Selasa, 21 April 2026

Kabar Belitung Timur

Tradisi Cengbeng Momen Berkumpul Bersama Keluarga

Tradisi Cengbeng juga dimaknai sebagai momen untuk bersilaturahmi dan berkumpul bersama keluarga dari berbagai daerah.

Editor: Rusaidah
Istimewa/Dok. Yunita Karisma Putri
MEMPERSIAPKAN PERSEMBAHAN - David dan Keluarga sedang mempersiapkan persembahan sembahyang makam leluhur di Pekuburan Penirokan, Damar, Belitung Timur, Jumat (4/4). 

DAMAR, BABEL NEWS - Tradisi Cengbeng sebagai bentuk bakti kepada orang tua dan leluhur yang telah tiada. Namun tradisi ini juga dimaknai sebagai momen untuk bersilaturahmi dan berkumpul bersama keluarga dari berbagai daerah.

Hal ini diungkapkan langsung oleh David, warga Tionghoa yang datang ke Pekuburan Penirokan, Damar, Belitung Timur untuk melaksanakan tradisi Cengbeng, Jumat (4/4).

David yang berdomisili di Jakarta ini juga ikut merayakan Cengbeng bersama keluarganya yang datang dari berbagai daerah seperti dari Jakarta, Palembang, Bangka sampai Taiwan.

"Semua keluarga dari jauh-jauh dari berbagai daerah di Indonesia, kadang dari luar negeri juga pulang untuk berkumpul keluarga merayakan tradisi Cengbeng di Belitung Timur," ujar David.

Berkumpul menjadi makna tersendiri bagi David dan keluarga memaknai tradisi Cengbeng. Hal ini karena momen Cengbeng berbeda dengan perayaan Imlek yang dirayakan hanya dengan keluarga masing-masing. Namun di saat Cengbeng membuat semua keluarga berkumpul ke Belitung Timur, dimana daerah tempat leluhur dimakamkan.

"Makna Cengbeng untuk saya dan keluarga adalah berkumpul. Karena waktu Imlek masing-masing punya keluarga jadi merayakan di daerah masing-masing. Tapi untuk Cengbeng kita semua kembali ke daerah tempat leluhur dimakamkan sebagai bakti kepada leluhur," ujar David.

Selain itu, berkumpul bersama keluarga di momen Cengbeng menjadi lebih bermakna karena tradisi ini tidak memandang agama dan keyakinan sehingga perbedaan agama dan keyakinan dalam keluarga bukanlah suatu penghalang untuk berkumpul dan bersilaturahmi bersama.

"Momen Cengbeng ini menjadi momen penting, beda agama dan keyakinan bukan penghalang untuk seluruh keluarga berkumpul bersama," ujar David.

Tradisi Cengbeng ini dilakukan David dan Keluarga dari berbagai daerah sebagai wujud mengenang dan menghormati leluhur yang telah pergi. Selain itu, sebagai wujud jika tradisi Cengbeng ini masih terjaga di hati para generasi ke generasi.

"Kami ziarah dan sembahyang ke makam kakek dan nenek. Saya generasi ketiga di keluarga ini dan saya berharap tradisi ini akan tetap terjaga di setiap generasi ke generasi selanjutnya," ujar David. 

Tak seperti hari biasanya, suasana haru dan kekhidmatan mendalam lebih terasa di setiap makam yang ada di Pekuburan Penirokan, Damar, Belitung Timur.

Kebulan asap dan aroma dupa mengular di sela banyak keluarga yang duduk bersimpuh di depan makam.

Edi Candra, satu di antara ratusan warga Tionghoa yang datang ke Pekuburan Penirokan untuk melaksanakan tradisi Cengbeng, Jumat (4/4).

"Setiap tahun kami sebagai warga Tionghoa memperingati Cengbeng. Itu sudah jadi rutinitas saudara-saudara kumpul," ujar Edi.
Ia datang dari Bangka bersama keluarga pada tanggal 31 Maret 2025 lalu, sebagai wujud bakti kepada orang tua dan leluhur.
"Jadi tanggal 31 Maret kami datang, tanggal 1 April kami langsung melakukan bersih-bersih makam, supaya saat hari-H peringatan Cengbeng makam sudah siap untuk disembahyangkan," ujar Edi.

Edi mengaku sudah sejak pukul 06.00 WIB berada di Pekuburan Penirokan menyiapkan persembahan sembahyang untuk makam ibu dan bapaknya. Terlihat di kedua makam tersebut terdapat lilin dan aneka sesajian berupa buah-buahan, ayam, daging, nasi dan minuman yang disukai oleh orang tua Edi semasa hidup.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved