Kabar Belitung
Dulunya Kubangan Air, Kampung Amau Kini Jadi Taman Begalor
Kolong retensi yang berfungsi menampung debit air hujan disulap menjadi fasilitas umum bernama Taman Begalor.
TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Hasil kolaborasi antara Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Kepulauan Bangka Belitung, Kementerian PUPR dengan Pemkab Belitung menciptakan sebuah taman di tengah perkampungan padat penduduk.
Kolong retensi yang berfungsi menampung debit air hujan disulap menjadi fasilitas umum bernama Taman Begalor.
Meskipun dibangun di area terbatas, Taman Begalor memiliki fasilitas cukup lengkap mulai dari tempat duduk, gazebo, panggung pertunjukan beserta hall dan toilet.
Dengan sentuhan kolaborasi warna-warni dan balutan lantai keramik coklat membuat taman yang terletak di Kampung Amau, Kelurahan Parit, Kabupaten Belitung itu kian memikat mata.
"Taman ini dulunya lahan kosong seperti kubangan dengan elevasi di bawah nol dan kalau hujan pasti banjir," ujar Perwakilan BPPW Kepulauan Bangka Belitung untuk Pulau Belitung Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR Wotto Iskandar kepada Bangka Pos Group, Jumat (22/7).
Ia menjelaskan pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR terus fokus menyelesaikan persoalan kawasan kumuh perkotaan. Satu diantaranya wilayah Kampung Amau yang selalu menjadi langganan banjir.
Setelah melakukan survei dan uji coba, akhirnya area Taman Begalor dibangun kolam retensi yang berfungsi menampung air hujan sebelum dialirkan ke sungai.
"Jadi bukan menghilangkan tapi mengurangi banjir. Air hujan itu parkir dulu di sini masuk ke kolam, lalu dialirkan ke sungai," katanya.
Wotto mengatakan dalam pembangunan Taman Begalor, Pemkab Belitung turut dilibatkan khususnya Bidang Pemukiman, Dinas PUPR.
Bahkan mereka menyediakan suplai listrik, pompa air dan tanaman untuk mempercantik taman tersebut.
"Kolaborasi itu menjadikan tempat yang dulunya kumuh menjadi tempat wisata," katanya.
Menurutnya pasca pembangunan, Taman Begalor sudah diserahterimakan kepada Pemkab Belitung pada Kamis (21/7) lalu.
Kemudian, pengelolaanya akan diserahkan kepada kelompok masyarakat setempat agar bangunan tersebut tetap terawat dan mendatangkan manfaat.
"Kemarin saya lihat banyak ibu-ibu membawa anaknya ke sini. Jadi sekarang mereka tidak perlu jauh-jauh untuk bersantai," katanya.
Wotto berharap masyarakat maupun pemda terus berupaya menyelesaikan persoalan sampah yang dapat membuat kawasan menjadi kumuh.
Ia menilai Belitung memang sudah dikenal sebagai daerah wisata tapi pengelolaan sampah masih menjadi masalah.
"Seperti di sungai ini, masih banyak sampah plastik. Apalagi kalau hujan, sampah-sampah dari hulu itu akan mengalir ke laut," katanya. (dol)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/babel/foto/bank/originals/Suasana-Taman-Begalor-yang-terletak-di-Kampung-Amau-Kelurahan-Parit-Kecamatan-Tanjungpandan.jpg)