Senin, 20 April 2026

Berita Belitung Timur

Dinas Kesehatan Belitung Timur Ajak Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan terhadap TBC

Warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC diminta untuk mengikuti terapi pencegahan tuberkulosis (TPT)

Editor: suhendri
posbelitung.co/Yunita Karisma Putri
RAPAT KOORDINAS - Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Timur menggelar rapat koordinasi tim percepatan penanggulangan tuberkulosis di ruang rapat kantor Bupati Belitung Timur, Rabu (10/12/2025). Kasus TBC di Beltim mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2025. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Beltim, ditemukan total 353 kasus pada tahun ini. Adapun pada 2024, Dinas Kesehatan Beltim menemukan total 271 kasus TBC. 

MANGGAR, BABEL NEWS - Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Timur terus mengajak warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit tuberkulosis (TBC).

Selain itu, warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC diminta untuk mengikuti terapi pencegahan tuberkulosis (TPT). 

Pengelola Program TBC Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Beltim, Gunawan Setiyadi, menyebutkan, ajakan tersebut disampaikan menyusul temuan 353 kasus TBC baru di Beltim pada tahun 2025.

“Para penderita TBC harus diinvestigasi siapa saja yang dekat, seperti keluarga serumah atau teman dekat. Orang terdekat ini harus mendapatkan TPT karena harus minum obat pencegahan. Namun, rata-rata menolak karena merasa sehat,” kata Gunawan kepada Pos Belitung, Kamis (11/12/2025).

Dia menyebutkan, tujuan utama TPT adalah memastikan agar orang yang terpapar bakteri TBC tidak berkembang menjadi sakit.

Selain melindungi individu, langkah ini juga penting untuk menekan risiko penularan yang lebih luas di keluarga maupun lingkungan sekitar.

Gunawan mengatakan, terapi pencegahan tuberkulosis berlangsung antara 3 sampai 6 bulan, tergantung jenis obat yang digunakan.

Terdapat empat pilihan obat yang diberikan dengan mekanisme dan lama konsumsi berbeda.

Isoniazid diminum setiap hari selama enam bulan, sedangkan kombinasi isoniazid dan rifampisin dikonsumsi setiap hari selama tiga bulan.

Ada pula kombinasi isoniazid dan rifapentine yang diminum seminggu sekali selama tiga bulan.

Sementara itu, bagi kontak erat pasien dengan TBC resisten obat, digunakan kombinasi levofloxacin dan etambutol yang diminum setiap hari selama enam bulan.

“Untuk pilihan obat ditentukan oleh dokter berdasarkan umur, ketersediaan obat, dan dosis yang disesuaikan dengan berat badan,” ujar Gunawan.

Pihaknya berharap masyarakat makin memahami manfaat TPT sebagai perlindungan dini, sekaligus berperan aktif dalam mendukung percepatan eliminasi TBC di Belitung Timur.

Adapun Dinas Kesehatan Beltim saat ini memperkuat berbagai strategi pencegahan TBC, mulai dari edukasi langsung di masyarakat, skrining dini di fasilitas kesehatan, kunjungan rumah oleh tenaga surveilans, hingga peningkatan kapasitas kader kesehatan di desa-desa. (y1)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved