Rabu, 22 April 2026

Berita Bangka Selatan

Pemkab Bangka Selatan Periksa Sampel Takjil Ramadan

Berbagai jenis takjil dan jajanan pasar dari para pedagang di Kota Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, diperiksa dan diuji sampel.

Bangkapos.com/Cepi Marlianto
PERIKSA JAJANAN -- Petugas kesehatan dari DKPPPKB Kabupaten Bangka Selatan ketika melakukan pemeriksaan jajanan dan takjil dari para pedagang di Kota Toboali, Kamis (13/3/2025). Dari uji sampel dilakukan dipastikan semua jajanan dan takjil dijual dalam kondisi aman. 

TOBOALI, BABEL NEWS - Berbagai jenis takjil dan jajanan pasar dari para pedagang di Kota Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, diperiksa dan diuji sampel. Langkah itu diambil guna mengetahui kandungan pada bahan makanan dalam menu takjil yang dijual selama Ramadan. Pemerintah ingin memastikan jajanan dijual pedagang aman dari zat berbahaya.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, dr Agus Pranawa mengatakan, sedikitnya terdapat 12 jenis jajanan dan takjil yang dilakukan uji sampel. Terutama jajanan yang kerap dijadikan kudapan favorit masyarakat saat berbuka puasa. Pemeriksaan dilakukan bersama dengan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) dan Puskesmas Toboali.

"Sampelnya kita ambil ada otak-otak, berbagai jenis kue dan lainnya yang memang kerap dijajakan oleh pedagang musiman, khususnya di bulan Ramadan," kata Agus Pranawa, Kamis (13/3).

Agus Pranawa menjelaskan, pengambilan sampel makanan dilakukan secara acak. Di mana tim kesehatan turut membawa sejumlah peralatan yang digunakan untuk pengujian sampel. Ada beberapa parameter uji kimia yang dilakukan untuk mendeteksi adanya bahan berbahaya yang dicampurkan dalam makanan.

Menurutnya, ada empat macam zat kimia berbahaya sering ditambahkan ke bahan makanan oleh pedagang nakal. Misalnya formalin yang merupakan zat pengawet biasanya turut disalahgunakan di dalam makanan. Lalu, boraks biasanya digunakan untuk menambahkan rasa gurih maupun kenyal di dalam makanan. Sedangkan rhodamin B untuk pewarna makanan merah serta metanil yellow untuk pewarna makanan kuning.

"Memang jajanan maupun kue yang warnanya sangat mencolok itu rentan menggunakan zat berbahaya. Untuk boraks biasanya bisa di makanan seperti otak-otak, pempek maupun bakso untuk pengenyal makanan," jelas Agus Pranawa.

Ia menambahkan, terdapat bahaya yang siap mengintai jika manusia mengkonsumsi boraks. Sementara dampak formalin dapat menyebabkan iritasi kemungkin parah, mata berair, gangguan pada pencernaan, hati, ginjal, pankreas, sistem saraf pusat, hingga bersifat karsinogen atau menyebabkan kanker. 

Juga penggunaan rhodamin B untuk makanan, jika dikonsumsi terlalu sering dapat menyebabkan kanker hati begitu pula metanil yellow jika dikonsumsi jangka panjang dapat menyebabkan kanker. "Alhamdulillah dari sampel yang kita ambil sampai saat ini belum ada makanan yang mengandung zat-zat berbahaya," tegasnya.

Dengan hasil tersebut, Agus Pranawa meminta para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk tetap mempertahankan kualitas produknya. "Pembinaan akan kita lakukan agar penjual makanan menggunakan zat pewarna maupun zat tambahan yang memang khusus untuk makanan," ujar Agus Pranawa(u1)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved