Jumat, 5 Juni 2026

Berita Belitung Timur

Ada Temuan 353 Kasus TBC, Dinas Kesehatan Beltim Tekankan Pentingnya Deteksi Dini 

Kasus penyakit tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Belitung Timur mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2025.

Tayang:
Editor: suhendri
posbelitung.co/Yunita Karisma Putri
RAPAT KOORDINAS - Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Timur menggelar rapat koordinasi tim percepatan penanggulangan tuberkulosis di ruang rapat kantor Bupati Belitung Timur, Rabu (10/12/2025). Kasus TBC di Beltim mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2025. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Beltim, ditemukan total 353 kasus pada tahun ini. Adapun pada 2024, Dinas Kesehatan Beltim menemukan total 271 kasus TBC. 

MANGGAR, BABEL NEWS - Kasus penyakit tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Belitung Timur mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2025.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Beltim, ditemukan total 353 kasus yang terdiri atas 351 kasus TBC sensitif obat dan 2 kasus TBC resisten obat.

Jumlah tersebut mencapai sekitar 80 persen dari target temuan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI, yakni 419 kasus.

Adapun pada 2024, Dinas Kesehatan Beltim menemukan total 271 kasus TBC yang terdiri atas 265 kasus sensitif obat dan 6 kasus resisten obat.

“Memang ada peningkatan tahun ini,” kata Kepala Dinas Kesehatan Beltim, Dianita Fitriani, usai rapat koordinasi tim percepatan penanggulangan TBC, Rabu (10/12/2025).

Dianita menjelaskan, meski ada kenaikan jumlah kasus dibanding tahun sebelumnya, peningkatan tersebut justru menjadi indikator baik dalam upaya pengendalian TBC.

“Tetapi di sisi lain perlu disyukuri karena penemuan tahun ini lebih bagus. TBC tidak bisa ditangani kalau penemuannya jelek karena sifatnya menular,” ujarnya.

Dianita menegaskan, meskipun tidak seagresif Covid-19, TBC tetap merupakan penyakit infeksi yang masif dan menyebabkan kematian.

Sepanjang 2025, tercatat 29 orang meninggal akibat TBC di Beltim.

“Penderita TBC ini walau positif belum tentu kelihatan. Biasanya ada gejala seperti batuk atau demam, tetapi kadang kuman sudah bersarang tanpa gejala jelas. Perjalanannya beda-beda tergantung kondisi tubuh masing-masing,” tutur Dianita.

Untuk penanganan, lanjut dia, pasien TBC menjalani pengobatan dalam jangka panjang, yakni sekitar 6 hingga 9 bulan, bergantung pada respons tubuh terhadap terapi.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi kesehatan, terutama jika mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh meski sudah minum obat.

“Lingkungan harus bersih dan sehat, itu kunci menghindari TBC. Kenali tubuh kita, kalau batuk tak sembuh-sembuh segera periksa. Jangan tunggu sampai terlambat,” ujarnya.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, Dianita juga mendorong masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat sebagai upaya pencegahan TBC yang erat kaitannya dengan kondisi lingkungan dan daya tahan tubuh. (y1)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved