangan 20 tahun atau 22 tahun lalu tentu tidaklah sama. Saat dahulu keterbatasan fasilitas jurnalis menjadi kendala terberat untuk menampilkan berita, kini justru sejumlah kemudahan yang dimiliki jurnalislah yang menjadi kendala paling memusingkan sebuah institusi pers.

Lahir 22 tahun lalu untuk Bangka Pos dan 20 tahun untuk Pos Belitung adalah era di mana ponsel adalah barang mahal. Saat itu layar ponsel masih monocrom dan yang tercanggih hanyalah ponsel yang bisa menyajikan pesan berjalan untuk menu SMS.

Bahkan kita masih ingat, satu SMS untuk jumlah karakter harus berbayar Rp300 dan jika karakternya kelebihan, kita kena tagihan dua kali. Tahun-tahun itu alat komunikasi masih menjadi sesuatu yang mahal dan premium.

Kita juga tentu masih ingat, teknologi fotografi juga masih menggunakan negatif film. Di mana untuk memperoleh foto yang bagus, reporter tak bisa mengandalkan layar yang melekat di kamera.

Situasi ini tentu jauh dari kondisi saat ini, di mana semua bisa diperoleh di gadget. Kirim naskah, kirim foto semua bisa dilakukan dengan ponsel cerdas yang harganya sangat-sangat terjangkau. Namun, justru kemudahan itulah yang ternyata justru menjadi kendala terbesar Bangka Pos dan tentu industri media lainnya.

Bagaimana tidak, jika dahulu untuk memperoleh berita reporter harus benar-benar terjun ke lapangan, melihat langsung tempat kejadian, jika ingin wawancara dengan orang harus melihat langsung mimik wajah narasumber. Tetapi sekarang, semuanya bisa diselesaikan lewat gawai.

Lebih ekstrem lagi, kemudahan yang ada saat ini, reporter bahkan tak perlu ke lapangan untuk menulis berita. Media sosial telah menyediakan semuanya, atau kalaupun bukan begitu, gawai canggih yang ada di tangan mereka bisa untuk menerima dan mengirim hasil berita kawan lain yang bahkan bekerja di media kompetitor.

Bang Abeng dan Bang Eja yang kita hadirkan di momen 20 tahun Pos Belitung dan 22 tahun Bangka Pos ini sadar betul. Meski mereka banyak berkisah tentang romantisme di era mereka, Bang Eja dan Bang Abeng paham betul bahwa tantangan mereka kala itu tak bisa dibandingkan dengan tantangan Bangka Pos saat ini.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved