Berita Bangka Selatan
Bangka Selatan Optimalkan Program Swasembada Pangan, Risvandika: Target Minimal 60 Persen
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan menargetkan sebesar 60 persen kebutuhan pangan lokal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat terpenuhi.
TOBOALI, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan menargetkan sebesar 60 persen kebutuhan pangan lokal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat terpenuhi. Hal itu seiring dengan program pemerintah pusat dalam mewujudkan swasembada pangan dan energi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika berujar, saat ini Kabupaten Bangka Selatan baru mampu memenuhi sebesar 39-40 persen kebutuhan pangan lokal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kondisi itu menjadikan Kabupaten Bangka Selatan sebagai kawasan prioritas nasional guna mensukseskan program swasembada pangan.
"Kita menargetkan kebutuhan pangan lokal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mampu terpenuhi minimal 60 persen dari Kabupaten Bangka Selatan," kata Risvandika, Senin (20/1).
Menurutnya, untuk mewujudkan target tersebut pihaknya tengah fokus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan dan menjaga ketahanan pangan. Misalnya, menambah luas area tanam menjadi 1.000 hektare pada tahun 2025 ini. Hal itu setelah pada musim tanam akhir tahun 2024 lalu pihaknya menambah luasan tanam padi sebesar 46 persen atau seluas 6.000 hektare. Di mana terdata areal persawahan di Kabupaten Bangka Selatan mencapai luas hingga 360.708 hektare dengan luas eksisting lahan sawah yang telah digarap mencapai 13.977 hektare.
Dari jumlah itu baru seluas 8.953,7 hektare lahan atau sebesar 70 persen tergarap secara optimal. Sedangkan 3.837,3 hektare lahan atau sebesar 30 persen sisanya belum tergarap maksimal dan masih membutuhkan perhatian lebih.
Dengan menambah luas areal tanaman pangan ditargetkan produktivitas program ketahanan pangan bisa terus meningkat. Pasalnya Kabupaten Bangka Selatan memiliki keunggulan komparatif sektor produksi sumber daya alam. "Jadi produktivitas ketahanan pangan bisa mencapai 7.000 hektare untuk tahun 2025 ini," jelas Risvandika.
Pihaknya juga terus menggenjot hasil produksi pertanian utamanya padi dan jagung dengan meningkatkan indeks pertanaman (IP). Sebagian besar para petani yang ada di Kabupaten Bangka Selatan menggunakan IP atau sistem budi daya yang berbeda-beda. Mulai dari IP 100, IP 200, IP 300 hingga IP 400 tergantung dari kondisi lahan dan perairan di persawahan masing-masing. IP merupakan cara untuk meningkatkan produksi padi tanpa memerlukan tambahan fasilitas irigasi dan pembukaan lahan baru.
Peningkatan IP sudah mulai berjalan di Desa Rias, Desa Serdang, Desa Pergam, Desa Kepoh, Desa Gudang dan Desa Sebagin serta Desa Betumpang. Sembari melakukan perbaikan terhadap infrastruktur pertanian di daerah penyangga ketahanan pangan.
"Perbaikan infrastruktur kita menunggu instruksi dari Balai Wilayah Sungai (BWS-Red). Target bulan Februari 2025 sudah dilakukan pelaksanaan lelang dan tender proyek perbaikan," ujarnya.
Lewat program ini, Risvandika berharap Kabupaten Bangka Selatan bisa menjadi daerah utama dalam mewujudkan program ketahanan dan swasembada pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pihaknya optimistis target produksi gabah kering dapat meningkat hingga 50 persen atau mencapai enam sampai tujuh ton per hektare lahan, khususnya di Desa Rias. Dari semula produksi gabah kering per hektare lahan hanya mencapai tiga sampai empat ton setiap kali panen.
Sehingga mampu mendukung penyelenggaraan transformasi ekonomi terutama lewat bidang pertanian dan semakin diminati oleh masyarakat. Termasuk menjaga stok bahan pangan walaupun memasuki cuaca ekstrem, pancaroba maupun El Nina dan El Nino. Karena untuk kebutuhan pangan lokal Kabupaten Bangka Selatan hanya baru memenuhi sebesar 40 untuk kebutuhan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung "Sedangkan 60 persen sisanya dikirim dan mengandalkan dari provinsi lain," pungkas Risvandika. (u1)
Genjot Produksi Padi dan Jagung
PEMERINTAH Kabupaten Bangka Selatan terus menggenjot produksi padi dan jagung pada tahun 2025 ini. Kebijakan tersebut diambil guna mencegah terjadinya krisis pangan sekaligus mewujudkan program swasembada pangan oleh pemerintah pusat. Dengan produksi pangan yang memadai, harga pangan dapat stabil dan tidak terlalu dipengaruhi oleh fluktuasi harga internasional.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika mengungkapkan, pemerintah daerah kini tengah fokus untuk mewujudkan program ketahanan pangan. Maka dari itu, produksi padi dan jagung bakal dioptimalkan pada tahun 2025 ini seiring dengan adanya kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan jagung di tingkat petani.
Di mana harga pembelian pemerintah gabah kering panen tingkat petani dari Rp6.000 menjadi Rp 6.500 per kilogram. Sementara harga acuan pembelian jagung juga naik dari Rp5.000 menjadi Rp5.500 per kilogram.
"Jadi kita akan mendorong produktivitas padi dan jagung agar lebih meningkat pada tahun 2025 ini. Sebagai upaya mewujudkan program ketahanan pangan," kata Risvandika, Senin (20/1).
| RSUD Kriopanting Andalkan Program AIDA dan KEPITING |
|
|---|
| Pemkab Bangka Selatan Mulai Terapkan WFH Bagi ASN Setiap Jumat, Unit Pelayanan Wajib di Kantor |
|
|---|
| RSUD Kriopanting Jadi Rujukan Warga 4 Kecamatan |
|
|---|
| Aksi Bersih-bersih Massal di Jalan Baher Toboali, 3 Ton Sampah Berhasil Diangkut |
|
|---|
| 158 Calhaj Bangka Selatan Penuhi Syarat Istitaah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/02012023dika.jpg)