Selasa, 21 April 2026

Berita Bangka Selatan

Pasokan Bumbu Dapur di Bangka Selatan Tersendat, Harga Cabai Melonjak Tajam

Sejumlah harga bumbu dapur di Pasar Terminal Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, kembali merangkak naik dalam sepekan terakhir.

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)
PEDAGANG BUMBU - Seorang pedagang bumbu dapur ketika tengah melayani pembeli di Pasar Terminal Toboali, Kamis (20/11/2025). Para pedagang kini mulai mengeluhkan naiknya harga tiga komoditas bahan pokok selama sepekan terakhir. 

TOBOALI, BABEL NEWS - Sejumlah harga bumbu dapur di Pasar Terminal Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, kembali merangkak naik dalam sepekan terakhir. Kenaikan terutama terjadi pada cabai besar, cabai kecil, dan bawang merah. 

Lonjakan harga paling menonjol terjadi pada komoditas cabai merah besar yang naik hingga kisaran Rp20.000-Rp23.000 per kilogram. Semula harga cabai merah besar dibanderol dengan harga Rp55.000 per kilogram. Kini harga jualnya mencapai Rp78.000 per kilogram. 

Pedagang bumbu dapur di pasar setempat, Nursiah (38) mengakui, cabai kecil pun tidak luput dari kenaikan. Menurutnya, harga cabai kecil kini mencapai Rp55.000. Padahal, beberapa pekan lalu harga masih di kisaran Rp40.000 per kilogram. 

Lonjakan serupa terjadi pada bawang merah. Harga yang semula Rp38.000 per kilogram kini naik menjadi Rp46.000. "Kenaikan harga cabai besar, cabai kecil dan bawang merah sudah seminggu terakhir," ujar Nursiah, Kamis (20/11) pagi. 

Diakuinya, kenaikan ini bukan disebabkan permainan harga pedagang, melainkan murni akibat langkanya barang di tingkat pemasok. Kenaikan tidak bisa dihindari karena pasokan dari luar daerah mulai terhambat. Sementara kondisi cuaca yang kurang bersahabat memperburuk kualitas barang yang masuk ke pasar tradisional. Banyak cabai yang tiba dalam kondisi busuk atau rusak karena perjalanan panjang.

Ditambah curah hujan tinggi di daerah penghasil. Hal itu membuat pedagang harus lebih selektif memilih stok, sementara jumlah yang layak jual semakin sedikit. Sebagian besar cabai yang dijual Nursiah berasal dari luar daerah, khususnya dari Pulau Jawa dan Sumatra. Adapun cabai lokal, menurutnya, belum mampu memenuhi kebutuhan pasar karena produksinya masih sangat terbatas.

"Cabai ini dari luar semua. Kalau cabai lokal baru sedikit. Jadi  apabila pengiriman terganggu, harga langsung melonjak," ucapnya.

Lonjakan harga cabai dan bawang ini dikeluhkan masyarakat, terutama ibu rumah tangga dan pedagang kuliner yang sangat bergantung pada bumbu dapur tersebut. Tidak sedikit konsumen mengurangi jumlah pembelian untuk menekan pengeluaran.

"Mudah-mudahan pengiriman banyak dan lancar. Insya Allah harga cabai bisa lebih murah dan stabil," sebut Nursiah. 

Pedagang lainnya, Mujiah (53) mengaku mulai berhati-hati mengambil stok untuk menghindari kerugian. Ia berharap situasi ini tidak berlangsung lama. 

Namun, ia mengakui harga di pasaran sangat bergantung pada kelancaran distribusi dari daerah sentra. Jika cuaca membaik dan pengiriman kembali normal, harga diprediksi akan turun secara bertahap.

Kenaikan harga ini juga mulai mempengaruhi pola belanja masyarakat. Dalam beberapa hari terakhir, jumlah pembeli yang datang ke lapaknya menurun. Jika pun membeli, mereka cenderung mengambil dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dibanding biasanya.

"Semoga pemerintah bisa mengambil kebijakan agar harga cabai dan bawang bisa kembali stabil," kata Mujiah. (u1)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved