Kabar Pangkalpinang

2022, BI Targetkan 5.000 Onboarding UMKM

Bank Indonesia akan melakukan onboarding usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang ditargetkan 5.000 pada tahun 2022 ini.

Editor: Rusaidah
Bangka Pos/Andini Dwi Hasanah
Pelaku UMKM saat mengikuti pameran di Alun-alun Taman Merdeka Pangkalpinang beberapa waktu lalu. 

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Bank Indonesia akan melakukan onboarding usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang ditargetkan 5.000 pada tahun 2022 ini.

Onboarding UMKM ini, memanfaatkan platform digital dalam penjualan atau pemasarannya, agar tercipta ekosistem ekonomi digital yang guna menumbuhkan ekonomi daerah.

"Kalau untuk UMKM onboarding itu 5.000 targetnya, yang sudah sekarang sudah banyak, pada awal tahun ini saja sudah ratusan UMKM," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bangka Belitung (Babel) Budi Widihartanto beberapa waktu lalu.

Namun untuk menyukseskan kegiatan ini perlu sinergi antar Bank Indonesia dengan pemerintah daerah.

"Kita berusaha membantu para UMKM agar terhubung dengan market secara online, ini terus kita lakukan agar bisnis mereka meningkat. Ini perlu kolaborasi Pemprov dan Dekranasda Babel," jelasnya.

Tak hanya itu, BI juga mendorong agar para UMKM menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dalam transaksi pembayaran.

"Tak hanya onboarding tapi bagaimana menggunakan QRIS pada sistem pembayaran mereka, agar pembeli mudah melakukan pembelian, ini target kita bersama, kedepan harus mencapai 15 juta UMKM se-Indonesia," katanya.

Selain para penjual yang paham akan digital ekonomi, para pembeli juga akan diedukasi untuk pemahaman serupa.

"Termasuk juga ekosistemnya ini, bukan hanya UMKM, tapi masyarakat harus membiasakan diri melakukan pembayaran secara non tunai, sekarang sudah banyak anak-anak muda yang membayar non tunai, hanya saja yang belum terbiasa itu umur 40 ke atas, maka proses sosialisasi dan edukasi terus kita gaungkan," katanya.

Dosen STIE Pertiba Pangkalpinang, Suhardi tak menampik kondisi saat ini berada pada lingkungan bisnis yang memerlukan kecepatan, perubahan besar dalam semua aspek.

"Semuanya didorong oleh perkembangan yang pesat pada teknologi dan informasi. Ruang luas ekonomi digital berdampak besar pula pada kebutuhan percepatan transformasi digital. Termasuk membangun kesadaran dan pemahaman para pelaku usaha/UMKM untuk juga segera bertransformasi dalam menjalankan bisnisnya," ujar Suhardi, Senin (7/3).

Dia menilai keberadaan ekosistem ekonomi digital akan membuat pelaku usaha terhubung untuk membangun koneksi bisnis, mendorong transformasi, dan meningkatkan peluang hasil bisnis yang lebih baik.

"Tanpa adanya kesadaran dan pemahaman yang cukup, pelaku usaha atau UMKM tidak akan pernah mendapatkan sharing ekonomi dari ekonomi digital," katanya.

Suhardi optimistis dengan literasi dan edukasi yang baik, tentu masyarakat sangat siap untuk bisa beralih ke pembayaran non-tunai.

"Bisnis itu landasannya kepercayaan dan keyakinan. Untuk itu upaya cerdas dan keras kita untuk meyakinkan masyarakat tentang tata cara, fungsi dan manfaat serta berbagai kemudahan yang ditawarkan melalui pembayaran non tunai," katanya.

Dia menyebutkan memang tidak mudah dan perlu waktu panjang, namun sejarah telah menunjukkan bahwa peradaban manusia kuno dengan sistem transaksi dengan tukar menukar (barter), standar emas, pembayaran dengan mata uang, sampai pada sistem modern sekarang ini karena manusia teredukasi dan terliterasi secara baik. (s2)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved