Minggu, 12 April 2026

Kabar Belitung

Perajin Tahu Terancam Tak Produksi, Imbas Kenaikan Harga Kedelai yang Semakin Melejit

Kenaikan harga kacang kedelai beberapa waktu terakhir dikeluhkan oleh perajin tahu di Belitung.

Editor: Rusaidah
Bangka Pos/Adelina Nurmalitasari
Perajin tahu saat mengiris tahu, Selasa (22/2). 

TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Kenaikan harga kacang kedelai beberapa waktu terakhir dikeluhkan oleh perajin tahu di Belitung. Akibatnya, usaha tahu yang digeluti terancam tak beroperasi jika harga bahan baku terus meningkat.

Menurut Perajin Tahu di Dusun Air Serkuk, Desa Air Saga, Belitung Aep Saepuloh sebelumnya harga kacang kedelai yang dibelinya dipasaran seharga Rp375 ribu per karung berisi 50 kilogram, berangsur-angsur naik hingga kini dibelinya seharga Rp570 ribu. Ini pun mengimbas signifikan terhadap modal produksi tahu.

"Kabarnya bahkan harga kedelai ini mau naik lagi sampai Rp600 ribuan. Kalau gitu, kami bisa-bisa tidak produksi dulu, ini saja untungnya tipis," katanya ketika ditemui Bangka Pos Group, Selasa (22/2).

Berbagai cara dilakukan Aep untuk menyiasati kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku tahu. Sebelumnya ia sempat memperkecil ukuran tahu, namun hal tersebut mendapat protes dari pembeli.

Akhirnya ia pun terpaksa sedikit menaikkan harga tahu. Dari tempat produksinya per 50 tahu ia jual seharga Rp18.000, naik Rp1.000 dari yang sebelumnya ia jual Rp17.000.

"Mau tidak mau dinaikkan sedikit. Kalau naik lagi kasian nanti pengecer-pengecer. Susah memang, kalau minyak goreng naik orang-orang paham, tapi kalau kedelai ini banyak yang tidak tahu, jadi kami bagaimana lah caranya agar bisa produksi meski untungnya tipis," ucap pria asal Ciamis, Jawa Barat ini.

Dari tempat produksi tahu miliknya, Aep memproduksi ribuan tahu per hari. Setidaknya, dalam sehari ia membutuhkan lima karung kacang kedelai.

Usaha produksi tahu yang digelutinya selama 13 tahun ini terancam berhenti beroperasi hingga merumahkan sejumlah pekerja.

"Kalau harapan, kami juga bingung, karena memang kenaikan kedelai ini seluruh dunia. Kami hanya mengharap pemerintah punya kebijakan yang pro terhadap usaha-usaha olahan kedelai seperti kami," tuturnya.

Sementara perajin tahu di Belitung hanya bisa pasrah dengan kondisi kenaikan harga bahan baku kedelai. Saat ini harga sekarung kedelai berisi 50 kilogram mereka beli seharga Rp570 ribu atau Rp11.400 per kilogramnya. Harga tersebut berangsur-angsur meningkat dari sekitar Rp400 ribu dalam dua tahun lalu.

"Biasanya paling setahun naik 10 ribu per karungnya. Kalau ini naik terus, minggu lalu kami beli harganya Rp565 ribu sekarung, sebelumnya lagi Rp535 ribu sekarung, sekarang belinya Rp570 ribu," kata Perajin Tahu di Kepayang, Desa Buluhtumbang, Belitung Andi Kustiandi.

Menyiasati kenaikan harga kedelai, sementara ini Andi masih berupaya mempertahankan harga dan ukuran, dengan harapan harga kedelai segera menurun. Jika ukuran diperkecil, ia merasa kasihan dengan pedagang. Sementara jika kedelai dikurangi, maka kualitas tahu menipis.

Mengikuti komunitas perajin tahu di Pulau Jawa, ia mengatakan harga kedelai memang membuat banyak perajin olahan kedelai tersebut mengeluh. Termasuk perajin tahu-tempe di Jakarta sampai banyak yang mogok produksi.

"Kalau di sini, jalani dulu selama ada lebihnya buat makan. Kalau udah mentok, tidak ada (untung) untuk makan, mau gimana, paling mengubah ukuran yang penting masih bisa produksi. Kalau naikin harga berat, pedagang mau jual berapa," ucap Andi.

Ia mengatakan, usaha produksi tahu kini memang menghadapi banyak cobaan. Mulai dari penurunan produksi akibat menurunnya permintaan saat pandemi, kenaikan harga bahan bakar minyak, hingga kenaikan harga kacang kedelai.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved