Rabu, 22 April 2026

Berita Bangka Tengah

2025, Ada 57 Kasus Kekerasan Anak di Bangka Tengah

Wakil Bupati Bangka Tengah, Efrianda menyoroti adanya indikasi kenaikan angka kekerasan terhadap anak di wilayahnya pada tahun 2025 ini.

(Bangkapos.com/Rifqi Nugroho)
Wakil Bupati Bangka Tengah Efrianda (kanan), usai membuka agenda rapat kordinasi pencegahan kekerasan terhadap anak, Selasa (21/10/2025). 

KOBA, BABEL NEWS - Wakil Bupati Bangka Tengah, Efrianda menyoroti adanya indikasi kenaikan angka kekerasan terhadap anak di wilayahnya pada tahun 2025 ini. Dari data yang ada, di tahun ini telah terjadi 57 kasus kekerasan kapada anak sampai dengan jumlah korban sebanyak 70 orang, hingga periode bulan September 2025. Sedangkan, di tahun 2024, terdapat 50 kasus kekerasan kepada anak dengan jumlah korban mencapai 80 anak.

"Dengan rincian di tahun 2025 terjadi pada anak perempuan 48 korban, sedangkan untuk laki-laki terdapat 22 korban," ujar Efrianda saat membuka agenda rapat kordinasi pencegahan kekerasan terhadap anak, Selasa (21/10).

Diakui Efrianda, dari jumlah tersebut, kekerasan seksual menjadi kasus yang paling banyak terjadi sejumlah 24 kali dan disusul kekerasan fisik kepada anak sebanyak 14 kali. "Kemudian ada kekerasan psikis satu kali, penelantaran empat kasus, perkawinan dan bullying masing-masing empat kali, pornografi satu, anak berkonflik dengan hukum 18 dan perebutan hak asuh anak dua kali," tambahnya.

Efrianda mengungkapkan, data juga menunjukkan jika kasus ini terjadi mereta di enam kecamatan yang ada wilayah Bangka Tengah. "Untuk daerah domisili tempat tinggal, Kecamatan Koba sejumlah 32 anak dan Kecamatan Namang empat anak. Kemudian Kecamatan Simpangkatis tujuh anak, Kecamatan Sungaiselan tiga anak, Kecamatan Lubuk Besar 11 anak dan Kecamatan Pangkalanbaru 13 anak," jelasnya.

Menurutnya, kenaikan angka kekerasan terhadap anak tidak hanya terjadi di Kabupaten Bangka tengah saja. Namun, hal ini terjadi secara merata di seluruh Indonesia. "Melihat kondisi anak-anak kita yang sedang dalam keadaan tidak baik baik saja maka kita sebagai pemerintah harus segera melakukan gerakan pencegahan secara masif dan terpadu, karena anak merupakan penerus kita ke depannya. Baik buruk sebuah bangsa ditentukan oleh baik buruknya SDM anak kita," katanya.

Kepala DPPKBPPPA Kabupaten Bangka Tengah, Wiwik Susanti mengatakan, peningkatan jumlah data tersebut tidak terlepas dari munculnya keberanian dan kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan pada anak tersebut.

Menurut Wiwik Susanti, adanya keberanian dan kesadaran dari masyarakat itu membuat kasus-kasus yang sebenarnya terjadi pada satu atau dua tahun lalu baru dilaporkan di tahun 2025 ini. "Kalau kita bandingkan dengan tahun 2024, ini kan baru bulan Oktober (2025) memang (angka kekerasan terhadap anak, red) mengalami peningkatan cukup signifikan. Tetapi peningkatan laporan ini, kejadiannya bukan hanya tahun ini, namun sudah lama-lama juga," ujar Wiwik Susanti, Rabu (22/10).

Diakuinya, masifnya edukasi dari pemerintah daerah membuat masyarakat mulai berani menyampaikan hal-hal yang sebelumnya mereka anggap tabu tersebut. "Prediksi kami, kejadian yang sebenarnya sudah dua atau tiga tahun ke belakang, kami kan sosialisasi terus, jadi tumbuh kesadaran masyarakat untuk berani melapor. Itu jadi salah satu faktor peningkatan tadi," tambahnya. (w4)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved