Berita Bangka Selatan
Tren Penyakit Terus Meningkat, 21.086 Warga Bangka Selatan Idap Hipertensi
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mencatat sebesar 13,83 persen masyarakat di daerah itu menderita penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi.
TOBOALI, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mencatat sebesar 13,83 persen masyarakat di daerah itu menderita penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi. Hal tersebut dikarenakan masyarakat mengkonsumsi garam melebihi batas yang dianjurkan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB), Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin berujar, hingga semester pertama tahun 2024 tercatat sebanyak 21.086 masyarakat di daerah itu menderita hipertensi.
Penyakit tekanan darah tinggi tersebut banyak diderita oleh kaum perempuan dengan total 63,11 persen atau sebanyak 13.309 orang. Sementara jumlah kaum laki-laki menderita hipertensi jauh lebih rendah sebanyak 7.777 orang atau dengan prevalensi 36,88 persen.
"Berdasarkan data yang ada total masyarakat Kabupaten Bangka Selatan dari sebanyak 152.374 orang masyarakat usia produktif, sebanyak 21.086 orang di antaranya menderita penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi," kata Slamet Wahidin, Sabtu (3/8).
Slamet Wahidin memaparkan, tingginya penderita hipertensi di daerah itu dikelompokkan ke dalam empat kategori usia. Di mana untuk usia kurang dari 18 tahun tidak ditemukan masyarakat menderita hipertensi. Sementara prevalensi hipertensi rentang kategori usia 18-44 tahun mencapai 24,69 persen atau sebanyak 5.208 orang. Lalu, usia 45-54 tahun sebanyak 7.409 orang atau 35,15 persen serta usia 55 tahun ke atas berjumlah 8.469 orang atau 40,16 persen.
Menurutnya hipertensi adalah salah satu penyakit silent killer karena penyakit ini tidak menyebabkan gejala jangka panjang. Namun penyakit ini mungkin mengakibatkan komplikasi yang mengancam nyawa layaknya penyakit jantung.
Silent killer merupakan penyakit yang awalnya tidak menampakkan gejala sama sekali, tetapi dapat merenggut nyawa penderitanya secara tiba-tiba. Jika sudah parah, muncul komplikasi penyakit lain, atau dengan diagnosis dokter, maka penyakit ini baru diketahui.
"Lebih mengkhawatirkan untuk tren penyakit hipertensi terus meningkat setiap tahunnya. Diprediksi sampai akhir tahun jumlahnya akan terus bertambah," jelas Slamet Wahidin.
Di samping itu lanjut dia, terdapat beberapa penyebab tingginya masyarakat menderita penyakit hipertensi, namun pemicu utamanya yakni masyarakat mengonsumsi garam lebih dari 2.000 miligram per hari. Tingginya konsumsi garam di masyarakat patut diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko hipertensi.
Konsumsi garam berlebihan juga dapat meningkatkan risiko kematian akibat jantung dan stroke. Bahkan saat ini masyarakat menderita penyakit jantung koroner mencapai tujuh orang dan stroke 18 orang.
Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular atau jantung. Penyakit kardiovaskular ini menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia juga di Indonesia. Fokus pengendalian hipertensi di Kabupaten Bangka Selatan perlu ditingkatkan.
Selain upaya pencegahan, hipertensi pada masyarakat juga harus dikendalikan untuk mengurangi risiko komplikasi penyakit yang lebih buruk. "Dari penelitian pola konsumsi makanan dan asupan ggl yakni gula, garam, dan lemak. Kurang aktivitas fisik nah itu yang menentukan kecenderungan meningkat atau menurunnya tren penyakit tidak menular," ucapnya.
Kendati demikian kata Slamet Wahidin, sejauh ini masih banyak masyarakat yang tidak terdiagnosis karena ketidaktahuan akan hipertensi serta keterbatasan pada akses pelayanan kesehatan. Hipertensi memang tidak bisa disembuhkan, akan tetapi bisa dikendalikan untuk menghindari berbagai komplikasi yang berakibat fatal yang bisa menjadi beban ekonomi dan sosial pada masyarakat.
Masyarakat dapat memanfaatkan layanan di puskesmas untuk pencegahan di tingkat primer dan sekunder. "Sejak umur 15 tahun sampai dengan lanjut usia minimal setahun itu satu kali pernah cek skrining kesehatan," pungkas Slamet. (u1)
1.184 Orang Menderita Obesitas
LEBIH dari 1.184 orang masyarakat di Kabupaten Bangka Selatan, menderita obesitas atau kelebihan berat badan. Jumlah masyarakat menderita obesitas terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pola hidup yang tidak teratur menjadi penyebab tingginya jumlah penderita obesitas.
| Hadapi Penilaian Adipura 2026, Bangka Selatan Perkuat Sinergi Lintas OPD dalam Pengelolaan Sampah |
|
|---|
| Pemkab Bangka Selatan Usulkan Sumur Bor ke Kementan |
|
|---|
| Pemkab Bangka Selatan Perkuat Layanan Kesehatan Jiwa, ODGJ Berat Dapat Perhatian Khusus |
|
|---|
| Pemkab Bangka Selatan Gandeng BPKP Dongkrak PAD |
|
|---|
| Petani Mulai Manfaatkan Tiga Drone, Pemkab Basel Salurkan Pengelolaan Melalui Brigade Pangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220512-hipertensi-12.jpg)