Berita Pangkalpinang
Banjir di Pangkalpinang Butuh Penanganan Komprehensif
Secara geografis dan topografi, Pangkalpinang memang berada di wilayah cekungan yang rawan banjir, terutama jika terjadi kombinasi hujan pasang laut
PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Bencana banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kota Pangkalpinang pada Senin (21/4/2025) lalu dinilai sebagai siklus yang akan terus berulang jika tidak ditangani secara komprehensif.
Demikian disampaikan Roby Hambali, dosen program studi teknik sipil Universitas Bangka Belitung sekaligus ahli hidrologi.
Roby mengatakan, banjir kali ini terjadi karena kombinasi antara curah hujan yang tinggi dan pasang air laut yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan.
Fenomena tersebut mirip dengan banjir besar di Pangkalpinang pada 2016, meski dengan skala yang lebih kecil.
"Ketika pasang laut terjadi, muka air di hilir akan naik dan mendorong air hingga ke hulu sungai. Ini yang disebut fenomena backwater atau air balik. Kondisi ini membuat air di sungai stagnan dan aliran dari saluran drainase kota tidak dapat mengalir sehingga terjadi genangan merata di banyak titik," kata Roby kepada Bangka Pos, Rabu (23/4/2025).
Secara geografis dan topografi, lanjut Roby, Pangkalpinang memang berada di wilayah cekungan yang rawan banjir, terutama jika terjadi kombinasi hujan dan pasang laut.
Banjir di ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini merupakan fenomena hidrologis yang akan terus berulang jika tidak diantisipasi dengan sistematis.
Menurut Roby, persoalan banjir tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Harus ada pendekatan teknis dan nonteknis dari hulu ke hilir.
Ia pun menyoroti ketimpangan siklus hidrologi akibat pembangunan kota yang tidak ramah lingkungan.
"Kurangnya intersepsi dan infiltrasi air menjadi masalah utama,” ucap Roby.
“Pohon-pohon di kota banyak ditebangi dengan alasan teknis, padahal dedaunan pohon berfungsi menahan hujan agar tidak langsung menjadi limpasan permukaan (surface runoff). Ditambah lagi, pembangunan perumahan yang masif tanpa ruang terbuka hijau turut meningkatkan debit air permukaan," sambungnya.
Menanggapi soal penggunaan pompa portabel yang selama ini dilakukan Pemerintah Kota Pangkalpinang, Roby menyatakan, kapasitas pompa tersebut tidak mencukupi. Pompa portabel hanya efektif untuk menguras genangan lokal akibat hujan.
“Tetapi untuk fenomena backwater, kita butuh sistem besar, pintu air dan pompa stasioner di hilir Sungai Rangkui," ujarnya.
Roby menyarankan Pemerintah Kota Pangkalpinang menempuh langkah jangka pendek dan panjang untuk mencegah banjir tersebut.
Di antaranya, normalisasi sungai dan kolam retensi yang ada untuk memaksimalkan kapasitas tampung, penegakan hukum terhadap aktivitas tambang ilegal di hulu sungai yang memicu sedimentasi tinggi, meningkatkan peran serta masyarakat dalam menjaga kebersihan dan menyediakan ruang terbuka hijau.
| Seleksi Terbuka JPT Pratama Pemprov Babel Mengerucut ke 3 Besar, Gubernur Hidayat Cari Sosok Terbaik |
|
|---|
| 53 Sekolah Ikut Popda Pangkalpinang 2026: Wadah Membangun Sportivitas di Kalangan Pelajar |
|
|---|
| Penuhi Panggilan Jaksa, Pimpinan DPRD Pangkalpinang Klarifikasi Anggaran |
|
|---|
| Juknis SPMB SMA/SMK 2026/2027, Pendaftaran Dibagi Dua Tahap |
|
|---|
| Tak Naikkan Tarif Pajak, Pangkalpinang Dongkrak PAD Lewat Optimalisasi Potensi yang Belum Tergarap |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/babel/foto/bank/originals/20250421_banjir-di-pangkalpinang.jpg)