Kamis, 16 April 2026

Kiai Sholeh Yang Mengajarkan Kartini Mengaji, Mengusulkan Tafsir Al-Quran Dalam Bahasa Jawa

Bernama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat, merupakan lahir dari keluarga  bangsawan. 

Editor: Agus Nuryadhyn
istimewa
Kartini kecil yang cerdas belajar mengaji dengan Kiai Sholeh Darat 

Kartini punya usul kepada Kiai Sholeh

"Kiai saya tadi diajarkan tafsir Alquran memakai bahasa Jawa hati saya tentram, tolong Kiai tafsirkan Alquran seluruhnya ke dalam bahasa Jawa agar untuk pegangan teman-teman saya Putri Putri Jawa."

Kenapa waktu itu Kartini tidak mengatakan Putri Indonesia karena zaman Kartini nama Indonesia belum lahir.

Kiai Sholeh mengatakan bahwa untuk menafsirkan Alquran itu tidak mudah dan tidak semua orang diperbolehkan menafsirkan Alquran

Orang yang boleh menafsirkan Alquran dengan syarat harus punya ilmu bantu tafsir yang lengkap dari gramatika Arab, nahwu, shorof, ilmu badi, maani, bayan, muhasnatil kalam, nasikh mansukh, asbabul wurud, asbabun nuzul, dan lain sebagainya baru diperbolehkan menafsirkan Alquran.

Kartini dan Kiai Sholeh Darat guru ngajinya sejak usia 13 tahun
Kartini dan Kiai Sholeh Darat guru ngajinya sejak usia 13 tahun ((istimewa))

Tidak mudah menafsirkan Alquran.

Lalu kata Kartini, "Kiai saya punya usul untuk Kiai soal menafsirkan Alquran memakai bahasa Jawa karena saya yakin semua ilmu sudah kyai miliki."

Kyai Saleh pun menangis mendengarkan ucapan Kartini sambil menundukkan kepala.

Ada anak kecil yang begitu cerdasnya mengusulkan membuat tafsir Alquran.

Lalu pada suatu saat Kartini pun dipanggil dan Kiai sholeh mengatakan "doakan saja ya mudah-mudahan saya bisa menahan nafsiri Alquran 30 juz. "

Lalu dimulailah penafsiran Alquran ke dalam bahasa Jawa dan baru selesai 13 juz dicetak yang pertama di Singapura dengan judul Faidir Rohman fii Tafsiri Ayatil Quran karya Kiai Sholeh usul RA Kartini.

Litbang Kementerian Agama menyatakan tafsir faidur Rohman adalah tafsir pertama di Asia tenggara.

"Maka saya minta ibu ibu kalau hari Kartini jangan hanya ke salon kecantikan saja contohlah Kartini dalam membaca Alquran," tutur Kyai Achmad Chalwani

"Sayangnya sejarah Kartini mengaji Alquran pun tidak pernah diceritakan di bangku sekolah yang diterangkan hanya Habis Gelap Terbitlah Terang," pungkas Kiai Achmad.

Dengan kisah ini maka wajarlah jika di dalam lagu gubahan WR Supratman, RA Kartini disebut sebagai"pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka."

Sumber: Warta Kota
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved