Sabtu, 11 April 2026

Kabar Belitung Timur

Kisah Sukses Desa Limbongan dari Inisiatif Sanitasi hingga Berprestasi

Perjalanan Desa Limbongan menuju lingkungan yang bersih dan sehat dimulai dengan langkah berani pada akhir tahun 2022.

Editor: Rusaidah
Istimewa/Dok. Pos Belitung
Program Dialog Ruang Kita Pos Belitung dari Desa Limbongan, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Jumat (11/10). 

MANGGAR, BABEL NEWS - Perjalanan Desa Limbongan menuju lingkungan yang bersih dan sehat dimulai dengan langkah berani pada akhir tahun 2022, ketika pemerintah desa berkomitmen menjadikan Limbongan sebagai Desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Melalui berbagai sosialisasi dan kolaborasi dengan pihak ketiga, termasuk perusahaan tambang pasir kuarsa dan program binaan BCA, desa ini berhasil mewujudkan perubahan yang signifikan.

Kepala Desa Limbongan Dedi Sugianto mengungkap, bahwa proses menuju STBM tidak instan. Awalnya, masih ada sekitar 160 rumah yang belum memiliki sistem pembuangan limbah cair yang layak. 

Melihat ini sebagai tantangan, pemerintah desa mengambil inisiatif untuk membantu rumah-rumah tersebut dengan menyediakan tabung dan pemasangan pipa saluran. Selain itu, sebanyak 200 tempat sampah dibagikan ke seluruh warga, hasil dari kerja sama dengan pihak ketiga.

"Pada tahun 2018, kami sudah mendeklarasikan Desa Limbongan bebas dari buang air besar sembarangan (ODF). Namun, untuk mewujudkan STBM secara penuh, dibutuhkan usaha lebih. Sosialisasi dilakukan berulang kali, melibatkan ketua RT, kader, dan PKK untuk mendorong masyarakat mengubah perilaku menuju hidup lebih sehat," ujar Dedi, Jumat (11/10).

Langkah-langkah tersebut membuahkan hasil. Pada Agustus 2024, Desa Limbongan resmi mendeklarasikan diri sebagai Desa STBM. Keberhasilan ini membawa dampak positif bagi lingkungan desa, yang tidak hanya lebih bersih, tetapi juga lebih siap bersaing dalam berbagai lomba kebersihan dan kesehatan.

Desa Limbongan bahkan meraih berbagai prestasi, seperti Juara 1 Lomba Kampung Sehat tingkat kabupaten, Juara 1 Lomba Lingkungan Bersih dan Sehat tingkat kabupaten, serta peringkat ke-14 dalam Lomba Desa Wisata Nusantara.

"Keberhasilan di berbagai lomba ini sangat dipengaruhi oleh status kami sebagai Desa STBM. Kebersihan lingkungan adalah fondasi utama. Masyarakat juga semakin kompak, tak hanya menjaga kebersihan tetapi juga menata pekarangan rumah mereka. Jika dulu mereka banyak menanam bunga, kini mereka mulai beralih menanam sayuran," tambah Dedi.

Selain dari aspek kebersihan, keberhasilan Desa Limbongan juga ditopang oleh pendekatan yang dilakukan pemerintah desa kepada masyarakat. Dedi menekankan pentingnya keterlibatan langsung pemerintah dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Ia kerap turun langsung ke lapangan, baik di warung kopi maupun tempat berkumpul lainnya, untuk berinteraksi dan mendengarkan aspirasi warga. 

"Kami juga memberikan bantuan beras kepada seluruh masyarakat setiap dua bulan, tanpa memandang status ekonomi. Selain itu, pada 2022-2023, kami membagikan 13 ribu bibit sawit secara gratis dan memberikan pupuk gratis kepada petani. Langkah-langkah ini membuat masyarakat merasa diperhatikan, sehingga muncul timbal balik berupa partisipasi aktif mereka dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan," jelasnya.

Kesuksesan Desa Limbongan juga tidak terlepas dari peran pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Dedi menyebutkan bahwa sejak awal, perusahaan yang beroperasi di Limbongan telah berkomitmen untuk membantu pembangunan desa. Komitmen ini ditagih secara berkelanjutan, sehingga perusahaan tetap berperan dalam berbagai inisiatif desa.

Dari sisi kesehatan, Ridho Juli Asmanto, Kepala Promosi Kesehatan Puskesmas Gantung, mengapresiasi komitmen Desa Limbongan dalam mewujudkan STBM. Desa ini menjadi yang pertama di Kecamatan Gantung yang mendeklarasikan status STBM, menjadikannya tolok ukur bagi desa-desa lain di wilayah tersebut. 

Menurut Ridho, kunci utama kesuksesan Limbongan adalah komitmen yang kuat dari pemimpin desa, anggaran, serta kerjasama lintas sektor, termasuk dengan masyarakat dan pihak swasta.

"Setiap desa memiliki kemampuan yang berbeda-beda, tetapi dengan komitmen yang kuat dan pemanfaatan CSR, desa lain juga bisa mencapai apa yang Limbongan raih. Tantangan utama adalah mengubah perilaku masyarakat, yang membutuhkan waktu dan sosialisasi berulang," ujarnya.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved