Rabu, 22 April 2026

Harga Semua Jenis Bawang di Pasar Air Itam Pangkalpinang Naik

Harga sejumlah bahan pokok dan bahan pangan di Kota Pangkalpinang mengalami kenaikan.

Editor: suhendri
Bangka Pos/Sela Agustika
BUMBU DAPUR - Warga memilih aneka bumbu dapur di Pasar Air Itam, Kecamatan Bukit Intan, Kota Pangkalpinang, Selasa (22/7). Harga sejumlah komoditas di pasar ini mengalami kenaikan. Kenaikan paling signifikan terjadi pada komoditas bawang merah. 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS  — Harga sejumlah bahan pokok dan bahan pangan di Kota Pangkalpinang mengalami kenaikan.

Menurut pedagang, kenaikan harga komoditas-komoditas tersebut menyebabkan penjualannya menurun. Sebab, pelanggan lebih berhati-hati dalam berbelanja. 

Pantauan Bangka Pos di Pasar Air Itam, Kecamatan Bukit Intan, Selasa (22/7/2025), kenaikan harga terjadi pada semua jenis bawang, kentang, dan kol.

Kenaikan paling signifikan terjadi pada komoditas bawang merah. 

Harga bawang merah brebes, misalnya, tembus Rp55.000 per kilogram atau naik Rp15.000 dari sebelumnya Rp40.000 per kilogram.

Sementara itu, harga bawang budu yang sebelumnya Rp25 ribu per kilogram naik menjadi Rp38 ribu per kilogram.

“Yang naik drastis memang (harga) bawang, kurang lebih sudah semingguan ini semua jenis naik. Bawang brebes sebelumnya cuma Rp40 ribu sekarang sudah Rp55 ribu. Bawang budu yang biasanya Rp25 ribu sekarang jadi Rp38 ribu, bawang putih juga naik,” ujar Yuli, salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Air Itam, Selasa (22/7/2025).

Selain bawang, beberapa komoditas sayur lain seperti kentang dan kol juga mengalami kenaikan harga meskipun tidak signifikan.  

“Kentang dan kol naik juga sedikit, kentang ini Rp18 ribu sampai Rp20 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp15 ribu,” ujar Yuli.

Dia menyebutkan, sebagian besar pasokan bumbu dapur yang dijual di pasar-pasar di Pangkalpinang masih berasal dari luar daerah, seperti Sumatera Selatan, Jawa, dan Sumatera Barat.

Menurut Yuli, kenaikan harga komoditas-komoditas tersebut menyebabkan penjualannya menurun.

“Yang beli sepilah karena mereka belinya dalam jumlah sedikit dari biasanya. Kalau dulu mereka beli sekilo, sekarang karena harga mahal, jadi mereka belanja juga berkurang,” tuturnya. (t3)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved