Kabar Pangkalpinang
Tradisi Cengbeng Membawa Berkah bagi Penjual Bunga
Momen Cengbeng yang menjadi tradisi tahunan masyarakat Tionghoa untuk berziarah ke makam leluhur, membawa berkah tersendiri bagi para penjual bunga.
PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Momen Cengbeng yang menjadi tradisi tahunan masyarakat Tionghoa untuk berziarah ke makam leluhur, membawa berkah tersendiri bagi para penjual bunga.
Misteri (55), warga Semabung, Pangkalpinang telah memanfaatkan momen ini sebagai peluang usaha selama 10 tahun terakhir.
Sejak subuh, tepatnya pukul 04.00 WIB, Misteri bersama anaknya sudah bersiap di area Pemakaman Sentosa, Pangkalpinang, Jumat (4/4). Ia menjajakan berbagai jenis bunga yang biasa digunakan dalam tradisi tabur bunga di makam leluhur.
"Tiap tahun jualan bunga sudah 10 tahun ini, kita jualan juga sudah tiga hari ini. Tapi tahun ini sepi dari tahun-tahun yang lalu. Mungkin karena ekonomi juga dan tidak seramai biasa. Biasanya kita bawa sekitar 70 ikat, pagi-pagi sebelum jam 7 sudah habis, ini masih ada," ujar Misteri kepada Bangkapos.com, Jumat (4/4).
Bunga yang dijual beragam, mulai dari bunga tabur seharga Rp15 ribu, bunga lili Rp35 ribu hingga bunga anggrek seharga Rp50 ribu per ikat. Menurutnya, bunga tabur menjadi yang paling diminati oleh para peziarah.
"Kita ambil bunga dari toko-toko bunga di Pangkalpinang, peminat lebih banyak ke bunga tabur," tuturnya.
Cengbeng merupakan momen penting bagi masyarakat Tionghoa untuk mengenang dan menghormati leluhur. Tradisi ini dilakukan dengan membersihkan makam serta menaburkan bunga sebagai bentuk penghormatan. Selain bunga, biasanya keluarga juga membawakan persembahan seperti makanan dan dupa.
Aina, satu di antara peziarah Tionghoa yang ditemui di lokasi, mengaku selalu membeli bunga setiap Cengbeng.
"Setiap tahun beli bunga buat ditaburkan di makam orang tua. Sudah tradisi keluarga," ucapnya. (t3)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/babel/foto/bank/originals/PENJUALAN-BUNGA-Penjual-bunga-di-kawasan-Pemakaman-Sentosa.jpg)