Berita Bangka Tengah

Soroti Perihal Stunting dan ODF di Bangka Tengah, Algafry Ancam Copot Camat

Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman memberikan ultimatum kepada para camat yang ada di wilayahnya dalam menangani permasalah stunting.

Bangka Pos/Arya Bima Mahendra
Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman saat diwawancara. 

KOBA, BABEL NEWS - Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman memberikan ultimatum kepada para camat yang ada di wilayahnya dalam menangani permasalah stunting. Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan dalam acara peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-58 sekaligus peresmian RSUD Ibnu Saleh di Desa Sungkap, Kecamatan Namang, Rabu (30/11).

Menurutnya, Rumah Sakit dan Puskesmas menjadi andalan dalam menangani stunting. Bukan hanya perihal pengobatan, melainkan juga dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. "Memang saat ini (tingkat stunting-red) Bangka Tengah masih pada posisi 20 persen," kata Algafry.

Namun, dari intervensi yang dilakukan, Algafry yakin, sedikit demi sedikit sampai 2023, angka stunting di Bangka Tengah tinggal satu digit saja.

Lanjut dia, upaya ini terus dilakukan dengan melibatkan semua OPD. Pasalnya ini adalah tugas berat yang perlu dilakukan, termasuk mengidentifikasi dan mencegah hal-hal yang dapat memicu terjadinya stunting. "Jujur saya akui, di Bangka Tengah, salah satu yang sedang kami kejar adalah perihal ODF," terangnya.

ODF atau Open Defecation Free disebut juga dengan buang air besar sembarangan. Algafry berujar, dari data ODF Bangka Tengah, diketahui bahwa saat ini Kecamatan Koba termasuk kategori ODF yang paling tinggi, terutama di Desa Kurau Barat dan Kurau Timur.

"Masalah kesehatan ini bukan hanya tugas Dinas Kesehatan saja. Inilah yang harus kita pahami bersama," ujarnya.

Selain itu, dirinya juga turut menyoroti perihal Posyandu. Menurutnya, peran Posyandu sangat penting. Dia menegaskan, apabila ada camat yang tidak mengenal dan mengetahui kondisi stunting di wilayahnya maka dengan berat hati akan diganti.

"Saya sudah sampaikan berkali-kali, kalau sampai camat tidak mengenal kondisi stunting yang ada di desa-desanya, maka mohon izin akan saya ganti (copot-red)," tegasnya.

Menurutnya, hal ini harus betul-betul menjadi prioritas untuk menyelesaikan perihal stunting yang merupakan program nasional ini. "Ini adalah tugas kita semua sebagai pelaksana di lapangan dalam melayani masyatakat. Kalau tidak mau, maka tidak usah menjadi pejabat publik," jelasnya.

Sebelumnya, Kelompok Kerja Operasional Pos Pelayanan Terpadu (Pokjanal Posyandu) Bangka Tengah melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi tentang peran posyandu di masyarakat. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka menggerakkan kembali posyandu-posyandu yang kurang aktif serta menangani perihal kasus stunting.

Wakil Ketua Pokjanal Posyandu Bangka Tengah, drg Eva Algafry mengaku, ingin mengubah paradigma perihal posyandu. Menurutnya, posyandu bukan hanya milik Dinas Kesehatan, Puskesmas ataupun pengurus Keluarga Berencana (KB).

"Kita ingin mengubah paradigma berpikir bahwa sebenarnya posyandu ini adalah punya pemerintah atau masyarakat desa," ucapnya.

Dirinya berharap, agar pemerintah desa aktif menggerakkan posyandu di desanya masing-masing, terutama dalam hal penanganan stunting. "Stunting ini bukan hanya sekedar permasalahan makanan, tapi juga masalah pola asuh. Maka dari itu, posyandu sangat bisa melakukan deteksi awal terjadinya stunting," ujarnya.

Pasalnya menurut dia, balita dan anak-anak yang datang rutin setiap bulan ke posyandu akan lebih mudah didata dan dipantau tumbuh kembangnya. Dengan begitu, jika sudah diketahui ada gejala-gejala kurang gizi, maka akan lebih mudah dilakukan intervensi sejak awal agar stunting jangan sampai terjadi.

Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman mengakui, kegiatan ini adalah komitmen bersama untuk menyukseskan peran posyandu. "Posyandu ini sangat penting bagi masyarakat, maka dari itu mari kita bersama-sama menggerakkannya," kata Algafry.

Ia berujar, Kabupaten Bangka Tengah memiliki 140 posyandu yang tersebar di setiap desa dan kelurahan. Sesuai dengan data laporan triwulan ke-III tahun 2022 dilaporkan bahwa jumlah posyandu aktif (posyandu purnama dan mandiri) di Kabupaten Bangka Tengah yaitu sebesar 103 posyandu (73 persen) dari 140 posyandu yang cakupan kegiatan utama posyandu telah mencapai 50 persen.

"Di samping itu, posyandu juga memiliki penting dalam penanganan stunting, mulai dari langkah preventif dan promotif kepada masyarakat," ujarnya.

Dengan demikian, maka peningkatan status gizi masyarakat serta upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak bisa terus dipantau agar kasus stunting tidak terjadi lagi. (u2)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved