Kabar Belitung

Ekspor Hasil Perikanan di Belitung Capai Rp500 Miliar

Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Bangka Belitung mencatat capaian ekspor ikan mencapai Rp500 miliar.

Editor: Rusaidah
Dok. Pos Belitung
Kepala BKIPM Bangka Belitung Dedy Arief Hendriyanto saat berdialog di Ruang Kita Pos Belitung. 

TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Bangka Belitung mencatat capaian ekspor ikan mencapai Rp500 miliar. Di tahun ini, ekspor hasil perikanan menurun dari sisi jumlah namun dari sisi nilai terbilang tinggi.

Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Bangka Belitung Dedy Arief Hendriyanto mengatakan, khusus di Belitung, ekspor hasil perikanan selama 2022 memang menurun dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Di Bangka Belitung, Belitung juga masih menjadi pengekspor ikan hidup karena memiliki kampung budidaya kerapu dan sentra budidaya kerapu. Namun tahun ini ekspor kerapu hanya mencapai 33 ribu ekor, sedangkan di tahun-tahun sebelumnya bisa 2-3 kali lipat.

"Mungkin tahun depan kalau sudah normal, kami optimistis tahun depan meningkat," katanya, dalam Dialog Ruang Kita Pos Belitung yang disiarkan secara langsung melalui laman Facebook Pos Belitung, Rabu (28/12).

Di antara penyebab menurunnya ekspor ikan segar kerapu lantaran pasar Hongkong yang tutup karena pandemi, logistik berkurang, jumlah buyer di Hongkong yang terbatas serta belum bertambahnya supplier.

Melalui program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait kampung budidaya diharapkan memberikan semangat masyarakat untuk membudidayakan produk ekspor hasil perikanan.

"Selama ini ikan Belitung banyak ke Jakarta. Fungsi kami mendorong dan mendukung masyarakat, pengusaha, pemerintah daerah agar produk dapat langsung ekspor sendiri karena nilainya lebih tinggi," ujar dia.

Dedy menyebut, potensi ekspor hasil perikanan di Bangka Belitung pun sangat besar jika digarap langsung. Misalnya di Bangka, berdasarkan data di 2021, sebesar 20 ribu ton udang keluar di pasar domestik. Jika digarap ekspor, nilainya diduga bisa berkali-kali lipat.

Sama halnya dengan Belitung yang hasil perikanan seperti udang dikirim ke Jakarta atau Lampung. Jika digarap ekspor langsung, maka bisa memberikan pendapatan asli daerah (PAD) yang besar.

Selain ikan segar dan udang, potensi ekspor cumi dari Bangka Belitung pun menjanjikan. Apalagi cumi dari Bangka Belitung termasuk cumi terbaik Indonesia.

"Negara luar mencari cumi di sini dulu, cuma banyak yang tidak langsung ekspor, tapi melalui Jakarta karena perusahaan besarnya ada di Jakarta. Jadi lalu lintasnya domestik, tetapi ada juga yang ekspor," ucapnya.

Saat ini negara tujuan ekspor hasil perikanan di Bangka Belitung baru ke enam negara tujuan. Negara-negara tersebut yakni Australia, Vietnam, Taiwan, China, Malaysia dan Singapura.

Dedy mengatakan, sebetulnya potensi Timur Tengah juga meminta ikan dari Bangka Belitung. Namun negara-negara di Timur Tengah mensyaratkan harus dalam bentuk yang sudah dimakan atau ready to eat. Sementara ekspor yang saat ini dilakukan masih untuk ikan mentah.

"Mestinya harus menambah nilai tambah, ikannya harus diolah dulu bisa bentuk fillet, kalau udang jadi tempura. Timur Tengah dan Dubai juga membutuhkan itu," imbuh dia.

Di antara persyaratan yang harus diperhatikan jika mau mengekspor yakni tunduk pada peraturan yang mengikat dari negara tujuan. Kalau ikan hidup, tunduk pada aturan yang diterapkan Office International des Epizooties (OIE).

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved