Rabu, 8 April 2026

Berita Bangka Selatan

Harga Cabai di Kabupaten Bangka Selatan Anjlok

Harga cabai merah keriting di Kabupaten Bangka Selatan, anjlok menjelang Ramadan tahun 2025.

Bangkapos.com/Cepi Marlianto
PANEN CABAI – Beberapa orang petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sepakat Jaya, Desa Rias ketika melakukan panen cabai, Senin (24/2/2025). Sejak satu bulan terakhir harga beli cabai merah keriting dari para petani merosot hingga 50 persen. 

TOBOALI, BABEL NEWS - Harga cabai merah keriting di Kabupaten Bangka Selatan, anjlok menjelang Ramadan tahun 2025. Tak ayal, kondisi ini membuat sebagian besar petani cabai merugi. Petani berharap pemerintah segera ikut memikirkan solusi guna mengatasi permasalah ini. Sehingga harga cabai pada kalangan petani dapat kembali stabil.

Anggota Kelompok Tani Sepakat Jaya, Nastangin mengatakan, harga cabai di tingkat petani terjun bebas hingga 50-60 persen. Kondisi tersebut telah terjadi sejak hampir satu bulan belakangan dan kian parah dua pekan terakhir. 

Akibatnya, petani mengalami kerugian karena tidak sesuai dengan biaya operasional yang dikeluarkan. "Untuk harga cabai merah keriting tingkat petani saat ini turun," kata Nastangin, Senin (24/2).

Nastangin menjelaskan, semula harga jual cabai dari petani ke tengkulak mencapai Rp60.000 sampai Rp70.000 per kilogram. Kondisi tersebut berlangsung sejak momentum Natal dan Tahun Baru 2024 dan masih berlangsung sampai akhir bulan Januari 2025. 

Sedangkan pada pekan keempat bulan Februari 2025 ini harga beli cabai petani dari pengepul mencapai Rp30.000 per kilogram. Sementara harga jual cabai bagi masyarakat dibanderol Rp40.000 per kilogram dan masih bertahan sampai saat ini. 

Sepengetahuan petani merosotnya harga cabai lokal dipengaruhi banyaknya pasokan cabai dari luar daerah. Meskipun pasokan cabai melimpah, sayangnya tidak ada kenaikan daya beli masyarakat menjelang bulan puasa tahun ini di tengah kondisi perekonomian pascatimah melemah.

"Penyebabnya harga cabai petani turun karena banyak masuknya cabai dari luar daerah ke Kabupaten Bangka Selatan," jelas Nastangin.

Diakuinya, petani juga khawatir akan rugi karena saat ini biaya produksi telah meningkat akibat tingginya harga pupuk dan obat-obatan untuk tanaman. Belum lagi ditambah adanya serangan hama seperti lalat buah serta hama patek cabai

Setidaknya terdapat 11.000 batang cabai yang ditanam oleh sembilan orang yang tergabung dalam Kelompok Tani Sepakat Jaya. Belasan ribu batang cabai itu telah ditanam sejak bulan Juli 2024 silam dan telah dipanen selama enam bulan terakhir. 

Sebanyak 64 kali panen Kelompok Tani Sepakat Jaya mampu memproduksi sebanyak delapan sampai sembilan ton cabai. Dari hasil tersebut setidaknya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari petani yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga.

"Alhamdulillah masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pola pembagian hasil setelah panen," ujarnya.

Pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan agar memperhatikan harga penjualan komoditas pertanian di pasaran. Karena bidang pertanian adalah jantung kehidupan bagi masyarakat petani. Bila hal demikian tidak menjadi fokus perhatian pemerintah daerah, berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat petani.

"Alhamdulillah kami masih bisa bertahan walaupun tidak 100 persen. Harapan kita harga dipertahankan naik kisaran Rp80.000 per kilogram," pungkas Nastangin. (u1)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved