Selasa, 5 Mei 2026

Berita Bangka Selatan

Pemkab Bangka Selatan Tindaklanjuti Temuan BPOM, Terasi Toboali Aman

Pemerintah langsung menyisir dan melakukan inspeksi peredaran terasi di Pasar Toboali untuk melindungi citra produk khas Kabupaten Bangka Selatan.

Tayang:
Bangka Pos
CEK TERASI - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DKUKMINDAG Kabupaten Bangka Selatan, Deka Indra ketika melakukan pengecekan terasi di Pasar Terminal Toboali, Kamis (27/11/2025). Pengecekan dilakukan pasca ditemukannya terasi mengandung pewarna tekstil. 

TOBOALI, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan bergerak cepat menindaklanjuti temuan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait dugaan kandungan pewarna tekstil pada produk terasi yang beredar di pasaran. Pemerintah langsung menyisir dan melakukan inspeksi peredaran terasi di Pasar Toboali untuk melindungi citra produk khas Kabupaten Bangka Selatan. Dipastikan produk terasi yang beredar tetap aman dan tidak membahayakan konsumen.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMINDAG) Kabupaten Bangka Selatan, Deka Indra mengatakan, pihaknya telah melakukan pengecekan lapangan begitu menerima informasi adanya temuan BPOM. Sejumlah petugas turun langsung ke Pasar Terminal Toboali untuk melakukan pengecekan terasi yang dijual para pedagang.

"Kami juga sudah melakukan pengecekan terhadap pedagang yang menjual terasi di Pasar Toboali," kata Deka Indra, Kamis (27/11).

Menurutnya, dalam pemeriksaan itu petugas turut mengambil sejumlah sampel terasi untuk dilakukan pengujian lebih lanjut. Sampel itu saat ini telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Bangka Selatan guna dilakukan pemeriksaan. Saat ini DKUKMINDAG masih menunggu hasil sampel yang dilakukan pengujian. 

Ia menegaskan berdasarkan hasil pemeriksaan sementara dan pengawasan rutin di lapangan menunjukkan bahwa terasi asli buatan pengrajin tradisional Toboali dipastikan aman. Terasi hasil olahan pengrajin lokal dijamin tidak mengandung bahan berbahaya seperti rhodamin B atau zat pewarna tekstil. 

Selama ini petugas penyuluh di lapangan selalu melakukan pendampingan secara langsung kepada para pengrajin terasi lokal. Para pengrajin selalu diingatkan agar tidak menggunakan bahan pewarna maupun pengawet berbahaya dalam olahan terasi guna menjaga kepercayaan konsumen.

"Kami pastikan terasi hasil pengrajin tradisional asli Toboali tidak ada yang mengandung bahan-bahan berbahaya," tegas Deka Indra.

Sebagai tindak lanjut, DKUKMINDAG turut memberikan edukasi langsung kepada para pedagang agar tidak menjual produk yang membahayakan konsumen. Menariknya, saat dilakukan peninjauan lapangan, para pedagang justru menunjukkan sikap kooperatif dan antusias. 

Banyak dari mereka secara sukarela meminta produk yang mereka jual untuk diuji. Pembinaan akan dilakukan secara lebih intensif, tidak hanya untuk produk terasi, tetapi juga terhadap potensi penggunaan bahan berbahaya lain seperti boraks.

"Karena pedagang merasa bertanggung jawab terhadap terasi yang dijual. Jangan sampai membahayakan masyarakat," pungkas Deka Indra(u1)

Buka Proses Asli Produksi
SEORANG pengrajin terasi, Rusyaden (63) mengaku terkejut sekaligus khawatir atas temuan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pangkalpinang. Ia menilai, isu terasi berbahaya berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap produk lokal yang selama ini dikenal berkualitas. 

"Alhamdulillah, terasi yang saya buat ini murni dari hasil tangkapan sendiri. Semua bahannya alami, tidak ada campuran apa pun, hanya garam makanan," kata Rusyaden, Kamis (27/11).

Menurutnya, masyarakat Toboali secara turun-temurun mempertahankan cara pembuatan terasi tradisional tanpa tambahan bahan kimia. Ia pun turut menjelaskan proses pembuatan terasi tradisional yang selama ini ia jalani. 

Proses pembuatan terasi dimulai dari mencuci udang segar, kemudian dijemur hingga kadar airnya berkurang. Setelah itu, udang ditumbuk dan dicampur garam halus yang berfungsi sebagai penambah rasa sekaligus pengawet alami. Adonan lalu difermentasi semalaman sebelum dijemur kembali. Tahap terakhir ditumbuk sampai halus, lalu kemudian dibentuk menjadi terasi seperti yang dijual di pasaran. 

Rusyaden mengakui, warna terasi alami memang tidak selalu seragam. Warna terasi sangat dipengaruhi oleh jenis udang dan proses fermentasi yang dilakukan. Terasi asli Toboali tidak memiliki warna merah cerah menyala ataupun terlalu pucat. "Jadi tidak perlu pakai pewarna. Udang itu sendiri sudah memberi warna khas terasi," ucapnya.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved