Selasa, 21 April 2026

Berita Bangka

Nelayan Matras Ditemukan Meninggal di Atas Perahu

Harmin, seorang nelayan dari Lingkungan Matras, Kelurahan Matras, Sungailiat, Kabupaten Bangka, ditemukan meninggal dunia di atas perahu.

Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra
RUMAH DUKA - Suasana rumah duka sesaat ketika jenazah Harmin hendak dibawa ke pemakaman. Harmin, seorang nelayan di Matras Sungailiat ditemukan meninggal dunia di atas perahu di Perairan Matras, Kamis (6/11/2025) pagi ini. 

SUNGAILIAT, BABEL NEWS - Harmin, seorang nelayan dari Lingkungan Matras, Kelurahan Matras, Sungailiat, Kabupaten Bangka, ditemukan meninggal dunia di atas perahu, Kamis (6/11). Informasi yang dihimpun, Harmin berangkat melaut dua hari yang lalu seorang diri. Namun, setelah beberapa hari, tidak ada kabar dari yang bersangkutan.

Keluarga korban dan para nelayan lainnya pun mencari lokasi perahu milik Harmin dan menemukan Harmin sudah meninggal dunia di atas perahu miliknya. Perahu tersebut kemudian dibawa ke pinggir pantai dan jenazah Harmin dievakuasi oleh nelayan setempat dan kemudian dibawa ke rumah duka.

Lurah Matras, Charie mengakui, saat ini jenazah korban sudah dibawa ke rumah duka. "Ya benar, tadi pagi nelayan kawan-kawan beliau lah yang evakuasi bantu bawa ke rumah itu," kata Charie.

Harmin memang sehari-harinya bekerja sebagai nelayan dan saat kejadian sedang memancing cumi-cumi. "Sudah beberapa hari enggak pulang. Mereka itukan para nelayan sana (Matras-red) punya grup, jadi mereka ada datanya siapa yang berangkat siapa yang pulang," jelasnya.

Harmin yang sudah dua hari dua malam tidak pulang tersebut kemudian dicari oleh nelayan lain dan ditemukan sudah meninggal dunia di atas perahu. "Meninggal di perahu itulah. Informasinya memang enggak ada sakit-sakit," ungkapnya.

Basarudin, rekan korban sekaligus Koordinator Lapangan (Korlap) Nelayan Pantai Matras menjadi orang yang pertama kali menemukan Harmin. Dia menyebut, Harmin berangkat melaut sejak Selasa (4/11) sore, seorang diri untuk mencari cumi-cumi.

Saat ditemukan pertama kali, Basarudin melihat lampu pancing di perahu milik Harmin masih menyala. Lampu tersebut biasanya diletakkan ke dalam air untuk menarik cumi-cumi pada malam hari untuk kemudian dipancing.

"Memang kami itu ada grup nelayan, jadi sudah tahu siapa-siapa yang masih di laut atau yang sudah di darat. Kita juga sesama kawan ini tahu lah kebiasan kawan, ada yang biasanya itu melaut sehari, ada yang dua hari," jelasnya.

Pada umumnya, Basarudin menyebut bahwa nelayan setempat biasanya pergi melaut mencari cumi selama satu malam, atau pergi sore hari dan pulang pagi atau dini hari esoknya. Diakui Basarudin, Harmin biasanya memang sering pergi mencari cumi selama dua hari dua malam. Namun dia dan rekan-rekan nelayan lainnya curiga lantaran Harmin tak kunjung kembali ke daratan.

Padahal, kondisi cuaca pagi ini dan kemarin tergolong cukup ekstrem lantaran angin kencang dan gelombang tinggi. "Karena enggak ketemu-ketemu (keberadaan Harmin-red), jadi saya inisiatif lah berangkat pagi tadi, sekalian niatnya mau mancing. Jadi kalau memang misalnya lah ketemu, enggak apa-apa ku langsung mancing," ungkapnya.

Akan tetapi, bukannya ikan yang didapat, Basarudin harus menerima kenyataan pahit lantaran justru menemukan rekan sesama nelayannya yang meninggal dunia. "Cuminya (hasil tangkapan Harmin-red) masih ada di perahu itu, tapi lah merah-merah kayak udah mau busuk, soalnya dia bawa esnya dikit. Jadi menurutku kayaknya meninggalnya itu pas malam kemarin (Selasa malam-red)," tuturnya. (u2)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved