Berita Pangkalpinang
APPI Babel Gelar Webinar Nasional
Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (APPI) Wilayah Bangka Belitung (Babel) menggelar Webinar Nasional.
PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (APPI) Wilayah Bangka Belitung (Babel) menggelar Webinar Nasional bertajuk "Bom Waktu Kesiapan Sekolah, Ketika Label Matang Tak Sesuai Kenyataan, Antara Etik dan Tekanan Pasar", Sabtu (28/3).
Kegiatan ini diikuti sebanyak 108 peserta yang terdiri dari psikolog dan pengurus APPI dari berbagai daerah di Indonesia. Webinar ini juga menjadi bagian dari rangkaian Road Show to Rakernas APPI Pusat.
Ketua APPI Wilayah Babel, Wahyu Kurniawan, menjelaskan tema tersebut diangkat karena maraknya fenomena di lapangan, di mana orang tua cenderung memaksakan anak untuk masuk sekolah sebelum usia ideal, yakni di bawah 7 tahun.
"Banyak orang tua berbondong-bondong menyekolahkan anak lebih dini, bahkan dengan unsur pemaksaan. Ini menjadi perhatian serius karena tidak semua anak memiliki kesiapan yang sama," ujar Wahyu Kurniawan.
Ia juga menyoroti persoalan penggunaan alat tes kematangan sekolah yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi standar. Ia menyebut, masih ditemukan praktik penggunaan alat tes yang terbatas, tanpa didukung metode penting lainnya seperti observasi dan wawancara mendalam.
"Penilaian kesiapan sekolah tidak bisa hanya mengandalkan satu alat tes. Harus ada kombinasi metode agar hasilnya akurat dan dapat dipertanggungjawabkan," tegasnya.
Ketua APPI Pusat, Weny Pandia menekankan pentingnya pembaruan ilmu pengetahuan bagi para psikolog serta komitmen terhadap kode etik profesi. "Psikolog harus selalu update dengan perkembangan ilmu, bekerja secara rapi, akurat, dan memperhatikan setiap detail tumbuh kembang anak. Etika profesi menjadi hal utama yang tidak boleh ditawar," katanya.
Ia juga mengajak para peserta untuk terus mengikuti berbagai agenda ilmiah APPI sebagai wadah pengembangan kompetensi profesional.
Narasumber kegiatan, Indun Lestari Setyono memaparkan, kesiapan sekolah anak tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga oleh berbagai aspek perkembangan. Menurutnya, anak yang dinilai siap sekolah harus memiliki kemampuan dasar seperti mampu duduk tenang, fokus, menjaga konsentrasi, serta memiliki kesiapan dalam aspek persepsi penglihatan dan pendengaran.
"Selain itu, aspek body image, motorik halus dan kasar, tonus otot, hingga koordinasi mata dan tangan juga menjadi indikator penting," jelasnya.
Ia menegaskan, keputusan menyekolahkan anak di bawah usia 7 tahun harus melalui proses asesmen yang komprehensif, menggunakan alat tes terstandar, serta dilengkapi dengan observasi dan wawancara, termasuk riwayat kelahiran anak. "Jika anak belum matang, maka perlu dipikirkan intervensi yang tepat, seperti terapi atau stimulasi tertentu untuk mengejar ketertinggalan perkembangan," tambahnya. (t2)
| Pembangunan Gedung Sekolah Yayasan YPAC Pangkalpinang Dimulai |
|
|---|
| Pemprov Bangka Belitung Ajak Para Pihak Awasi SPMB |
|
|---|
| Dokter Ratna Dituntut 4 Tahun 6 Bulan Penjara |
|
|---|
| Enam Bulan Tercatat 32 Kasus, Pangkalpinang Perkuat Upaya Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan |
|
|---|
| 13 Warga Binaan Beragama Buddha di Lapas Narkotika Pangkalpinang Terima Remisi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/babel/foto/bank/originals/APPI-Wilayah-Bangka-Belitung-Babel-menggelar-Webinar-Nasional.jpg)