Minggu, 12 April 2026

Kabar Belitung

Hadrah Berusia 150 Tahun Peninggalan Kakek Buyut Yusril Ihza Mahendra

Berwisata ke Belitung Timur tidak hanya bisa berkunjung ke destinasi wisata alam yang memikat, namun juga belajar budaya.

Editor: Rusaidah
Bangka Pos/Adelina Nurmalitasari
Permainan hadrah Mak Indi yang ditampilkan grup Sanggar An Nur di Desa Budaya Lalang. 

TANJUNGPANDAN, BABEL NEWS - Berwisata ke Belitung Timur tidak hanya bisa berkunjung ke destinasi wisata alam yang memikat, namun juga belajar budaya.

Di Desa Budaya Lalang, Belitung Timur, kesenian hadrah atau hadra masih dimainkan oleh kelompok masyarakat yang tergabung dalam Sanggar An Nur. Sanggar ini bahkan memiliki gendang hadrah berumur 150 tahun yang merupakan peninggalan kakek buyut Yusril Ihza Mahendra.

Aktivitas belajar hadrah akan menjadi pengalaman baru jika berwisata ke Desa Budaya Lalang. Tidak saja belajar pukulan dan irama memukul gendang hadrah, namun juga mengenal penuturan sejarah perjalanan kesenian ini hingga sampai di Negeri Laskar Pelangi.

Ketua Komunitas Desa Budaya Lalang Wira menyambut hangat saat kami berkunjung ke sana. Di teras rumah, bersama personil sanggar An Nur yakni Suhartono, Mulyadi, Saparudin, Harul, dan Sumantri kami duduk bersila sambil asyik mendengar suara hadra saat dimainkan kelima pria yang mahir puluhan tahun menggeluti kesenian ini.

Sanggar An Nur diduga merupakan sanggar tertua di Kecamatan Manggar. Hal tersebut lantaran dari gendang hadrah yang diperkirakan berusia 150 tahun.

Bahan kayu tawang gendang terbuat dari kayu besi atau disebut pula membalun atau ulin. Kerencengannya terbuat dari kuningan, berbeda dengan gendang masa kini yang menggunakan bahan seng. Gendang hadrah tersebut juga masih menggunakan sidak. Sidak berguna seperti stem pada alat musik gitar, sehingga suara yang dihasilkan pun berbeda.

Kesenian hadrah di Pulau Belitung merupakan kesenian akulturasi saat penyebaran agama Islam di Indonesia. Diperkirakan kesenian yang masih dilestarikan ini masuk dari wilayah Kalimantan Barat.

Menurut penuturan maestro hadrah di Desa Lalang Kek Ahad Bajeri, yang disampaikan kembali oleh Wira, dulunya kesenian ini hanya dipertunjukkan pada kalangan terbatas, yakni hanya untuk keluarga kerajaan.

Bahkan para pemain hadra ini disiapkan tempat khusus seperti kasur kecil dan tidak boleh ditempati orang lain. Makanan yang disajikan juga khusus. Kini kesenian ini masih digunakan pada adat pernikahan di Pulau Belitung.

Di Sanggar An Nur, hadrah yang dimainkan yakni hadrah Mak Indi dengan ciri khas tiga gendang. Gendang satu untuk suara bass, gendang kedua suara sedang dan gendang ketiga untuk suara tinggi. Selain hadrah Mak Indi, ada juga hadrah jenis hadrah bedungguk dengan ciri empat gendang yang banyak dimainkan di wilayah bagian selatan di Pulau Belitung.

Ada adab tertentu yang dipelajari ketika bermain hadrah di Desa Lalang. Mulai dari tata cara mengambil gendang, posisi para pemain, termasuk melantunkan syair berbahasa Arab.

Pukulan gendang pun bukan sembarang. Pemain gendang satu, dua, dan tiga memiliki pukulan berbeda. Nama-nama pukulan pun berbeda, dari hasil inventarisasi ternyata ada 114 pukulan hadrah. Di antaranya pukulan bujor terus, setrom, begilik, dan gelumbang. Pukulan dasar yang diajarkan saat berkunjung ke sana ialah bujor terus.

"Kami di Desa Budaya Lalang merangkul sanggar untuk mengembangkan, memanfaatkan, dan melestarikan kesenian hadrah. Bonusnya untuk pariwisata agar mendapatkan sisi ekonomi," kata Wira.

Meski syair pengiring hadrah berbahasa Arab, namun kesenian ini juga bisa dipelajari siapa saja tanpa memandang latar belakang agama. Sebagai gantinya, lagu pengiring yang dapat diganti dengan lagu kebangsaan seperti Halo-halo Bandung.

Selain belajar hadrah, ketika berada di Desa Lalang, jangan melewatkan berwisata sejarah dengan napak tilas ke tempat-tempat peninggalan era kejayaan timah dimasa kolonialisme.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved