Kabar Belitung
Inflasi Cenderung Landai, BPS Belitung Sebut Sinyal Kondisi Perekonomian Menurun
Perekonomian Belitung menunjukkan tanda-tanda tekanan serius di tahun 2024, terlihat dari inflasi yang cenderung landai.
PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Perekonomian Belitung menunjukkan tanda-tanda tekanan serius di tahun 2024, terlihat dari inflasi yang cenderung landai tetapi berpotensi mengindikasikan penurunan daya beli masyarakat, serta Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mengalami kontraksi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung, Baiq Kurniawati mengungkapkan, bahwa inflasi tahun kalender dan inflasi year-on-year (yoy) di Tanjungpandan hanya sebesar 1,68 persen, terendah kedua dalam satu dekade terakhir setelah tahun 2015.
Bahkan, kondisi inflasi ini terbilang lebih rendah daripada 2020 lalu saat terjadinya pandemi Covid-19 yang disebut-sebut mengalami penurunan ekonomi. Pada 2020 lalu, inflasi (yoy) Belitung berada di angka 2,11 persen.
"Inflasi Tanjungpandan memang masih berada dalam target pemerintah sebesar 1,5 hingga 3,5 persen, tetapi rendahnya angka ini dapat menjadi bahan evaluasi. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena daya beli masyarakat menurun, akibat pendapatan yang melemah sehingga masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uang," jelas Baiq, Kamis (2/1).
Dari 11 kelompok pengeluaran, tujuh di antaranya mengalami inflasi. Beras menjadi komoditas penyumbang terbesar dengan andil 0,49 persen terhadap inflasi yoy, menyusul lonjakan harga di awal tahun karena penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET).
Selain itu, sigaret kretek mesin juga memberikan kontribusi signifikan akibat kenaikan cukai tembakau, sementara ikan selar menyumbang inflasi di penghujung tahun karena pasokan nelayan berkurang saat permintaan masyarakat meningkat.
Namun, permasalahan tidak hanya terlihat dari inflasi. Ekonomi Belitung pada triwulan III tahun 2024 justru mengalami kontraksi sebesar -0,14 persen secara yoy, setelah sebelumnya masih mencatat pertumbuhan 2,52 persen di triwulan II. Secara keseluruhan, ekonomi Belitung tertekan hingga -2,66 persen pada triwulan III, menandai kontraksi yang cukup dalam.
Nilai PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) pada triwulan III tercatat sebesar Rp1.883,28 miliar, sementara atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp3.514,44 miliar.
"PDRB ini adalah indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu wilayah. Dengan tren yang ada, terlihat perekonomian Belitung sedang menghadapi tantangan," tambah Baiq.
Kondisi ini, menurut Baiq, menjadi refleksi perlunya langkah strategis untuk memperkuat ekonomi Belitung, baik melalui peningkatan daya beli masyarakat maupun stabilisasi sektor usaha. Meski inflasi tetap terkendali, tekanan pada PDRB menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi memerlukan perhatian khusus agar masyarakat dapat kembali optimis dalam menyikapi dinamika perekonomian ke depan. (del)
| Kejari Gandeng Kodim 0414 Belitung Jaga Stabilitas di Daerah |
|
|---|
| SMAN 1 Manggar Sabet Dua Kategori Juara Semarak Hardiknas |
|
|---|
| Kamarudin Hibahkan 16 Ha Lahan Pribadi untuk SMA Unggul Garuda |
|
|---|
| DPRD Belitung Minta Seleksi Calon Direktur BUP Tanjung Batu Patuhi Aturan |
|
|---|
| Seleksi Direktur BUP Tanjung Batu, Vina Tegaskan Jangan Ada Transaksi Jabatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/babel/foto/bank/originals/Rilis-berita-resmi-statistik-disampaikan-BPS-Kabupaten-Belitung-Kamis-21.jpg)